Dirjen Belmawa
Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Ismunandar memberikan penjelasan terkait beasiswa Bidikmisi

JAKARTA, MENARA62.COM – Beasiswa Bidikmisi tahun ini bisa diajukan oleh mereka yang sudah berstatus mahasiswa. Kebijakan tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana beasiswa Bidikmisi hanya bisa diajukan bersamaan dengan pendaftaran mahasiswa baru.

Dalam siaran persnya, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti Ismunandar mengatakan perubahan kebijakan ini diharapkan memberikan peluang kepada mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi untuk mendapatkan beasiswa Bidikmisi meski statusnya sudah menjadi mahasiswa salah satu perguruan tinggi.

“Mereka yang on going atau sudah berstatus mahasiswa bisa tetap mengajukan program beasiswa Bidikmisi,” kata Ismunandar, Senin (14/1).

Dirjen berharap Program Bidikmisi di tahun 2019 dapat berjalan lebih baik, terus memberi asa generasi muda cerdas Indonesia dari seluruh pelosok negeri untuk menggapai pendidikan tinggi dan memutus mata rantai kemiskinan untuk Indonesia yang lebih sejahtera dimasa depan.

Menurut Dirjen, Bidikmisi telah terbukti dapat memutus rantai kemiskinan. Karena itu tahun ini pemerintah berkomitmen dan melakukan inovasi dalam meningkatkan layanan Bidikmisi, diantaranya pertama meningkatkan kuota penerima Bidikmisi menjadi 130.000 penerima, jumlah ini meningkat 44% dibandingkan tahun 2018, dengan pengalokasiannya untuk Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta termasuk Vokasi dan mahasiswa ongoing yang eligible.

Kedua, mengalokasikan Bidikmisi pada Program Profesi Guru (PPG) selain profesi dokter, dokter gigi, dokter hewan, ners dan apoteker yang telah ada sebelumnya. Ketika menambah alokasi penerima  Bidikmisi khusus mahasiswa difabel. Dan keempat adalah integrasi data Bidikmisi dengan pangkalan data Kemendikbud dan Kemensos untuk mendorong proses penerimaan yang lebih transparan, akuntabel dan tepat sasaran.

Untuk meningkatkan layanan Bidikmisi, saat ini tengah dikembangkan Bidikmisi Apps yang mempunyai fitur menampilkan data diri, prestasi mahasiswa, informasi pencairan dan pembayaran elektronik, tracer study, informasi terbaru serta fitur lapor, yang diharapkan akan mempermudah penerima mendapatkan informasi mengenai Bidikmisi.

Pendaftaran calon mahasiswa Bidikmisi untuk tahun 2019 dilakukan melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Penelusuran Minat dan Kemampuan Politeknik Negeri (PMDK-PN), Ujian Masuk Politeknik Negeri (UMPN) serta Seleksi Mandiri pada Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.

Mekanisme pendaftaran Bidikmisi melalui jalur seleksi SNMPTN dan SBMPTN pada tahun 2019 mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun 2018 karena adanya transformasi dalam sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru, tahun ini pemerintah membentuk Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Dalam proses ini calon penerima Bidikmisi wajib terdaftar pada sistem dengan memasukkan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) yang valid.

Syarat pendaftaran dan proses penerimaan Bidikmisi untuk tahun 2019 telah didesain lebih baik dan sederhana, dengan memprioritaskan siswa dari keluarga tidak mampu yang telah memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP). Siswa penerima KIP dapat langsung mendaftar ke laman sistem Bidikmisi di alamat: https://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id/.

Bagi siswa yang tidak memilik KIP, dapat mendaftar melalui sekolah untuk direkomendasikan. Selanjutnya bagi calon mahasiswa penerima Bidikmisi yang telah dinyatakan diterima melalui salah satu jalur seleksi di atas, akan dilakukan verifikasi lebih lanjut dan penetapan kelayakan oleh perguruan tinggi.

Mengenai pembiayaan, seleksi Bidikmisi 2019 sama seperti tahun sebelumnya penerima akan mendapatkan pembebasan biaya pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi negeri, dan jika lulus seleksi masuk perguruan tinggi calon mahasiswa akan mendapatkan biaya pengganti kedatangan pertama ke perguruan tinggi. Penerima Bidikmisi untuk tahun 2019 akan mendapatkan bantuan biaya pendidikan dan biaya hidup sebesar Rp 700.000, jumlah tersebut meningkat dari tahun 2018 dimana penerima mendapat Rp. 650.000 per bulan.

Keberhasilan program Bidikmisi yang telah berjalan selama 9 tahun dapat dilihat dari prestasi akademik yang baik dan kesuksesan alumni Bidikmisi di dunia kerja. Hasil tracer study pada tahun 2018 menunjukkan kecenderungan  nilai IPK yang meningkat setiap tahun dengan rata-rata 3,21 pada periode 2009-2017.

Sejumlah 24% alumni telah mendapatkan pekerjaan 3 bulan sebelum lulus, sebagian lagi memiliki masa tunggu antara 1 hingga 2 bulan. Banyak alumni yang telah sukses bekerja baik di dalam maupun luar negeri serta berwirausaha dan mengangkat ekonomi keluarga. Hal ini menunjukkan Program Bidikmisi telah menghasilkan alumni-alumni yang memiliki daya saing tinggi untuk meraih sukses dan mandiri sekaligus membuka banyak pintu kesempatan bagi banyak orang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan tinggi.