mbak tutut
Putri sulung Presiden Soeharto Mbak Tutut saat menghadiri maulid nabi. (ist)
JAKARTA, MENARA62.COM–  Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab disapa Mbak Tutut menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid  Darusaalam, Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (22/12). Kehadiran putri sulung Presiden Soeharto tersebut sekaligus dalam rangka memenuhi undangan dan bersilaturahim dengan jamaah Majelis Taklim Faqihatuddin.

Pada peringatan maulid itu, Mbak Tutut mengajak jamaah yang hadir senantiasa menanamkan sifat sabar. Sebab sabar merupakan salah satu akhlak yang diajarkan Rasulullah kepada ummatnya. Jadilah pribadi pemaaf atau tidak pendendam.

Mbak Tutut bercerita, sewaktu Presiden Soeharto memilih berhenti dari jabatannya, ia dan anak-anak Soeharto lainnya dipanggil menghadap. “Waktu Bapak berhenti jadi presdien kami anak-anaknya dipanggil,” ujar Mbak Tutut, Sabtu (22/21).

Ayahnya, lanjut Mbak Tutut waktu itu mengutarakan niatannya untuk berhenti menjadi Presiden karena sebagian rakyat Indonesia menginginkannya.”Kenapa Bapak berhenti, karena sudah diminta rakyat,” ujar  Mbak Tutut mengingat kembali kejadian 20 tahun silam.

Baca juga:

Pernyataan Soeharto membuat anak-anaknya terkejut, “Pak kenapa, Bapak tidak melakukan sesuatu, karena yang sayang Bapak juga banyak,” ujar Mbak Tutut.

Saat itu, Ayahnya kata Mbak Tutut menolak usulan anak-anaknya. Dengan alasan jika tetap dilanjutkan menjadi presiden, Indonesia bisa terlibat perang saudara. Karenanya ayahnya kemudian meletakkan jabatan sebagai presiden RI secara legowo.

Di sela-sela perbincangan itu, Soeharto sempat berpesan kepada putra-putrinya. Dia ingin anak-anaknya menjadi pribadi penyabar. Ia juga meminta agar mereka tidak menjadi pendendam. “Sampai saat ini kami terus mengikuti kata Bapak, ingat sabar dan jangan dendam,” tutur Mbak Tutut.

Mbak Tutut merasa bersyukur karena lahir dari seoarang ayah dan ibu yang teguh memegang ajaran Rasulullah. “Bapak ternyata mengikuti apa kata rasul yang selalu sabar dan tidak pernah dendam. Alhamdulillah, saya lahir dari orang tua saya yang demikian,” tuturnya.

Mbak Tutut
Mbak Tutut saat bercerita tentang kenangan ayahnya Presiden Soeharto

Pada kesempatan itu, tak sedikit jamaah yang curhat kepada Mbak Tutut tentang kerinduannya dengan gaya kepemimpinan Soeharto. Salah satunya Maimunah, seorang jamaah asli Tegal. Ia merasa kepresidenan sekarang ini jauh kualitasnya dibanding 32 tahun lalu. Maimunah mengungkapkan perasaannya sambil menahan tangis. Berkali-kali Tutut merangkul Maimunah menenangkannya.

Kerinduan yang sama juga diungkapkan Kyai Munahar Mukhtar, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta. Pada awal ceramahnya, ia mengajak jamaah turut mendoakan Tutut dan keluarganya.

“Mbak Tutut kita doakan sehat terus, kita kangen sama zaman Pak Harto. Mudah mudahan besok sama pemimpinnya seperti Pak Harto,” kata Munahar.

Umanah Hulwani Hidayat, Pimpinan Majelis Taklim Faqihatuddin merasa senang Mbak Tutut bersedia memenuhi undangannya. Dia mengaku, sudah lama menantikan kehadiran Mbak Tutut di majelisnya.

“Mudah mudahan putri (mantan) presiden kita bisa hadir sebagai hadiah hari ini. Ada sekitar lima ribu jamaah yang hadir, mudah-mudahan terlepas semua capeknya. Kemaren kita cuma bisa lihat Mbak Tutut di televisi doang, sekarang  ayo dipandangi,” katanya mencairkan suasana jamaah.