Literasi Pencerahan Ala Muhammadiyah

Roni Tabroni
Roni Tabroni

Judul ini sengaja saya gunakan untuk menjaga orisinalitas amanat Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Namun kata “ala Muhammadiyah”, tambahan dari saya untuk mempertegas pemilik gerakan ini.

“Literasi Pencerahan” secara tegas disampaikan Haedar Nashir ketika sambutan pada acara “Dialog dan Literasi Media Sosial” di Hotel Horison Bengkulu pada Kamis (14/2/2019) yang diselenggarakan Suara Muhammadiyah. Bahkan menurutnya, kata ini agar segera digunakan oleh warga Muhammadiyah untuk melakukan edukasi kepada masyarakat.

Pentingnya literasi pencerahan dimaksudkan untuk mengisi ruang kosong di tengah-tengah publik yang hingar bingar di media sosial. Ruang maya kini lebih banyak diisi oleh nada-nada negatif yang merusak generasi bangsa.

Ruang media sosial selain mempermudah urusan manusia, pada saat yang sama seringkali digunakan untuk merusak. Tidak tanggung-tanggung, yang dirusak adalah pikiran manusia, sikap, sampai perilaku. Tidak sedikit konflik horisontal terjadi disebabkan konten media sosial yang provokatif.

Peristiwa itu terjadi karena begitu bebasnya manusia kini untuk menyampaikan isi hati dan nafsunya tanpa sensor. Nihilnya etika dan motif buruk menyebabkan bertaburannya informasi dan ujaran yang mengganggu harmoni.

Selain iseng, kepentingan ekomoni, mengejar popularitas, atau bahkan kepentingan politik, menjadi penyebab maraknya konten negatif di media sosial. Baik disengaja maupun tidak, yang jelas kondisi ini perlu menjadi perhatian. Akibat ketidaktahuan maupun tidak disengaja, yang jelas pengaruh media sosial kini begitu cepat dan luas.

Memproduksi konten negatif selalu didawamkan dengan berbagai cara. Menggunakan bantuan mesin, berbagai provokasi seringkali dibuat dengan tulisan, gambar maupun video. Agar lebih meyakinkan, konten-konten hoaks pun kini dibuat dengan narasi yang seolah-olah lebih ilmiah, bahkan diperkuat dengan data-data statistik.

Di tengah ruang yang seperti ini, Muhammadiyah berkepentingan untuk kembali memberikan solusinya. Sebagaimana sudah menjadi takdirnya, Muhammadiyah selalu hadir untuk menjawab berbagai persoalan sosial.

Selain dakwah kultural baik di bidang pendidikan, sosial, kesehatan dan ekonomi, Muhammadiyah juga didorong untuk menjelajahi dunia informasi. Kehadirannya diharapkan memberikan alternatif narasi dibanding hanya sekedar deklarasi.

Muhammadiyah meyakini bahwa ajaran Islam itu bersifat mencerahkan. Sudah sangat banyak ajaran dalam kitab suci yang memberikan pedoman untuk kita cerdas dalam berkomunikasi baik di dunia nyata maupun media maya.

Islam mengajarkan kita agar tidak menyampaikan kabar bohong, tidak menggunjing, tidak menghasut, dan memfitnah. Jangan hanya karena berbeda pendapat kemudian kita menyebarkan isu-isu negatif di media sosial.

Sebaliknya, Islam mengajarkan kita untuk selalu melakukan tabayyun, berbicara yang baik, bahkan mengingatkan orang salah dengan cara yang baik. Walaupun orang lain berbeda dengan kita, ketika bersalah jangan sampai mencaci maki dan memfitnahnya di media sosial. Sebaiknya orang yang bersalah itu diingatkan dan dikoreksi secara konstruktif.

Untuk ini, Muhammadiyah lewat majelis/lembaga dan amal usahanya terus mendidik masyarakat secara produktif. Selain menerbitkan fiqih informasi, Muhammadiyah juga terus mengembangkan gerakan literasi secara massif dan berkelanjutan. Dengan “literasi pencerahan” yang bersumber pada ajaran Islam yang tinggi, Muhammadiyah berharap terwujudnya peradaban bangsa yang lebih baik.

Penulis: Roni Tabroni, MPI PP Muhammadiyah