Dato’ Sri Prof Dr Tahir saat memberi kuliah umum di UMY Yogyakarta, Rabu (7/11/2018). (foto : istimewa)
close

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Filantropis, Dato’ Sri Prof Dr Tahir, MBA mengatakan pendidikan merupakan sektor vital yang harus dibenahi bangsa ini supaya bisa bersaing dan maju. Selain itu, orang-orang Indonesia juga harus memiliki pikiran visioner agar bisa mengejar ketertinggalan.

Dato’ Sri Prof Dr Tahir mengemukakan hal itu pada kuliah umum di Ruang Sidang Gedung AR Fahruddin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (7/11). Kuliah umum yang mengangkat tema ‘Kemiskinan, Filantropi, dan Pemberdayaan Masyarakat’ ini diikuti pimpinan universitas, dosen serta mahasiswa Pascasarjana UMY.

Lebih lanjut Tahir mengatakan Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar dan kaya akan sumber daya alam. Luas negara ini terbentang dari timur ke barat di tengah garis khatulistiwa, sehingga mendapat julukan Zamrud Khatulistiwa.

Tetapi, semua kekayaan itu seakan-akan hilang percuma jika melihat kondisi bangsa ini yang semakin tertinggal dengan negara lainnya. “Pendidikan adalah cara untuk mengubah nasib suatu bangsa. Jika Indonesia mau maju, maka harus ada perubahan pada pendidikan Indonesia,” kata Tahir yang masuk deretan orang terkaya Indonesia.

Tahir menuturkan ada beberapa cara agar perguruan tinggi sebagai lembaga yang menghasilkan sumber daya manusia yang lebih baik. Perguruan tinggi harus bisa membuat suatu kurikulum yang berguna untuk 20 – 40 tahun mendatang.

Kemudian perguruan tinggi, katanya, harus bisa membuka kerjasama dengan berbagai industri untuk menerapkan ilmu yang sudah dipelajari mahasiswa. Penelitian itu suatu keharusan yang dilakukan oleh perguruan tinggi. “Walaupun penelitian menghabiskan dana banyak dan memakan waktu lama, tapi saya yakin suatu saat penelitian itu pasti berguna kedepannya, jangan hanya mau hasil yang bagus tanpa ada usaha yang panjang,” tandasnya.

Pendiri Tahir Foundation ini juga sangat menyayangkan apabila banyak perguruan tinggi hanya menghasilkan banyak sarjana tanpa mengedepankan kajian ilmu pengetahuan. “Jangan sampai perguruan tinggi meluluskan mahasiswanya tiap tahun tanpa ada hasil selama dia menjalani proses pendidikan yang maksimal,” imbuhnya.

Tahir menyampaikan ada empat tipe manusia di dunia dan salah satunya mampu mengubah dunia. Tipe pertama adalah orang bergerak dengan seadanya. Kedua, orang yang bertanggung jawab. Ketiga, orang yang memiliki komitmen. Keempat, orang yang mampu berfikir visioner.

Tahir meyakini dunia ini mampu berubah lebih baik apabila banyak orang yang berfikir jauh ke depan. “Pendidikan saja tidak cukup untuk mengubah dunia, dibutuhkan bantuan dari orang-orang visioner di dalamnya,” tandas Tahir.

Tahir berpesan kepada seluruh peserta kuliah umum, filantropi bukan suatu bentuk rasa iba terhadap orang lain, melainkan suatu komitmen yang harus dilakukan setiap orang. Kemudian ia pun mengatakan bahwa manusia harus keluar dari kotak yang mengekang dirinya untuk memulai sesuatu yang baru. “Kekayaan yang besar akan mendatangkan kewajiban yang besar pula,” ujarnya.