YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Pergilah ke Pasar Kakilangit di Desa Wisata Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Maka Anda akan merasakan sensasi berbeda yang tidak akan dijumpai di pasar tradisional mana pun di Indonesia. Kiosnya, pedagangnya, makanannya, juga para penjualnya. Semua menyatu untuk menciptakan suasana berbelanja di pasar tradisional ala tempo doeloe.

Pasar Kakilangit layaknya sebuah pasar yang sudah punah dan kini lahir kembali ditengah era revolusi industri 4.0. Karenanya meski berpenampilan sederhana, tetapi di balik itu semua, ada campur tangan teknologi informasi yang membuat pasar ini cepat populer di kalangan wisatawan.

Ya, Pasar Kakilangit adalah succes story destinasi wisata digital yang digagas Kementerian Pariwisata sejak 2017 lalu. Dengan menggandeng Generasi Pesona Indonesia (GenPi), Kemenpar berhasil menciptakan Pasar Kakilangit menjadi destinasi wisata baru yang tidak hanya elok dilihat dan dinikmati, tetapi juga indah diabadikan dalam rekaman digital.

Pasar Kakilangit menjadi pasar yang sangat unik. Desain dan lay out pasar yang  mencerminkan prototipe bangunan masa lalu, yang lekat dengan kayu dan bambu. Para pedagangnya, mengenakan baju tradisional Jawa seperti kain lurik dan kain batik. Pun makanan yang dijual, semua serba tradisional, seperti Gudeng Manggar, Kelanan, Blondo dan Wedang Uwuh.

“Pasar ini akan membawa setiap pengunjung pada suasana kehidupan masa lampau. Hal yang sudah tidak bisa kita jumpai dalam kehidupan nyata saat ini,” kata Sugeng, salah satu punggawa Pasar Kakilangit, sebutan untuk pengelola pasar, saat menara62.com menyambanginya akhir Oktober lalu.

Tidak hanya dari segi layout dan desain bangunan, Pasar Kakilangit juga memiliki keunikan dalam hal alat transaksi. Di pasar ini, pengunjung tidak diperbolehkan bertransaksi dengan mata uang rupiah, ATM atau kartu kredit. Pengunjung hanya boleh membeli dengan koin senilai 2,5 dan 10 yang bisa didapatkan oleh pengunjung di meja kasir. Satu kantung koin dihargai Rp30 ribu.

Koin-koin inilah yang disepakati para pedagang sebagai ‘mata uang’ Pasar Kakilangit,” jelas Sugeng.

Meski hanya duplikasi, tetapi pasar ini seperti sempurna membawa kita (Anda dan saya) untuk secara apik menjadi satu dari sekian banyak pemain dalam pertunjukan seni panggung era zaman kerajaan. Seni panggung dengan lakon pasar tradisional dan Anda adalah salah satu pemainnya.

Sugeng, pria yang sebenarnya lahir tahun 1990, seorang generasi milenilal, melakonkan sebagai punggawa pasar dengan segala pernak-perniknya, keramahan ala wong Jowo. Meski demikian pasar ini dikelola dengan menejemen kekinian dan profesional sehingga akan membuat semua pengunjung merasa nyaman.

Maka yang kemudian terjadi, setiap pengunjung tidak perlu direpotkan dengan kegiatan tawar menawar, tidak perlu dikhawatirkan dengan beceknya pasar, tidak perlu takut dengan tindak kriminal dan bentuk-bentuk ketidaknyamanan lainnya. Setiap pengunjung diharapkan bisa menikmati Pasar Kakilangit, berburu menu-menu jadul yang ada semacam kueku, gudeg manggar, wedang uwuh, tempe bacem dan lainnya sambil berfoto-foto.

Koin yang disepakati untuk transaksi di Pasar Kakilangit

“Intinya, silakan fokus untuk berfoto-foto. Cari spot yang bagus, hal-hal lain menjadi urusan kami,” kata Sugeng.

Waktu buka yang hanya hari Sabtu dan Ahad dengan durasi sekitar 8 jam membuat pengunjung harus merencanakan dengan cermat jam kunjungan. Jangan sampai, saat tiba di lokasi, hari sudah siang sehingga kios-kios sudah tutup dan barang dagangan sudah soldout.

Program destinasi digital

Pasar Kakilangit adalah satu dari sekian banyak destinasi wisata digital yang berhasil dikembangkan Kementerian Pariwisata. Memanfaatkan teknologi digital destinasi ini didesain dengan foto-foto dan suasana yang layak untuk menjadi heboh di dunia maya, viral di media sosial dan nge-hits di Instagram.

Itulah strategi marketing destinasi wisata yang kini dilakukan oleh Kemenpar. Strategi yang membidik kalangan milenial yang dalam kesehariannya memang akrab dengan digital.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengakui digital dan kaum milenial ada dua hal penting yang telah memberikan kontribusi sangat signifikan terhadap industri pariwisata.

“Pariwisata tumbuh pesat karena digital. Dan digital adalah bagian dari gaya hidup generasi milenial,” tutur Menpar.

Karena itu, Kemenpar menjadikan digital dan milenial sebagai garapan strategis sejak 2017. Munculnya destinasi wisata digital di hampir semua daerah adalah bagian dari upaya untuk menangkap pasar kaum milenial. Dengan cara demikian maka diharapkan generasi milenial tidak akan membelanjakan seluruh anggaran wisatanya ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Bangkok, tetapi juga mengalokasikan untuk wisata lokal.

Menurut Menpar, destinasi wisata yang memiliki spot instagramable saat ini menjadi incaran wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Karena itulah Kemenpar mendorong dibangunnya destinasi wisata digital di semua daerah.

“Tahun 2018 ini kami menargetkan ada 100 destinasi wisata digital bisa dibangun di 34 provinsi. Sebagian besar sudah terealisasikan dan saat ini sudah beroperasi,” tambah Menpar.

Dengan semakin banyaknya destinasi digital di Indonesia, Menpar yakin target 17 juta kunjungan wisatawan mancanegara hingga akhir tahun 2018 ini bakal terlampaui. Dan optimisme tersebut akan berlanjut tahun depan dengan menargetkan penambahan jumlah wisatawan mancanegara menjadi 20 juta orang.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Rizki Handayani, populasi generasi milenial yang mencapai 34 persen dari total penduduk Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi industri apapun termasuk industri pariwisata. Karenanya wajar jika pada tahun 2019 nanti, pasar industri pariwisata akan didominasi kaum milenial ini.

Sementara itu Asdep Industri dan Jasa Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit mengatakan tren kaum milenial dalam berwisata saat ini tidak suka tidur di hotel mewah dan sangat menghindari lunch di restoran. Mereka memilih untuk tinggal di homestay dan makan di warung-warung tradisional.

“Ini menjadi lahan yang potensial bagi industri pariwisata kita,” jelas Victoria.

Karena itu, konsep pengembangan destinasi digital menurutnya tidak cukup dengan menyediakan spot-spot yang indah, yang Instagramable, tetapi juga harus memperhatikan hal-hal lainnya. Kuliner dan penginapan yang tersedia harus bisa dinikmati oleh semua kalangan wisatawan.

Ia mengakui persoalan menu tradisional sering menjadi kendala wisatawan mancanegara saat mereka hendak makan. Contohnya di satu daerah, penduduknya memiliki kebiasaan suka makan pedas. Maka ketika industri pariwisata menggarap daerah tersebut, harus ada menu makanan yang sudah disesuaikan dengan lidah orang asing.

“Juga homestaynya, harus minimal standar bintang tiga, sprai harus berwarna putih,” lanjut Victoria.

Vicoria juga menyoroti adanya kebiasaan masyarakat yang hanya menempatkan posisinya sebagai follower, pengikut dalam pengembangan destinasi wisata. Ini membuat ide-ide tentang destinasi wisata yang muncul sebagian sekedar mengekor yang sedang menjadi tren. Cara demikian pasti akan membuat masyarakat cepat dilanda bosan dan jika tidak diantisipasi, sebagus apapun destinasi digital, pada akhirnya akan ditinggalkan pengunjung.

“Jadi pembaruan dengan ide yang kreatif dan inovatif menjadi kunci suksesnya industri pariwisata Tanah Air. Tidak terkecuali dukungan sarana prasarana termasuk alat transportasi,” tutupnya. (kholis dan tim)