MUI Imbau Umat Islam Cerdas Memilih Presiden

MUI Imbau Umat Islam Cerdas Memilih Presiden
MUI Imbau Umat Islam Cerdas Memilih Presiden

JAKARTA, MENARA62.COM — Majelis Ulama Indonesia (MUI), tetap berusaha netral meskipun ketua umumnya maju sebagai salah satu kandidat wakil presiden pada pemilu mendatang.

Sikap netral itu, menjadi kesepakatan Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI yang diungkapkan kepublik seusai rapat pleno ke-34 Wantim MUI di Gedung MUI di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Ketua Wantim MUI Din Syamsuddin mengatakan, lembaganya mengimbau kepada seluruh umat Islam cerdas dalam memilih capres-cawapres dalam Pilpres 2019. Menurut dia, MUI memberikan kriteria wajar secara subjektif untuk memilih calon pemimpin sesuai kepentingan umat Islam.

“Baik legislatif dan eksekutif, calon presiden dan calon wakil presiden yang secara sejati memperhatikan, memedulikan, dan memperjuangkan kepentingan Islam dan umat Islam,” ujar Din.

Menurut Din, MUI secara objektif juga meminta umat Islam memilih pemimpin yang diyakini membawa bangsa pada kemajuan. Hal itu, kata dia, sesuai dengan amanat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. “Terutama untuk menegakkan kedaulatan negara dalam berbagai bidang,” katanya.

Din mengatakan, dalam memilih pemimpin, MUI mengimbau kepada masyarakat dan khususnya umat Islam agar memiliki literasi politik. Sebab, literasi politik ini dapat membuat warga dan umat tak sembarang dalam memilih dalam pemilu.

“Jadi bukan sekedar memilih untuk memilih dan apalagi memilih tanpa tujuan. Tapi memilih berdasarkan ilmu, kecerdasan politik dan dengan hati, sanubari, serta qalbu karena itu ajaran agama,” kata Din.

Dia menuturkan, dalam Pilpres 2019, MUI tidak akan berposisi mendukung atau tak mendukung salah satu pasangan calon. Sebab, ucap dia, MUI merupakan lembaga keagaman sekaligus mitra strategis pemerintah selama ini yang berkhidmat melayani umat. “MUI sebagai lembaga keagamaan akan terus bertausiyah, dalam amar maruf nahi mungkar menyampaikan pesan-pesan khususnya dari agama Islam,” ucapnya.

Wantim sendiri, mengeluarkan 8 poin sikap Wantim MUI jelang pemilu yang dibacakan Wakil Ketua Dewan pertimbangan (Wantim) MUI Didin Hafidhuddin, Rabu (30/1/2019), seusai rapat pleno ke-34 Dewan Pertimbangan, di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pertama, Wantim MUI merasa prihatin luar biasa terhadap kondisi kebangsaan dan keumatan yang cenderung terlihat ada fenomena dan gejala perpecahan.

Kedua, Wantim MUI menyerukan, pada bangsa dan pimpinan serta para tokoh untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan. Pilpres merupakan alat, sarana dan tidak boleh menimbulkan kehancuran sebuah bangsa. Pilpres adalah alat untuk membuat bangsa ini beradab, berkeadaban didalam memimpin, mencari pemimpin terbaik.

Ketiga, umat islam diharapkan untuk terus menguatkan persatuan dan kesatuan walau mungkin terjadi perbedaan pilihan. Seharusnya perbedaan-perbedaan pilihan tidak boleh menyebabkan rusaknya ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah Islamiyah adalah sebuah sebuah keniscayaan sekaligus sebuah kebutuhan dan sebuah keharusan tidak boleh terganggu hanya oleh karena pesta demokrasi yang diselenggarakan 5 tahun sekali.

Keempat, Wantim MUI menyerukan kepada para ulama, zuama untuk tidak mengumbar pernyataan-pernyataan yang mengundang konflik dan pertentangan. Pernyataan-pernyataan yang saking semangatnya mengajak kepada kelompoknya, kepada golongannya, kepada paslonnya dengan pernyataan-pernyataan yang irasional dan pernyataan-pernyataan yang menyebabkan terjadinya masalah di kemudian hari dengan tanggapan-tanggapan yang beragam.

Kelima, Wantim MUI menempatkan MUI sebagai rumah besar bersama, rumah besar umat dari manapun dari berbagai macam kelompok manapun dan menjadi teman dari penguasa tetapi dalam bagian untuk memberikan amar maruf nahi mungkar terhadap kondisi yang ada.

Keenam, Wantim MUI mempersilahkan umat Islam untuk memiliki literasi dalam bidang politik, untuk dapat menentukan pilihan yang terbaik berdasarkan literasi politiknya.

Ketujuh, Wantim MUI berharap, kepada pemangku amanah penyelengara pemilu 2019, untuk netral dan berkeadilan. Sehingga, demokrasi dapat berjalan dengan baik, dengan lancar dengan aman dan tertib.

Kedelapan, umat islam memiliki kekuatan yang sangat dahsyat yakni doa, sehingga doa dikatakan silahulmukmin jadi diharapkan kepada pemimpin umat, kepada tokoh-tokoh para pendukung, kiai, para ulama, dan juga umat secara menyeluruh baik pada waktu bangun malam melaksanakan salat.