KKN II
Sebagian peserta KKN Merajut Nusantara II tiba di kantor Gubernur Kalbar. (ist)

KULIAH Kerja Nyata (KKN) sejatinya ingin memberikan pengalaman belajar dan bekerja kepada para mahasiswa tentang penerapan dan pengembangan ilmu yang sudah dipelajari selama dibangku kuliah. Mereka harus bisa mengimplementasikan pada kehidupan nyata ditengah-tengah masyarakat.

Tetapi KKN Tematik Merajut Nusantara II memberikan warna berbeda. Pada kegiatan tersebut, para mahasiswa dan dosen tidak hanya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh. Mereka juga mendapatkan cerita baru tentang negeri indah bernama Indonesia. Negeri dimana wilayahnya begitu luas, negeri dimana masih menyimpan daerah-daerah 3T yang perlu penanganan serius dari pemerintah pusat.

Ya, di pelosok negeri Indonesia, nun jauh dari ibukota Jakarta, ribuan desa yang aksesnya membutuhkan perjuangan tidak hanya waktu, tenaga tetapi juga keberanian dan semangat membara membutuhkan penanganan dari tangan-tangan akademisi. Itulah yang kami alami dalam perjalanan menuju lokasi KKN Tematik Merajut Nusantara II di Kabupaten Sambas, Propinsi Kalimantan Barat.

Menyambangi penduduk di desa yang letaknya belasan bahkan puluhan kilometer dari ibukota propinsi Kalbar tersebut, tentu tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Bukan saja jauh, tetapi akses jalan menuju lokasi juga tidak ringan. Hutan belantara dengan jalanan yang penuh lubang, jauh dari hiruk pikuk kehidupan apalagi fasilitas serupa restoran dan penginapan. Tak ada semua itu.

Meski demikian, kami, tim dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka (UHAMKA) yang tergabung dalam KKN Merajut Nusantara II tetap bersemangat. Keinginan kami untuk mengabdi pada negeri ini, membuat kami bersama tim dari perguruan tinggi lainnya pantang takut, pantang menyerah menghadapi medan yang berat.

Perjalanan menegangkan

Perjalanan menuju lokasi KKN Merajut Nusantara II di Kabupaten Sambas diwarnai dengan perjuangan yang cukup menegangkan untuk ukuran kami. Perjuangan berat tersebut dimulai sejak titik awal perjalanan di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur pada 11 Maret 2019.

Pagi itu, kami tim KKN dari UHAMKA yang terdiri atas 5 peserta (2 dosen dan 3 mahasiswa) bergabung bersama 229 peserta KKN dari 35 perguruan tinggi se-Jabodetabek. Bersiap menuju lokasi KKN menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.

Memulai perjalanan menggunakan pesawat Hercules di Halim Perdana Kusumah. (ist)

Ini adalah pengalaman pertama kami naik pesawat milik TNI. Pesawat yang tidak menawarkan kenyamanan perjalanan tentu, berbeda dengan pesawat komersiil. Tak ada kami menjumpai bangku empuk, pramugari yang melayani, monitor televisi, music atau makanan camilan. Pesawat Hercules yang membawa kami hanya memiliki tempat duduk berhadap-hadapan dengan gunungan barang tak ubahnya pesawat cargo. Dan kami berada ditengah-tengah kepungan barang-barang tersebut.

Takut? Pasti. Setidaknya rasa itu tergambar dari wajah-wajah tegang, cemas, galau dan bibir yang tak kunjung berhenti melantunkan doa. Tak ada suara, kami semua diam seribu bahasa. Terlebih saat beberapa kali pesawat menghantam gelombang udara. Hingga akhirnya 150 menit waktu tempuh yang menegangkan itu berakhir sudah. Kami mendarat dengan selamat di Pontianak.

Tim KKN Merajut Nusantara II yang terbagi dalam dua kali penerbangan (shorty) akhirnya berkumpul di kantor Gubernur Kalbar. Di tempat tersebut sudah menunggu Ketua LDD III Illah Sailah, dan Gubernur Kalbar H.Sutarmaji, SH.

Pesan gubernur

Acara seremonial semacam serah terima peserta KKN pun dilaksanakan. Setidaknya ada 8 pesan yang disampaikan oleh Gubernur Sutarmaji. Diantaranya permintaan agar para peserta KKN benar-benar mengabdikan diri sesuai disiplin ilmu. Kali ini KKN melibatkan mahasiswa dari 4 disiplin ilmu yakni pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif dan kesehatan.

Selain itu, tim KKN juga diminta mengamati dan melaporkan apa saja yang menjadi aspirasi masyarakat. “Jangan lupa catat hal-hal baru yang ditemukan di lapangan,” pesan Gubernur.

Pesan selanjutnya jika mahasiswa atau dosen masuk ke sekolah, tanamkan tentang integritas dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia kepada setiap siswa. Dimana Indonesia dibangun dengan keragaman suku, ras dan agama yang kemudian menjadi perekat bangunan NKRI.

KKN Merajut Nusantara II
Berfoto bersama Ketua LLDDIKTI wilayah III Illah Sailah. (ist)

Gubernur juga berpesan agar peserta KKN menceritakan kisah orang-orang Kalbar yang sukses meski mereka berasal dari pelosok dan tinggal dirumah gubuk. Kisah-kisah inspiratif itu penting sebagai pemacu semangat masyarakat untuk maju.

Hal lain yang dipesankan dan amat ditekankan oleh gubenur adalah tidak ada kegiatan kampanye. KKN murni kegiatan akademik, kegiatan pengabdian pada masyarakat dan tidak ada sangkut pautnya dengan politik. “Jadi jangan kampanye,” lanjut Gubernur.

Sementara Dr. Illah Sailah selaku Ketua LLD DIKTI wilayah III berpesan agar para peserta KKN  Merajut Nusantara II ini mengabdikan diri secara ikhlas sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasai.

“Jangan cengeng dan jangan banyak mengeluh, karena masyarakat menunggu karya anda semua,” katanya.

Acara seremonial serah terima peserta KKN berakhir menjelang petang tepatnya pukul 15.30 waktu setempat. Karena hari sudah sore, akhirnya diputuskan rombongan diinapkan semalam di Asrama Haji Pontianak untuk persiapan perjalanan keesokan harinya.

Dan sesuai rencana, pada 12 Maret 2019 tepat pukul 08:00, rombongan diberangkatkan menuju Kabupaten Sambas. Dibutuhkan waktu sekitar 6 jam perjalanan darat menuju titik poin pertama yakni Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas.

uhamka
Pembimbing KK Merajut Nusantara II bersama mahasiswa UHAMKA berfoto bersama Camat Paloh dan Dandim (ist)

Di central poin pertama, rombongan disambut oleh Wakil Bupati Sambas Hj. Herlian, S.H., M.H. , 4 Camat, Dandim dan Kapolres. Kami disambut cukup meriah dengan tarian adat Melayu dan adat Dayak.

Medan yang sulit

Dua jam kemudian, usai acara penyambutan berakhir, rombongan dipecah menjadi 4 kelompok untuk 4 kecamatan. Tim dari UHAMKA yakni Sodik dan 2 mahasiswa diterjunkan di Kecamatan Tebas. Sedang saya dan satu mahasiswa lainnya masih harus melanjutkan perjalanan menuju Desa Kalimantan, Kecamatan Paloh. Di desa tersebut, 90 persen warganya masih buta huruf. Dan itulah pekerjaan yang sudah menanti kami.

Kecamatan Paloh meski lokasinya masih diwilayah Kabupaten Sambas, bukanlah wilayah yang mudah untuk disambangi. Membutuhkan nyali besar dan semangat membara untuk menempuh perjalanan yang cukup sulit dan berliku.

Rombongan yang terdiri atas 6 dosen dan 18 mahasiswa ditambah dua sopir harus merasakan perjalanan darat yang tidak nyaman. Jalanan yang bergelombang, medan yang kadang sulit untuk ditembus, kadang terhalang batu besar, tanah liat, aspal berlubang harus kami lalui.

Dan tepat pada pukul 19.30 rombongan tiba di Desa Tanah Hitam sebagai salah satu sasaran KKN. Tim yang bertugas di Tanah Hitam bisa bernafas lega karena pada akhirnya sampai ke lokasi setelah selama berjam-jam menempuh perjalanan darat dan menyeberangi sungai. Sedang dua tim lainnya, termasuk dari UHAMKA masih harus menempuh perjalanan sekitar 16 Km.

kkn II
Mengarungi sungai menggunakan kapal ferry sebelum akhirnya tiba di Desa Nibung dan Desa Kalimantan (ist)

Namun dengan pertimbangan hari sudah malam, ditambah medan yang berat dan persediaan BBM menipis, akhirnya dua tim KKN Merajut Nusantara II wilayah Kecamatan Paloh memutuskan bermalam di Desa Tanah Hitam. Ya, kami menginap di SMK Negeri 1 Paloh, dengan hanya beralaskan karpet di ruang kelas. Rasa lelah menempuh perjalanan jauh membuat kami tertidur pulas.

Baru pada pagi harinya usai sarapan kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Nibung dan Desa Kalimantan. Sebanyak 7 peserta KKN ditempatkan di Desa Nibung. Mereka diterima oleh Kepala Desa Nibung, Tamiyat. Sedang 9 peserta lainnya masih melanjutkan perjalanan untuk menuju Desa Kalimantan termasuk tim dari UHAMKA.

Tepat pukul 13:00 siang, tim terakhir KKN Merajut Nusantara II tiba di lokasi KKN yakni Desa Kalimantan. Rombongan disambut ramah oleh aparat Desa termasuk Kepala Desa K Budiman, sebelum akhirnya kami menempati rumah warga.

Tim UHAMKA bersama peserta KKN dari perguruan tinggi lainnya akan berada di Desa Kalimantan selama 10 hari. Beberapa program sudah kami siapkan diantaranya SBM, motivasi belajar dan ice breaking. Di Desa tersebut, sebagian besar penduduknya buta huruf dan itulah pekerjaan besar yang menanti kami.

Dengan waktu yang hanya 10 hari, kami dituntut untuk bisa membuat melek huruf penduduk Desa Kalimantan. Berat tetapi kami akan berjuang sekuat tenaga.

KKN Merajut Nusantara II merupakan kelanjutan KKN Merajut Nusantara I yang dilaksanakan di Belitung. Pada seleksi yang digelar LLD DIKTI wilayah III, UHAMKA terpilih menjadi satu dari 35 perguruan tinggi yang ikut dalam tim KKN Merajut Nusantara II.

Dede Hasanudin, M.Hum berada di Desa Kalimantan kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar. (ist)

Adapun wilayah kerja KKN kali ini meliputi 4 kecamatan di Kabupaten Sambas, Kalbar yakni kecamatan Sambas, Kecamatan Tebas, kecamatan Sajingan Besar dan kecamatan Paloh. KKN Merajut Nusantara II berlangsung 11 hingga 24 Maret 2019.***

(Seperti diceritakan oleh: Dede Hasanudin M.Hum, Dosen Pembimbing KKN Merajut Nusantara II dari UHAMKA)