Santri Harus Membiasakan Hidup Sehat dan Bersih

Sosialisasi hidup bersih dan sehat bagi santri pada Ponpes Muhammadiyah se-Jabar, DKI Jakarta dan Banten.

GARUT, MENARA62.COM – Gandeng Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Pimpinan Pusat Muhammadiyah gelar sosialisasi perilaku hidup sehat (PHBS). Kegiatan yang diikuti perwakilan pesantren Muhammadiyah se-Jabar, DKI Jakarta dan Banten tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Darul Arqam, Garut, Jabar, Minggu (25/11).

Dalam sambutannya, Mudir Ponpes Darul Arqam Garut H Rufan Latif S.Ag mengatakan perilaku hidup sehat dan bersih adalah sangat penting. Karena itu setiap individu, setiap santri harus membiasakan pola hidup bersih dan sehat.

“Hidup bersih dan sehat dimulai dari diri sendiri dengan menjaga kebersihan dan kesehatan. Bila sudah mulai dari diri sendiri baru kemudian ke lingkungan yang lebih luas, yakni keluarga dan masyarakat,” jelasnya.

Acara bertema Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagai Perwujudan Pesantren Muhammadiyah Berkemajuan tersebut dihadiri oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, Dr. H. Maskuri, M.Ed, Bupati Kabupaten Garut yang diwakili oleh H. Asep S. Farouk selaku Asisten III Bidang Administrasi Umum, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Arqam Garut, H. Ruhan Latif, S.Ag serta pengasuh pondok pesantren dan santriwan-santriwati.

Bersih dalam hal ini lanjut Ruhan memiliki makna bersih hati, pikiran, fisik dan lingkungan.

“Perilaku ini senafas dengan pepatah kebersihan sebagian dari iman. Artinya kebersihan harus menjadi karakter seorang muslim,” katanya.

Hal ini juga sekaligus menjadi otokritik bagi kehidupan pesantren. Artinya dengan acara ini ada informasi berupa masukan-masukan untuk lingkungan pesantren, bisa metodologi pembelajaran atau lainnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ponpes harus memaknai sampah menjadi berkah. Bukan sebaliknya, memaknai sampah menjadi masalah.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, Dr. H. Maskuri, M.Ed, mengatakan, perilaku hidup sehat dan bersih merupakan cara pandang yang berkemajuan. Dalam konteks pesantren, santri harus hidup sehat dan bersih.

“Kebiasaan santri itu bermacam-macam dalam perilaku hidup sehat dan bersih. Maka perilaku ini harus ditanamkan agar jika sudah terjun ke masyarakat membawa pola pikir hidup yang bersih,” jelasnya.

Maskuri menilai santri hidup tidak di ruang hampa. Ia akan hidup di rumah, masyarakat, dan dalam jangka waktu yang panjang.

“Ikhtiar pembiasan ini sebagai budaya yang luhur di lingkungan ponpes. Jadi selaras dengan apa yang disampaikan mudir bersih harus dimulai dari diri sendiri, selain bersih spiritual dampaknya juga akan memengaruhi kebersihan dalam tata kelolanya,” jelasnya.

Sebelum membuka acara secara resmi, Bupati Kabupaten Garut, yang diwakili oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum, Asep. S Farouk, mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini di Garut. Pemerintah terbantu dengan adanya sosialisasi ini.

“Saya juga melihat lingkungan ponpes di sini sudah baik. Semoga perilaku hidup sehat di lingkungan ponpes terus terjaga,” katanya.

Hal ini bertalian dengan angka harapan hidup manusia. Asep menambahkan harapan hidup itu ditentukan oleh perilaku hidup sehat dan bersih yang didukung oleh lingkungan yang sehat juga.

Di kesempatan berbeda, pasca pembukan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat sehat, di depan pengasuh ponpes dan santriwan-santriwati, Dr. H. Usin Muhsin, AV selaku penyampai meteri juga mengupas perilaku positif yang dilakukan santri, guru, pengelola, petugas kantin, dan lain-lainnya.

“Menanamkan kesadaran ini penting untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, serta aktif dalam menjaga lingkungan sehat di ponpes,” paparnya.

Muhsin menilai tujuannya untuk menggandakan pengetahuan, perubahan perilaku dan sikap entitas lingkungan pesantren terutama terhadap program kesehatan lingkungan dan gaya hidup sehat.

Indikatornya menurut Muhsin bisa diukur dari kebersiahan individu, penggunaan air bersih, kebersihan tempat wudhu dan jamban, kebersihan masjid, kebersihan asrama dan kepadatan penghuni asrama. (tr)