Menristekdikti saat melihat dari dekat laboratorium terkoneksi di UGM. (ist)

YOGYAKARTA, MENARA62.COM – Universitas Gadjah Mada kini miliki laboratorium terkoneksi yang super canggih. Laboratorium tersebut dibangun hasil kerjasama dengan perusahaan teknologi Honeywell asal Amerika Serikat.

Honeywell Laboratory merupakan laboratorium canggih dengan sistem otomasi yang dapat dioperasikan secara terhubung. Sebelumnya, Honeywell Lab juga sudah ada di Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia. Kini laboratorium di tiga perguruan tinggi tersebut dapat terhubung dan berbagi sumber daya melalui teknologi canggih yang disediakan.

“Saya merasakan dunia pendidikan tinggi hanya asik dengan dirinya sendiri dan tidak mau berkolaborasi. Melalui laboratorium ini nantinya dapat terjadi kolaborasi dan menciptakan inovasi baru,”  tutur Menristekdikti Mohammad Nasir saat meresmikan Lab Honeywell, Rabu (28/11).

Hal lain dari keberadaan lab tersebut adalah meningkatnya daya saing bangsa. Daya saing ini yang paling dominan adalah pada kearning process dan inovation.

“Negara disebut pemenang bukan karena banyak sumber daya alamnya, bukan juga karena banyak penduduknya, tapi negara pemenang adalah yang punya banyak inovasi,” ujar Nasir.

Menristekdikti juga menyampaikan, di era revolusi industri 4.0 ini kita perlu memikirkan bagaimana menghadapi bonus demografi. Hal ini karena sumber daya manusia, jika tidak dimanfaatkan dengan baik maka akan menjadi bumerang.

“Kita perlu meningkatkan daya saing generasi saat ini agar lebih kompetitif di mata dunia. Caranya dengan proses belajar yang baik dan bagaimana menciptakan inovasi. Salah satunya dengan media laboratorium Honeywell ini,” tandas Menristekdikti.

Pada kesempatan itu, Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada, Djagal Wiseso Marseno juga menuturkan bahwa adanya kerjasama dengan Honeywell menjadikan program yang dirancang dan didesain agar menarik untuk mahasiswa datang ke kampus bisa melakukan inovasi, menuangkan kreatifitas, jembatan antara universitas, industri, kemudian birokrasi hingga komunitas nantinya.

“Perpaduan antara empat stakeholder yang dituangkan kedalam sebuah produk yaitu software. Nantinya Honeywell bisa menjadi Honeymoon antara empat stakeholder, antara Universitas, Industri, Birokrasi, dan Komunitas,” tutur Wakil Rektor UGM itu.

Perwakilan Honeywell Indonesia, Sigit Yustinus juga mengharapkan agar jerih payah dan investasi yang dilakukan bersama dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perguruan tinggi terhormat ini dan memberikan manfaat bagi calon insinyur Indonesia.

Yustinus juga menjelaskan, Laboratorium Honeywell kali ini dilengkapi dengan platform Experion PKS Orion serta perangkat Augmented Reality dan Virtual Reality, untuk membantu mempelajari beragam aktivitas industrial yang rumit melalui proses simulasi seperti pengendalian dan alat dalam resiko tinggi.

Selain itu, teknologi Honeywell di UGM ini bermuara pada konektivitas cyber, yang akan memberikan kemampuan bagi para mahasiswa serta dosen untuk mensimulasi beragam proses industri hingga tahap ke pembuatan sistem baru, termasuk perangkat lunak.

Tampak hadir pada acara tersebut Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati, Asisten Keistimewaan Kantor Gubernur DIY, Didik Purwadi, dan sejumlah tamu undangan lainnya.