erupsi gunung agung
Gunung Agung semburkan awan panas. (okezone)

DENPASAR, MENARA62.COM – Dalam sepekan ini, aktivitas Gunung Agung kembali meningkat. Setidaknya telah terjadi empat kali erupsi.

Meski aktivitasnya meningkat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada.

“Kami mengimbau kepada masyarakat di radius Gunung Agung (GA) agar tetap tenang dan mengikuti arahan dari petugas terkait kebencanaan tersebut,” kata Pelaksana Tugas Sekretaris BPBD Provinsi Bali Made Rentin di Denpasar, seperti dikutip dari Antara, Rabu (23/1/2019).

Diakui dalam sepekan ini Gunung Agung sepekan kembali menunjukkan aktivitas erupsinya sebanyaj empat kali berdasarkan dari pos pengamatan gunungapi Agung.

“Bahkan erupsi yang terjadi pada Selasa (22/1) asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 2.000 meter di atas puncak kawah,” ujarnya.

Dikatakan, kondisi cuaca di Bali saat ini musim hujan, sehingga abu yang dikeluarkan Gunung Agung radiusnya juga dapat dihambat penyebarannya dan tidak sampai meluas.

Rentin juga menyampaikan, berdasarkan laporan PVMBG bahwa Gunung Agung (3.142 mdpl) kembali terjadi erupsi pada Rabu (23/1) pukul 03:18 Wita, namun tinggi kolom abu tidak teramati.

“Erupsi gunung tertinggi di Pulau Bali ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi lebih kurang 1 menit 56 detik,” ujarnya.

Oleh karena itu, Rentin berharap kepada masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya, yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari kawah puncak Gunung Agung.

Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru.

Begitu juga masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.