Masih Ada Anak Putus Sekolah Di Kudus
Slamet Daryanto (15) warga Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus, tengah berjualan gandos di tepi Jalan Nitisemito, Kudus, Jawa Tengah. Dia terpaksa tidak melanjutkan sekolahnya saat duduk dibangku kelas VIII SMP karena tidak memiliki biaya, Senin (7/1). (FOTO: Akhmad Nazaruddin Lathif)

KUDUS, MENARA62.COM — Senin (7/1/2019), anak putus sekolah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, masih terjadi. Padahal, pemerintah daerah setempat memberlakukan program wajib belajar 12 tahun, dengan biaya pendidikan hingga jenjang SMP ditanggung oleh pemerintah alias gratis.

Salah satu anak yang putus sekolah, yakni Slamet Daryanto (15) warga Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus. Ia tidak bisa melanjutkan sekolahnya saat dibangku kelas VIII SMP.

Andri Dwi Astuti (46), orang tua Slamet Daryanto di temui di rumah kontrakannya di Desa Pasuruan Lor, Kudus, mengakui, anaknya tidak bisa melanjutkan sekolahnya, sejak ayahnya meninggal pada tahun 2016, menyusul tidak adanya pemasukan penghasilan untuk keluarganya.

“Karena sering telat membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), akhirnya pada tahun 2017 dia tidak melanjutkan sekolahnya karena malu,” ujarnya Andri, didampingi Slamet Daryanto.

Selama tidak melanjutkan sekolah, kata dia, anak semata wayangnya itu hanya menjadi pengangguran. Untuk menghindari pergaulan yang tidak benar, akhirnya sejak dua bulan terakhir anaknya itu diminta untuk mencari pekerjaan.

Akhirnya, kata dia, ada tetangganya yang menawarinya menjadi penjual gandos karena tidak membutuhkan lamaran kerja, maupun permodalan. “Sepanjang mau kerja keras, untuk berjualan gandos tidak sulit,” ujarnya.

Pendapatannya selama sehari berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu sesuai omzet penjualannya. Adapun penjualananya berlangsung sejak pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

“Tergantung hasil jualan, jika ramai dapat upah Rp40 ribu, sedangkan saat sepi hanya  Rp20 ribu,” ujar Slamet Daryanto.

Hasilnya, kata Slamet, diberikan kepada ibunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena selain untuk kebutuhan berdua,juga ada neneknya yang tinggal di tempat kontrakan yang merupakan gudang bekas tempat usaha.

Sementara ibunya, kata dia, bekerja sebagai buruh di rumah makan dengan upah sebesar Rp40 ribu per hari.

Seorang pembeli gandos, Laila Agusriah (21) mengakui tertarik membeli gandos yang dijual Slamet karena ingin membantu.

Ia mengaku mengetahui kondisi keluarga itu, setelah ada pengguna media sosial yang mengunggah ke facebook.

“Untuk saat ini, saya hanya bisa membantu dengan membeli gandos yang kebetulan tempat jualannya di Jalan Nitisemito Kudus tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya,” ujarnya.

Ia berdoa, semoga dagangannya laris sehingga bisa membantu perekonomian keluarganya.