Matematika Seharusnya Menjadi Pendidikan Karakter

Mendikbud Prof Muhadjir Effendy saat menyampaikan keynote speech pada Sendikmad di UAD Yogyakarta, Sabtu (3/11/2018). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Matematika tidak hanya pada angka yang diajarkan kepada peserta didik. Tetapi pendidikan matematika diharapkan bisa membentuk karakter anak, meningkatkan endurance (daya tahan), konsentrasi, fokus, dan membuat anak pantang menyerah dalam menyelesaikan masalah.

Demikian dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP saat menjadi keynote speaker pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Ahmad Dahlan (Sendikmad) di Yogyakarta, Sabtu (3/11/2018). Sedikmad menghadirkan pembicara Dr Nanang Susyanto MSc dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Prof Dr Yus Muchamad Cholily MSi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Lebih lanjut Muhadjir mengatakan nilai-nilai karakteristik Pendidikan Matematika bukan pada benar dan salah. “Karena kalau hanya fokus pada benar dan salah, ketika diberi pekerjaan rumah (PR) dapat nilai seratus. Padahal itu yang mengerjakan ibunya,” kata Muhadjir.

Menurut Muhadjir, proses menyelesaikan soal matematika yang harus dikedepankan. Soal matematika itu banyak jalan untuk penyelesaiankannya. “Ini mungkin menjadi evaluasi bagi pendidikan matematika. Pelajaran harus ditekankan pada pembangkitan daya kritis anak, curiouscity (keingintahuan,red) anak untuk memecahkan masalah. Itu lebih penting dari pada benar dan salah,” katanya.

Muhadjir tidak sependapat jika soal matematika berbentuk multiple choice atau pilihan ganda. Sebab soal Matematika multiple choice tidak meningkatkan proses penalaran. Tetapi lebih pada keberuntungan, kalau kebetulan siswa mencoretnya betul maka akan mendapat nilai bagus.

Di era industri 4.0, kata Muhadjir, sekolah itu harus terbuka betul. Sistem zona merupakan salah satu cara untuk membangun keterbukaan. Sebab hubungan antara sekolah, lingkungan dan keluarga akan menjadi baik.

“Tidak mungkin keluarganya ikut mengurusi sekolah, kalau siswanya berasal dari daerah yang jauh dari sekolah. Kalau siswanya dari dekat lingkungan sekolah, kepedulian keluarga terhadap sekolah akan tinggi dan ini yang terjadi di negara-negara maju,” kata Muhadjir Effendi.

Di Jepang, siswa SD tidak ada yang diantar, sebab zona sekolahnya jalan kaki. Sedangkan jalan kaki menjadi bagian dari mata pelajaran. Kemudian di dalam kelas,
di belakang kursi siswa disediakan lap. Tujuannya setelah masuk kelas, siswa membersihkan meja kursinya sendiri menggunakan lap yang sudah disediakan. Sedang di hari Jumat, hari krida, dipersiapkan alat pel dan siswa diajari untuk mengepel lantai.

“Jangan heran jika ada jamaah haji dari Jepang membawa kantong plastik untuk tempat sampahnya. Itu tidak mengada-ada. Tetapi itulah karakter orang Jepang. Saya mempunyai mimpi guru-guru SD mengajari siswanya agar memiliki karakter seperti anak di Jepang,” ujarnya.

Di Indonesia, kata Mendikbud, siswa-siswa SD diantar menggunakan mobil. Mengantar siswa itu sambil pamer mobil dan sekolahnya juga bangga kalau pagi dan siang antrian mobilnya panjang. Hal itu bisa menjadi tanda kalau sekolahnya favorit.

“Tujuan sekolah bukan itu. Tetapi pendidikan karakter yang lebih penting. Sebab tanpa karakter yang kuat kita tidak bisa berharap,” katanya.