Doja, Jurnalis, Profesor dan Atase, Lalu Keliling Dunia

Mengenal Prof Dr H Mustari Mustafa MPd, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok

Doja, Jurnalis, Profesor dan Atase, Lalu Keliling Dunia
Prof Dr H Mustari Mustafa MPd

Bagi anak rantau yang sekolah di kampung orang, jauh dari orang tua, maka mencari kerja sampingan menjadi hal yang lumrah. Atau, bagi sebagian orang lainya malah menjadi satu kewajiban hidup. Kerja sampingan itu, disamping membantu orang tua dari aspek biaya, juga menjadi bagian dari adaptasi budaya dengan masyarakat setempat, pun aktualisasi diri.

Dengan bekerja, apapun jenis pekerjaannya, akan memungkinkan anak rantau lebih banyak berkenalan dengan orang lain. Mereka akan banyak berhubungan dan banyak bercerita dan bercengkerama. Inilah pentingnya, bagi anak rantau untuk berinteraksi dengan banyak pihak. Intinya, sebagai perantauan, jika mereka mencari kerja sampingan, akan semakin banyak dan makin mudah berkomunikasi dengan masyarakat lokal, dimana ia berada, juga mengabdikan diri.

Kemudahan berkomunikasi sebagai implikasi dari hubungan baik dengan masyarakat lokal, akan membuat perantau setidaknya akan membantu meningkatkan kepercayaan diri dan semangat hidup mandiri. Dengan demikian, proses dan tujuan perantauan akan memberi angin segar yang mulai terasa damai.

Ini juga bermakna, seorang perantau sudah mulai menemukan jati dirinya, minimal sekali dapat keluar dari ketergantungan hidup atas kiriman dari kampung.

Hal ini pula yang dialami Mustari, seorang anak muda yang berasal dari Lembor Manggarai Nusa Tenggara Timur. Ia lahir di Siru, Manggarai barat/Nusa Tenggara Timur/NTT tanggal 30 September 1971. Akhir tahun 1980-an, ia merantau ke Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu, Makassar namanya masih dikenal sebagai Ujung Pandang. Dengan menaiki perahu bermesin kurang lebih dua hari dua malam, dari NTT ia tiba di pelabuhan Paottere, pantai Ujungpandang, sejejer dengan keberadaan Benteng Rotterdam.

Kuliah

Anak muda itupun mendaftar dan diterima di Jurusan Penerangan dan Penyiaran Agama Islam (PPAI) Fakultas Dakwah IAIN Alauddin. Ini, telah menjadi satu kegembiraan baginya. Kabar itu tentu, bukan hanya menggembirakan dirinya, juga kepada orang tuanya. Hanya saja, untuk menyampaikan hal itu kepada orang tua, ia tidak bisa langsung sekejap jempol memencet nomor telepon seluler seperti saat ini.

Meskipun niat dan pesan orang tuanya semula dari kampung adalah kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, namun ia terlambat tiba di Ujungpandang. Keterlambatan tiba di Ujungpandang itulah, yang menyebabkan niat semula tersebut kandas.

Untuk menyampaikan kabar gembira itu ke orang tua pun, perlu waktu berhari-hari. Kabar itu pun, disampaikan melalui pesan kepada keluarga yang ada di kota yang memiliki jaringan telepon rumah. Lalu, kabar itu dititipkan salam kepada orang tuanya yang jaraknya hampir 100 km dari kota. Demikianlah, hingga kabar itu sampai kepada orang tuanya.

Diterima di perguruan tinggi, tidak lantas membuatnya senang seratus persen. Apalagi mengingat orang tuanya, tidak bisa setiap saat mengirim uang kuliah dan ongkos rumah. Termasuk pembeli minyak tanah dan obat nyamuk.

Bersamaan waktu itu pula, kakaknya sedang kuliah di Fakultas Syariah IAIN Alauddin (kini kakaknya menjadi Ketua Pengadilan Agama Magelang). Maka perlu ada upaya menyiasati biaya hidup mereka. Gayung berambut, seorang temannya, sesama mahasiswa Fakultas Dakwah asal Bulukumba, menawarkan untuk tinggal di satu masjid. Letaknya dulu di seberang rawa-rawa, kawasan Toddopuli lima, Perumnas Ujung Pandang.

Agar dapat diterima jamaah dengan senang hati, ia harus ada menjalankan trik khusus. Itu pun menjalankan rencananya. Pada Magrib pertama, ia langsung jadi muazzin. Shalat Isya pun jadi imam. Ia mampu mengeluarkan suara sangat merdu, dan menampilkan seluruh kemampuan hafalan yang fasih dan sedikit “dipaksakan”.

Ia memaksakan diri agar suaranya memang benar-benar fasih, sesuai harakatnya. Kemampuan inilah, yang menjadi pintu pertama meraih simpati warga, juga jamaah masjid. Karena kesan pertama itu, tentu sangat penting untuk langkah-langkah berikutnya.

Malam pertama tidur dalam masjid tanpa kamar bersama Ibrahim teman sekampung. Di atas sajadah bagian samping dengan sarung yang dibawa dari kampung pemberian ibu tercinta, sesaat sebelum berangkat merantau. Jam empat subuh sudah bangun, seiring kokok ayam pertama. Tanpa disuruh, ia langsung membersihkan masjid, lalu mengaji atau tarhim. Ia tarhim langsung, bukan lewat kaset, kembali dengan sedikit memaksakan suara merdu.

Beberapa jamaah mulai berdatangan, dan mereka melihat langsung si anak muda ini. Setelah shalat subuh, jamaah berkumpul dan menawarkan agar anak muda ini mau tinggal di masjid : jadi imam, muazzin dan membersihkan masjid. Inilah yang disebut orang Bugis sebagai “doja“.

Pengurus masjid sepakat akan mencarikan rumah kepada anak muda ini. Kebetulan, ada satu rumah di samping masjid masih kosong. Dia pun tinggal di rumah itu, atas jaminan Pak RW.

Tidak hanya sebagai doja, anak muda ini pun mengajar mengaji bagi anak-anak sekitar masjid. Awalnya hanya sedikit saja santrinya, hingga tahun ketiga sudah mencapai seratusan orang.

Doja, Jurnalis, Profesor dan Atase, Lalu Keliling Dunia
Penulis (kiri) dan Prof Dr H Mustari Mustafa MPd, (kanan) Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok.

Tiga tahun menjadi doja bukankah waktu yang singkat bagi anak rantau. Upaya mencari jati diri, atau istilah meningkatkan jati atau tantangan baru, tak bisa dielakkan. Ia juga perlu ada regenerasi doja masjid. Masjidnya pun sering menjadi tempat ceramah teman-teman sealmamater, sehingga menjadi semacam laboratorium dakwah bagi Fakultasnya.

Kegiatannya pun semakin padat dengan kegiatan perkuliahan, dan menjadi menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ujungpandang. Dunia aktivisme mewarnai perjalanan hidupnya selama kuliah,terutama saat akhir perkuliahan sarjana. Di antaranya menjadi anggota presidium lembaga dakwah departemen agama propinsi Sulawesi Selatan, anggota pleno KNPI Ujungpandang, dan aktif di media masjid al Markaz al Islami Ujungpandang.

Setelah ia menyelesaikan kuliah S1 pada tahun 1995, dengan gelar Sarjana Agama (SAg), tantangan berikutnya telah ada di depan mata. Ia pun tak mungkin pulang kampung dengan tangan hampa. Informasi penerimaan dosen di lingkungan IAIN Alauddin menjadi daya tarik baginya. Keinginan untuk lulus jadi dosen sangat diharapkan.

Sambil mencari kerja, ia membantu Pak Sampo Seha menjadi asisten dosen di Fakultas Dakwah IAIN Alauddin serta aktif di Masjid Al Markas Al Islami sebagai jurnalis untuk buletin jumatan.

Tugasnya merekam dan mentranskrip ceramah jumat setiap khatib. Ketika itu Prof Halide baru pulang dari Riyadh Arab Saudi. Ia di sana sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh tahun 1990-an.

Sebagai Atase atau pejabat penting, si anak muda ini berfikir tidak cukup hanya merekam ceramahnya. Lebih dari itu, dia berfikir perlu wawancara langsung. Itu sebabnya, ia kemudian membuat perjanjian untuk wawancara. Bukan sebagai jurnalis media mainstream, tetapi sebagai reporter buletin jumatan masjid Al Markaz Al Islami.

Sang Profesor memberi saran padanya untuk ke Jakarta mempersiapkan diri kuliah di Jerman dengan bantuan Marwah Daud Ibrahim, pengurus beasiswa Orbit ICMI. Rekomendasi itu pun dijalani hingga sempat mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe Institute Jakarta.

Kurang lebih tiga bulan mengikuti kursus, ia diminta melakukan komunikasi dengan universitas-universitas di Jerman untuk menerimanya sebagai mahasiswa S2 jurusan Dakwah atau Studi Islam.

Sayangnya, hingga beberapa minggu kemudian, permohonannya belum mendapat jawaban. Keraguan mulai menderanya, hingga ia memutuskan untuk mengikuti tes dosen PNS (Pegawai Negeri Sipil) dengan kembali meminta pertimbangan dan dukungan Marwah Daud Ibrahim dan beberapa tokoh yang sempat ditemuinya.

Pada saat menanti pengumuman hasil ujian tes CPNS, ada hasratnya untuk pulang kampung. Menemui ibu dan ayah tercinta. Ia ingin minta doa restu kepada bapak dan ibunya.

Entah kebetulan atau ada harapan kuat, setelah meminta dukungan beberapa tokoh di Jakarta, di Ujungpandang, dan ia pulang minta restu ibunda tersebut. Tidak lama kemudian, ia mendapat berita gembira. Dalam pengumuman penerimaan PNS, ada 14 orang dosen IAIN Alauddin yang lulus. Salah satunya adalah anak muda ini. Maka berita ini pun segera menyebar, hingga ke kampung halamannya.

Waktu terus berjalan. Mengaji di almamater sebagai dosen. Tiba saatnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia pun mengambil magister pendidikan ilmu sosial di UNM Makassar. Pendidikannya itu selesai pada awal tahun 2000. Di masa kuliah S2 pun, ia bersama teman-temannya menginisiasi beberapa kegiatan ekstra antara lain seminar nasional dan beberapa kali diskusi publik tentang reformasi serta mendirikan lembaga kajian.

Saat itu, memang bangsa Indonesia memasuki era yang disebut reformasi. Aksi mendukung reformasipun ia lakukan bersama teman selamamternya di UNM yang secara moril didukung oleh pimpinan Pasca UNM waktu itu.

Tak lama setelah itu, ia melanjutkan sekolah pula ke jenjang berikutnya. Tujuannya kota Yogyakarta. Tepatnya di Universitas Gajah Mada, ia ambil program doktor dalam bidang filsafat. Suka duka dalam kuliah sudah menjadi pengalaman biasa baginya. Ia pun, baru dapat menyelesaikan pendidikan itu, pada akhir tahun 2009.

Awal tahun 2016, menjadi saat yang mungkin tidak dapat dilupakan. Setelah menanti hingga tiga tahun, surat yang ditunggu-tunggunya pun, akhirnya tiba dengan mesra. SK pengangkatan sebagai guru besar atau profesor dalam bidang filsafat pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar.

Bagi seorang dosen, selembar kertas dari negara dalam bentuk pengakuan sebagai guru besar merupakan pencapaian tertinggi. Pasalnya, tidak ada lagi pangkat akademik di atasnya. Sejak saat itu, bapak dari tiga orang putri ini resmi dipanggil dengan sebutan profesor.

Rejeki manusia memang Tuhan yang mengatur. Usaha harus dilakukan, tidak sekedar berdoa dan berharap. Usaha yang sungguh-sungguh pun, harus dijalankan. Kurang lebih satu tahun jadi profesor, datang lagi satu amanah dari negara.  Ia pun diangkat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok.

Kembali, kabar ini bukan berita biasa. Bahkan, berita ini boleh dikatakan sebagai sesuatu yang luar biasa. Pasalnya, tak banyak orang berkesempatan seperti ini.

Untuk menjadi profesor memang cukup sulit, tetapi menjadi seorang atase adalah sesuatu yang amat sangat langka. Bahkan untuk ukuran kampus UIN Alauddin Makassar dan kampungnya di Flores, ini adalah yang pertama.

Kini profesor yang dulu adalah anak muda penjaga masjid ini, telah memenuhi capaian tertinggi. Capaian yang “tidak dicita-citakan” secara langsung.

Hanya pernah terbetik dihatinya, terutama ketika berjumpa dengan beberapa tokoh termasuk saat mewawancarai Prof Halide Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh waktu itu.

Pengalaman ke luar negeri dalam rangka kegiatan akademik dan tugas selaku diplomatnya pun sangat banyak termasuk mengunjungi Arab Saudi dalam rangka ibadah haji.

Betapa mulianya tugas menjadi duta bangsa. Mengenalkan bangsa ini kepada masyarakat internasional. Selamat bertugas Prof Dr H Mustari Mustafa MPd, buah hati ibunda tercinta juga pujaan hati anak-anak pun keluarga terkasih.

Penulis: Haidir Fitriah Siagian, Phetchburi Bangkok, 241018