Serahkan Alat Laboratorium, Lazismu Dorong Santri Mengungkap Keajaiban Sains

SRAGEN, MENARA62.COM — Dinamika sains (science) dalam dunia pendidikan adalah kebutuhan. Dengan sains memungkinkan setiap mata pelajaran menawarkan informasi yang berbeda dalam kegiatan belajar-mengajar. Termasuk di pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Dalam pesantren dengan sistem pendidikan yang khas terbuka peluang untuk menggali khazanah integrasi kelimuan Islam dan Sains.

Seiring bertambahnya sumber-sumber belajar, baik berupa data, sarana, fasilitas maupun buku-buku penunjang yang digunakan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi kegiatan belajarnya.

Bagi Pesantren Sains (Trensains) di Sragen, Jawa Tengah, interaksi ilmu-ilmu umum dan Islam adalah ciri khasnya bagaimana metode pembelajaran dikemas dengan aktivitas sains yang kental. Sehingga memantik santri untuk menggali kreativitasnya secara inovatif.

Untuk menggarap potensi itu, Lazismu membuka jalan dengan memberikan bantuan alat-alat laboratium. Trensains menerima dana bantuan perlengkapan alat-alat laboratorium dari Lazismu senilai Rp337.246.000 yang secara simbolik diserahkan oleh Dr. Mahli Zainudin selaku Sekretaris Badan Pengurus Lazismu, disaksikan oleh Ikhwanushofa selaku Ketua Lazismu Sragen di Pesantren Sains, Sragen.

Mahli Zainudin mengatakan, dana tersebut akan dibelanjakan untuk melengkapi peralatan laboratorium Fisika, Kimia dan Biologi santri Trensains. “Jadi ke depan Trensains memiliki laboratorium standar selain laboratorium ayat-ayat semesta (AAS) yang sudah ada,” katanya.

Sejak berdiri, kata Zainudin, mulai dari proses pembangunan sampai dengan perkembangannnya saat ini Trensains didukung penuh oleh Lazismu sebagai program unggulan nasional.

“Kepada segenap panitia pengembangan Trensains, PDM Sragen dan Lazismu Sragen yang terus mengawal hingga terwujudnya, Lazismu mengucapkan terima kasih, terang Zainudin.

Segenap pengurus dan pengasuh Trensains juga mengucapkan terima kasih kepada Lazismu yang telah memberikan perhatian kepada Trensains yang merupakan ijtihad Muhammadiyah di abad keduanya.

Wakil Kepala Bidang Humas Trensains, Hakim Zanky, mengatakan Trensains dalam ciri khasnya belajar sambil riset. “Kegiatan riset santri ini diwadahi dalam dua program, yakni laboratorium AAS dan Science Project, ungkapnya.

Kedua program itu diluar praktikum dan kegiatan belajar-mengajar, kata Hakim. Laboratorium AAS telah berlangsung sejak Trensains berdiri pada 2014. “Ini adalah jiwanya Trensains,” jelasnya. Sementara Science Project diluncurkan pada September tahun kemarin, ungkapnya saat dihubungi Jumat sore (9/11/2018).

Harapannya dengan adanya bantuan alat laboratorium dari Lazismu ini dapat memaksimalkan kedua program diatas. Mimpi besar Trensains adalah ruang laboratorium yang representatif agar bisa diakses oleh masyarakat.

Dihubungi secara terpisah, perintis dan pendiri Trensains Agus Purwanto mengatakan, laboratorium tersebut menjadi sesuatu yang utama dalam pembelajaran IPA khsusunya biologi, fisika, dan kimia.

Agus menilai, tanpa laboratorium semua penjelasan mengenai fenomena alam akan bersifat abstrak dan sulit dipahami. “Selanjutnya, selain sebagai tempat kegiatan utama laboratorium ini dalam aktivitasnya nanti didesain ala Trensains,” kata Agus doktor Fisika Kuantum lulusan dari Universitas Hiroshima Jepang.

Agus menambahkan kehadiran Trensains merupakan jawaban atas kegelisahannya bagaimana umat Islam mampu memberikan kontribusi terhadap sains. Melalui pesantren sains ia berharap dapat mengembangkan fisika teori dalam lembaga pendidikan Islam yang mengedepankan sains dan agama.

Di samping mengembangkan kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris bagi para santri, Trensains juga membimbing santrinya untuk mempunyai kemampuan nalar matematik dan filsafat sains yang memadai. “Tahajud fisika adalah salah kegiatan uniknya yang menjadi ciri khas Trensains,” terangnya.
(na)