Pertalian Erat Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta

Pertalian Erat Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta
Pertalian Erat Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta

Pertalian Erat Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta. Diusianya yang ke-106 tahun, Muhammadiyah pulang ke “rumah” keduanya.

Situs Muhammadiyah.or.id melansir, dalam narasi sejarah, Muhammadiyah hadir di Solo merupakan hasil pertalian erat antara Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran. Diceritakan bahwa, saat itu KH Ahmad Dahlan kurang mendapat respon dari pihak Keraton Kasultanan Yogyakarta terkait beberapa idenya, ia kemudian bertemu dengan Penguasa Puro Mangkunegaran VI untuk menyampaikan ide atau gagasan tersebut.

Selain itu, bertemunya simpul pertalian antara Muhammadiyah dan Solo, dimulai dari sering diundangnya KH Ahmad Dahlan yang saat itu sebagai President Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah yang pertama ke Solo.

Diceritakan, undangan tersebut diajukan dari sekelompok cendekiawan Muslim yang berada di seputar Kasunanan Surakarta. Ketua Pimpinan Daerah (PDM) Solo, Subari menjelaskan, pengajian tersebut diikuti oleh para tokoh ulama Islam yang ada di Solo. Tersebut nama di dalamnya antara lain, Haji Misbach (1876-1924) yang kemudian memilih berjuang dengan Serikat Islam Merah, ia kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Kiai Merah”. Serta Muchtar Buchary (1899-1926) yang kemudian menjadi Ketua PDM Solo yang pertama (Sebelumnya masih bernama Muhammadiyah Cabang Surakarta).

“Karena Ketokohan para anggota pengajian, bisa dipastikan perkumpulan tersebut akan memiliki gerakan yang dinamis dan progresif,” ujar Subari.

Ia juga mengungkapkan, Muhammadiyah ada, berawal dari Pengajian yang bernama SATV yang merupakan singkatan dari Sidiq, Amanah, Tabligh, Vathonah. Pemilihan nama tersebut merupakan siasat Kiai (red; Ahmad Dahlan) karena saat itu Muhammadiyah masih dibatasi oleh Belanda hanya boleh aktif di wilayah Kasultanan Yogyakarta. Dipilihnya nama tersebut karena SATV adalah singkatan dari nama sifat-sifat nabi Muhammad SAW.

Lebih detail Subari menjelaskan, undangan yang disampaikan kepada KH Dahlan karena HB Muhammadiyah pertama ini memiliki pengetahuan tentang Kristologi.

“Salah satu anggota diskusi dalam perkumpulan tersebut mendengar kabar tentang kepopuleran Ahmad Dahlan, terlebih saat Ahmad Dahlan menantang debat Pastor utusan Belanda dalam melakukan Kristenisasi untuk wilayah Hindia Belanda yang bernama Domine Bekker,” ujar Subari.

Kemudian pada tahun 1917, pengajian SATV untuk pertama kali diselenggarakan bertempat di rumah saudagar batik yang bernama Harsolumekso. Baru pada tahun 1921 Beslit (Surat Putusan) Belanda membolehkan Muhammadiyah untuk membuka Cabang di seluruh wilayah Nusantara. Akan tetapi, dengan persiapan yang panjang dan matang, baru pada tahun 1923 SATV dibubarkan dan berganti nama menjadi Muhammadiyah Cabang Surakarta. Dimasa transisi dari SATV menjadi Muhammadiyah Cabang Surakarta, Muhammadiyah Pusat menunjuk Kiyai Muchtar Buchary, sebagai ketua pertama Muhammadiyah Cabang Surakarta.