Belajar Memilih Obyek Film dari Taufan, Pemenang GKFP 2017

Maman Wijaya, Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud bersama Taufan, pemenang GKFP 2017

JAKARTA, MENARA62.COM – Membuat film bisa dilakukan oleh siapa saja. Karena ide dari film itu termasuk pemilihan obyek tidak harus yang rumit dan muluk-muluk. Hal-hal sepele yang ada di sekitar kehidupan kita pun bisa dijadikan obyek film. Bahkan aktor dan aktrisnya juga bisa dipilih dari orang-orang yang tak populer.

Seperti yang dilakukan Taufan, pemenang lomba Karya Film Pelajar tahun 2017 lalu. Pelajar SMA Garut Jawa Barat kelas 2 tersebut mengambil obyek film dokumenternya dari kehidupan nelayan penangkap kepiting di Garut.

“Saya mengambil kehidupan Pak Jajang, nelayan penangkap kepiting di pantai Garut sebagai obyek film saya,” kata Taufan.

Idenya yang sederhana, tidak berarti hasil ceritanya juga sederhana. Cerita tentang perjuangan Jajang dalam menangkap kepiting saban hari dinilai tim juri sebagai film dokumenter terbaik karya pelajar tahun lalu. Dan Taufan bersama dua teman lainnya berhak mendapatkan hadiah uang tunai dan beasiswa untuk melanjutkan studinya di universitas.

Sosok nelayan Jajang diakui Taufan ditemukan di media sosial. Foto nelayan tersebut sempat viral di media sosial di Garut. Kisah perjuangannya menjadi nelayan yang penuh risiko dengan penghasilan yang tak seberapa.

Untuk membuat film dokumenter tersebut, Taufan mengaku sempat mengikuti kehidupan Jajang selama 4 hari. Mulai dari bangun tidur, aktivitas menyelam untuk mendapatkan kepiting hingga menjual hasil tangkapannya ke pasar.

“Ya, kisah ini menarik. Karena dibalik kepiting yang harganya sangat murah hanya Rp10.000 per kg, ada Pak Jajang yang harus bekerja keras sejak subuh hingga sore hari,” katanya.

Bermodalkan smartphone, drone dan peralatan sederhana lainnya, Taufan yang berhasil merekam aktivitas Jajang dari berbagai sudut, harus merelakan sebagian besar hasil rekamannya dibuang.

“”Saya hanya mengambil untuk durasi 12 menit saja. Sedang hasil rekaman yang durasinya lebih dari 1 jam harus dibuang,” tambahnya.

Taufan mengaku, membuat film dokumenter tak semata membuatnya menjadi terampil memilih obyek film yang menarik. Lebih dari itu Taufan menjadi paham bahwa untuk menghasilkan film berkualitas tidaklah mudah.

Karenanya, ia heran mengapa ada oknum yang tega melakukan pembajakan terhadap film-film yang ada. “Mereka curang, mereka jahat,” tukasnya.

Maman Wijaya, Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud mengatakan gelar karya film pelajar dari tahun ke tahun terus diminati pelajar dari berbagai wilayah. Tahun ini saja tercatat ada 242 film fiksi pendek dan 77 film dokumenter. Dari jumlah tersebut tim juri mengambil masing-masing 12 karya terbaik untuk mengikuti babak final yang digelar tanggal 21 hingga 23 November 2018.

Menurut Maman gelar karya perfilman untuk kalangan pelajar menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap film-film Indonesia.

“Melalui film kita bisa membangun rasa cinta tanah air dan peduli budaya bangsa,” jelas Maman.

Film lanjut Maman merupakan media yang telah berkembang pesat dalam era globalisasi saat ini dan memberikan peranan yang penting dalam masyarakat khususnya pelajar Indonesia. Peranan perfilman Indonesia telah berpotensi mengembangkan para generasi muda dalam memajukan karya, budaya dan citra bangsa Indonesia.