Menuju Era Baru Pelabuhan, IPC Benahi Tanjung Priok

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok tertata rapih. (kangdudi/menara62)

JAKARTA, MENARA62.COM– Cobalah melintas di PelabuhanTanjung Priok Jakarta Utara. Area bisnis yang dulu dikeluhkan akibat kemacetan yang panjang, kini sudah tertata rapih. Truk-truk raksasa pengangkut kontainer tidak lagi mengular di sepanjang jalan menuju tempat bongkar muat kontainer.

Truk-truk datang pergi sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Tidak ada lagi pemandangan truk parkir di badan jalan hanya untuk menunggu jadwal bongkar muatan tanpa kepastian. Pun mereka tidak perlu terjebak antrean di pintu masuk pelabuhan.

Padahal kemacetan di area Pelabuhan Tanjung Priok selama ini seperti penyakit kronis yang tak kunjung bisa disembuhkan. Berbagai upaya penataan, hingga menerjunkan petugas lalu lintas, tak mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap kemacetan.

Tetapi sejak IPC mengoperasikan buffer area atau kantong parkir sementara, kemacetan di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok mulai terurai. Buffer area yang diuji coba sejak awal Oktober 2018 lalu, membuat para pengusaha memiliki kepastian terkait bongkar muat barangnya  di pelabuhan Tanjung Priok.

Pelabuhan Tanjung Priok dimalam hari, terlihat cantik dan tertata rapih. (kangdudi/menara62)

“Dahulu kami dibuat stress dengan kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok. Apalagi kalau Jumat-Sabtu. Kontainer antrenya panjang. Kadang Minggu baru bisa bongkar muat. Sangat tidak efisien dan merugikan,” kata Andrea, pengusaha kopi yang mengekspor produknya ke sejumlah negara.

Kemacetan yang harus ditempuh pengemudi truk tak tanggung-tanggung. Untuk jarak yang hanya beberapa kilometer, harus ditempuh 5 sampai 6 jam.

Situasi tersebut berimbas pada meroketnya biaya logistik dan ancaman stagnasi. Selain itu, operasionalisasi truk kontainer juga menjadi tidak maksimal. Ini tentu membawa kerugian tak sedikit bagi pengusaha pengguna layanan pelabuhan Tanjung Priok.

Karena itu, Andrea bersyukur pada akhirnya Indonesia Port Corporation (PT Pelabuhan Indonesia II) atau IPC membangun buffer area, yakni kantong parkir sementara yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok. Fasilitas parkir sementara yang terletak di Jalan RE Martadinata tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi efektif untuk memangkas kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Buffer area yang sudah diuji coba sejak awal Oktober 2018 lalu memang lebih memberikan kepastian kepada sopir truk untuk masuk ke pelabuhan.

“Biasanya saya datang lebih awal, dengan tujuan supaya nggak terjebak macet. Meski jadwal bongkar muatan kontainer belum tiba,” kata Daru Subagyo, sopir kontainer.

Sejak dioperasikannya buffer area, Daru tidak harus terjebak kemacetan di area pelabuhan. Ia bisa membawa kendaraannya parkir di buffer area sambil menunggu jadwal bongkar muat kontainer tiba.

“Dua jam menunggu di parkiran, dengan jadwal yang sudah pasti tentu sangat membantu para sopir,” lanjutnya.

Direktur Operasional dan Sistem Informasi IPC Prasetyadi menjelaskan dibangunnya buffer area menjadi salah satu solusi memangkas kemacetan yang selama ini dikeluhkan sopir dan pengusaha.

Petugas pelabuhan Tanjung Priok saat mengatur lalu lintas truk peti kemas. (kangdudi/menara62)

“Penggunaan buffer area ini, akan membantu kelancaran arus barang dan kendaraan di dalam area Pelabuhan Tanjung Priok,” jelasnya.

Buffer area di pelabuhan Tanjung Priok memiliki luas sekitar 2 hektar. Dengan lahan parkir seluas itu, setidaknya ada 1.100 truk kontainer bisa parkir setiap hari.

Buffer area, lanjut Prasetyadi tidak sekedar tempar parkir sementara truk kontainer. Di area tersebut pengelola IPC menyediakan layar monitor berukuran besar yang terhubung dengan sistem informasi bongkar muat di pelabuhan secara realtime. Dengan cara seperti ini maka setiap pengemudi truk bisa memonitor jadwal untuk masuk pelabuhan. Dengan demikian, operasional di Pelabuhan Tanjung Priok lebih tertata, lebih cepat dan lebih mudah.

“Truk bisa parkir maksimal dua jam untuk menunggu antrean pelayanan di dalam terminal bongkar muat barang,” tambahnya.

Terintegrasi Gate Pass System

Sebelum dioperasikannya buffer area, General Manager (GM) IPC Cabang Tanjung Priok, Mulyadi mengatakan IPC sendiri telah menerapkan Gate Pass System (akses masuk otomatis area pelabuhan) di seluruh pos pintu masuk pelabuhan. Penerapan Gate Pass System ini merupakan bagian dari digitalisasi layanan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Kartu akses masuk yang digunakan di gate dan buffer area merupakan kartu uang elektronik TapCash (BNI), E-Money (Mandiri) atau Brizzi (BRI) yang juga dapat dipakai untuk transaksi di pintu tol maupun pembayaran lainnya.

Meski kebijakan Gate Pass System baru efektif diterapkan awal 2019, tetapi berdasarkan uji coba yang dilakukan sejak 3 bulan lalu, sistem ini membawa perubahan besar pada peningkatan kenyamanan dan keteraturan pengguna jasa di dalam pelabuhan.

Gate Pass System tersebut dilengkapi dengan pemasangan Vehicle Information System (VIS) yakni sistem informasi kendaraan. VIS dipasang disetiap gate sehingga semua kendaraan yang masuk area pelabuhan bisa membacanya.

‘Selain itu juga telah dilakukan pemasangan alat Sensor Sinar Optik atau Optical Beam Sensor (OBS) yang berfungsi membaca jenis kendaraan dengan akurasi mencapai 99,99 persen,” ujarnya.

Mulyadi menambahkan guna meningkatkan pelayanan mesin reader dalam menghindari tertabraknya palang pintu. Untuk mengantisipasi terjadinya kepadatan di pintu gate, disiapkan juga Mobile Reader di setiap line untuk mengantisipasi kepadatan di pintu gate.

Digitalisasi pelabuhan tersebut lanjut Mulyadi bisa menghemat biaya operasional perusahaan hingga 10 persen.

IPC optimis operasionalisasi buffer area dan Gate Pass System dapat mengurai kemacetan truk kontainer yang selama ini dikeluhkan pengguna Pelabuhan Tanjung Priok. Imbasnya, biaya logistik bisa dipangkas dan pengguna Pelabuhan Tanjung Priok lebih puas.

Perluas layanan kepabean

Terkait dimanfaatkannya buffer area dan diterapkannya Gate Pass System, Ketua DPW ALFI DKI, Widijanto berharap apa yang dilakukan IPC Cabang Tanjung Priok bisa menekan kemacetan yang selama ini dikeluhkan pengemudi maupun pengusaha. Ini sekaligus juga menjadi langkah nyata menuju digitalisasi pelabuhan.

Mengatur aktivitas bongkar muat di kapal di Pelabuhan Tanjung Priok (kangdudi/menara62)

“Era digital mengharuskan semua lini bisnis termasuk pelayanan di pelabuhan berbenah diri dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi,” katanya.

Meski memberikan solusi yang signifikan terhadap kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok, tetapi aktivitas lalu lalang truk kontainer dari buffer area menuju pelabuhan, berimbas pada kemacetan di wilayah sekitarnya. Keluar masuknya truk pengakut petis kemas kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Sigit Wijatmoko telah membuat delay traffic di sepanjang Jalan Yos Sudarso.

Terhadap situasi tersebut Widijanto mengusulkan selain kebijakan buffer area dan Gate Pass System, IPC perlu memperluas wilayah pabean Pelabuhan Tanjung Priok untuk fasilitas penyangga atau buffer tempat TPS peti kemas yang masih dalam pengawasan Bea Cukai tersebut. Penambahan perluasan wilayah pabean Priok dapat dilakukan ke arah barat (Jalan Martadinata) maupun ke arah timur (Cakung Cilincing dan Marunda) dengan mempertimbangkan kesiapan jumlah SDM Bea dan Cukai Tanjung Priok saat ini.

Seperti diketahui, pelabuhan merupakan pintu gerbang utama arus barang baik ekspor maupun impor dan pemindahmuatan antar moda transportasi. Pelabuhan sekaligus menjadi kunci penting dan strategis pertumbuhan perekonomian suatu negara. Karena hingga saat ini, 90 persen arus keluar masuknya barang dari dan ke luar negeri melalui laut. Itu artinya pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak terlepas dari keberadaan pelabuhan.

Kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi dengan membabat habis kendala-kendala lalu lintas di laut melalui pembangunan tol laut, deep seaport,  dan memangkas birokrasi logistik merupakan kebijakan pembangunan infrastruktur dan konekivitas maritim yang menjadi satu dari lima pilar menuju Indonesia Poros Maritim Dunia. (dudi iskandar dan inung kurnia)