Batu pemecah ombak
Batu pemecah ombak di Pantai Pasie Nan Tigo, Padang. (ist/antara)

PADANG, MENARA62.COM – Batu grip atau batu pemecah ombak yang dibangun di pantai untuk mengantisipasi abrasi dan banjir rob, tidak bermanfaat untuk mengantisipasi tsunami. Keberadaan batu grip justeru bisa membahayakan.

“Gelombang tsunami itu akan menyapu batu grip tersebut dan membawanya bergulung-gulung ke daratan hingga berbahaya bagi makhluk hidup yang kena terjang,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) , Doni Monardo pada Rapat Koordinasi Mitigasi dan Penanganan Gempa-Tsunami bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah di Padang, seperti dikutip dari Antara, Rabu (6/2/2019)

Menurutnya, jika diterjang tsunami cara yang paling baik adalah dengan mencari sesuatu yang mengapung dan bisa dinaiki, karena dalam arus tsunami itu sangat banyak material yang berpilin seperti dalam blender.

Ia menyebut pengalaman dalam tsunami Aceh, orang yang bisa menggapai sesuatu untuk mengapung punya kesempatan hidup lebih besar. Jika masuk dalam arus, kemungkinan hidup sangat tipis.

Doni merekomendasikan batu grip itu bisa diganti dengan pohon endemik yang telah terbukti bisa membantu meredam ganasnya gelombang tsunami.

Jenis pohon yang bisa dijadikan “benteng vegetasi” itu di antaranya cemara udang yang terbukti cukup efektif menahan efek gelombang tsunami di Phuket Thailand pada 2004 dan pohon bakau juga bisa membantu seperti halnya terjadi pada tsunami di Donggala, Sulteng, Oktober 2018.

Dia meminta jenis tanaman itu, yang saat ini telah ada, agar dilindungi dan tidak ditebang. Pihak yang mencoba menebang harus diberi sanksi tegas.

Kemudian pohon palaka yang sangat besar dengan tinggi bisa mencapai 40 meter. Pohon itu asal Ambon dan kemungkinan bisa dibiakkan di daerah lain, termasuk Sumbar.

Pohon pule, ketapang, waru, beringin dan mahoni diyakini juga cocok untuk meredam kuatnya gelombang tsunami.

“Nanti masing-masing daerah bisa menjajaki jenis pohon yang lebih cocok untuk ditanami di pinggir pantai sebagai benteng vegetasi,” katanya.

Selain itu, pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota juga memperkuat koordinasi terutama untuk antisipasi jika bencana benar-benar terjadi.

“Dari pengalaman yang ada, saat bencana itu koordinasi paling sulit. Karena itu sejak awal harus dipersiapkan,” ujarnya.

Doni Monardo juga mengunjungi Mentawai secara langsung untuk melihat kesiapan masyarakat di kepulauan yang menyimpan potensi gempa 8,8 SR itu.