China Akan Bantu Indonesia Membangun Sistem Uji Klinis Alkes

alkes
Staf khusus Menteri Bidang Peningkatan Pelayanan Kesehatan, Prof. Dr. Akmal Taher, SpU(K) berbincang dengan Sekjen NMPA China, Xu Jinghe . (ist)

JAKARTA, MENARA62.COM – China berjanji akan membantu Indonesia membangun sistem uji klinis alat kesehatan. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal National Medical Product Administration (NMPA) China, Xu Jinghe saat menerima delegasi Indonesia yang dipimpin Staf khusus Menteri Bidang Peningkatan Pelayanan Kesehatan, Prof. Dr. Akmal Taher, SpU(K) beserta Sekretaris Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, drg. Arianti Anaya, MKM di RS Fuwai, RS Beijing Shijitan, dan Universitas Peking.

“China adalah salah satu negara yang telah menetapkan Kebijakan Registrasi Alat Kesehatan (Alkes), Uji Klinis Alkes dan Sistem Pengawasan Alat Kesehatan Pre dan Post Market. China telah membangun pusat uji klinis untuk alat kesehatan, dimana pengawasan dilakukan baik di tingkat Pusat dan Provinsi,” jelas Prof Akmal dalam siaran persnya, Rabu (20/2/2019).

NMPA adalah institusi pemerintah setingkat wakil menteri yang mengatur tentang registrasi dan pengawasan Pre-market dan Post Market obat-obatan, alat kesehatan dan kosmetik.

Pada kesempatan tersebut Prof. Taher menyampaikan pengalaman Indonesia dalam upayanya membangun sistem nasional untuk uji klinis alat kesehatan.

“Indonesia telah berpengalaman dalam uji klinis obat sejak tahun 2001, dengan menerbitkan pedoman Uji Klinik Obat dan melakukan Good Clinical Practice (GCP). Untuk alat kesehatan, kami masih dalam tahap persiapan, dengan ditargetkan akan mulai beroperasi dalam waktu dekat,” tutur Prof. Taher.

Prof. Taher menekankan kembali tentang kerja sama bidang kesehatan antara Indonesia dan RRT, yang ditandai dengan telah ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) pada bulan November 2017 di sela-sela kunjungan Perdana Menteri RRT ke Solo menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi antar Masyarakat dan antar Lembaga. MoU Kesehatan RI-RRT berfokus pada beberapa area kerja sama, antara lain : Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Pengembangan SDM Kesehatan dan Kerja Sama Pelayanan Kesehatan.

Menurutnya kerja sama kesehatan antara Indonesia dan China mempunyai potensi yang besar untuk terus ditingkatkan guna mendukung Pembangunan Kesehatan di kedua Negara. Dalam Rencana Kerja Bersama antara RI-RRT memuat program kerja sama yang konkrit untuk mengimplementasikan MoU Kerja Sama Kesehatan antara RI dan RRT.

Kedua negara sepakat untuk melakukan program kegiatan seperti peningkatan kapasitas tenaga kesehatan profesional seperti beasiswa dari Universitas Tsinghua dan beberapa pelatihan dan Universitas Beijing, penelitian bersama terkait Transplantasi Organ, kerja sama Sister Hospital antara RS Jantung Harapan Kita dan Fuwai University.

Lalu kerja sama RSCM dengan Asian Pediatric Interventional Pulmonology Association; kerja Sama antara Renji Hospital, Tongji University School of Medicine, in Shanghai dan RS Vertikal Kemenkes RI; dan kerja sama membangun sistem Pelayanan Kesehatan Tradisional yang terintegrasi dengan Sistem Kesehatan di Indonesia khususnya untuk Program Pencegahan Penyakit.

Pada kesempatan yang berbeda, Profesor Taher juga mengunjungi RS Pusat Jantung Fuwai untuk melihat implementasi uji klinik Alkes di RS. Prof. Taher menyempatkan bertemu dengan Kepala Pusat Ilmu Kesehatan, Universitas Peking.

Duta Besar RI untuk RRT, Djauhari Oratmangun, memandang kerja sama kesehatan sebagai kerja sama yang paling nyata dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia. Sebagai contoh banyak dokter Indonesia yang belajar tentang ilmu kesehatan tradisional di China dengan semangat bahwa program kesehatan tradisional di Indonesia akan diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan kesehatan primer guna mendukung program JKN.