Rekruitmen Tenaga Kesehatan Haji 2019 Diperketat

Petugas kesehatan haji
Proses rekruitmen tenaga kesehatana haji. (ist/sehatnegeriku)

JAKARTA, MENARA62.COM – Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Puskeshaji) sedang menggodok para calon Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) yang akan ditugaskan ke Tanah Suci dalam operasional haji tahun 2019. Proses rekruitmen TKHI dan PPIH jauh lebih ketat dibanding tahun sebelumnya.

Dalam siaran persnya, Kapuskeshaji Eka Jusup Singka mengatakan tahun 2019 Kemenkes akan menerjunkan 1.800 tenaga kesehatan yang bertugas sebagai TKHI dan PPIH. Riniannya 1.521 orang sebagai TKHI dan 306 orang lainnya sebagai PPIH bidang kesehatan.

“Sudah ada 11.300 tenaga kesehatan yang mendaftar. Tetapi kami hanya akan menetapkan 1.800 tenaga kesehatan,” kata Eka, Jumat (11/1).

Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Artinya pemerintah tidak menambah jumlah petugas haji untuk bidang kesehatan.

Proses rekruitmen itu sendiri mengacu kepada Permenkes Nomor 3 tahun 2018 tentang Rekruitmen PPIH, TKHI dan TPK (Tenaga Pendukung Kesehatan). Dalam Permenkes tersebut disebutkan bahwa dalam hal dibutuhkan untuk menunjang penyelenggaraan kesehatan haji, rekrutmen PPIH Arab Saudi bidang kesehatan, TKHI, dan TPK dapat dilakukan melalui penunjukan.

Rekrutmen dengan penunjukan didasarkan pada kebutuhan operasional kesehatan haji dengan mempertimbangkan keahlian tertentu dan/atau pengalaman kerja sebagai petugas kesehatan haji, serta izin dari atasan petugas yang ditunjuk.

“Penentuannya sangat ketat karena jumlah kuota petugas terbatas. Penentuan petugas bukan atas dasar reward atau arisan,” tegas Eka.

Sayangnya, tidak sedikit para kepala instansi atau Satuan Kerja (Satker) menganggap bahwa penentuannya didasarkan arisan, gantian.

“Bagi saya ini keliru. Harus diluruskan. Kita di sana itu kerja. Maka orang yang bagus kerjanya harusnya bisa diizinkan untuk kerja lagi,” tegas Eka.

Eka menambahkan bahwa petugas yang baik kerjanya akan amanah menjalankan tugasnya.

“Saya percaya yang baik kerjanya akan amanah menjalankan tugasnya. Karena mereka sudah paham yang akan mereka perbuat. Jadi beda nuansa reward dengan penetapan atau penugasan kembali karena petugas tersebut baik dalam bekerja. Ini yang harus diketahui oleh semua Nakes,” terangnya.

Menurut Eka, rekruitmen tahun ini akan lebih diperketat dengan adanya mekanisme wawancara dan tes Napza yang dilakukan bersama RS Ketergantungan Obat (RSKO) di Cibubur, Jakarta. Selain itu tes kebugaran dan MMPI akan dilaksanakan saat pelatihan kompetensi. Kegiatan ini langsung dikelola oleh Puskeshaji.

Eka berharap, setelah terpilih petugas hendaknya kembali ke daerahnya untuk melaksanakan pembinaan kesehatan bagi jemaah haji yang akan berangkat haji tahun 2019.

“Semoga rekruitmen berjalan lancar dan dapat menciptakan petugas yang SHARI sigap, handal, amanah, responsif dan inovatif. Tugasku adalah ibadahku adalah slogan para Petugas kesehatan haji,” tutupnya.