Dialog Kebangsaan di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta

Dialog Kebangsaan di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta
Dialog Kebangsaan di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta
JAKARTA, MENARA62.COM — Kehidupan sosial-politik negeri ini dianggap mengkhawatirkan. Penghormatan pada kelompok yang berbeda, terkadang diabaikan.
Dilatarbelakangi maraknya radikalisme politik identitas yang membuat masing-masing kelompok merasa sebagai pihak yang paling benar, dan menegasikan eksistensi kelompok lainnya, Gerakan Suluh Kebangsaan menggandeng Muhammadiyah dalam menggelar Dialog Kebangsaan Lintas Agama di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Kamis (10/1/2019).
Situs Muhammadiyah.or.id melansir, Gerakan Suluh Kebangsaan adalah sebuah gerakan bersama berbagai tokoh agama dan budayawan yang bergerak dalam membawakan wacana persatuan Indonesia melalui berbagai dialog dan sarasehan.
Membuka acara yang bertema “Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post-Truth” tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad memandang, dialog adalah barang berharga milik bangsa Indonesia yang harus sering dilakukan.
“Jauh sebelum ada Indonesia, kita sudah multikultur budaya dan agama sehingga karakter kita terbuka, sopan dan ramah. Ini berbeda dengan negara yang tandus dan kering sehingga tidak seramah kita. Saya sangat bergembira, semoga diskusi ini menghasilkan perumusan baru agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD menyampaikan, merebaknya berita bohong dan politik identitas yang semakin mengeras mengancam kesatuan bangsa Indonesia.
“Kerjasama safari suluh kebangsaan ini untuk keutuhan bangsa Indonesia. Kami mengajak kepada misi dialog di dalam perbedaan,” ujarnya.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut juga menyampaikan tentang bahaya politik identitas yang memakai tema memperjuangkan agama sebagai alat untuk meraih kemenangan.
“Seringkali ada yang membawa dominasi perjuangan agama dengan analisis dangkal dan copas yang sebetulnya tujuannya adalah mengadu domba,” ujar Mahfud.
Lebih lanjut, Mahfud mengutip ayat 99 Surat Yunus yang menyatakan apakah kita membenci manusia hanya karena berbeda, padahal di ayat lain jika Allah berkehendak diri-Nya bisa menciptakan manusia sebagai satu umat saja. Mahfud berharap Gerakan Suluh Kebangsaan ini sebagai salah satu upaya antisipatif dalam menangkal potensi perpecahan sesama anak bangsa.
“Oleh karena itu mari kita jaga. Kalau terlanjur salah, kita menyesal pun tidak berguna lagi. Mari menjaga Indonesia sebagai milik bersama,” ujarnya.