Hadiri Seminar di UMJ, Mendikbud Ingatkan PAUD Tidak Ajarkan Calistung

umj
Mendikbud Muhadjir Effendy berfoto bersama dosen-dosen prodi Pendidikan PAUD UMJ usai memberikan sambutan pada seminar nasional PAUD

JAKARTA, MENARA62.COM – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengingatkan agar lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak mengajarkan baca tulis hitung. Sebab pemberian materi Calistung pada anak usia dibawah lima tahun justeru akan merusak jiwa anak.

“Pada usia PAUD, hal terpenting adalah menanamkan karakter baik pada anak, bukan ketrampilan baca tulis hitung. Karakter baik ini bisa dilakukan melalui kebiasaan cuci tangan sebelum makan, berdoa, saling membantu dan lainnya,” kata Mendikbud saat menjadi pembicara kunci pada Seminar Nasional PAUD yang digelar Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru PAUD Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Sabtu (16/3/2019).

Seminar nasional bertema Peluang dan Tantangan Mendidik Generasi PAUD Milenial Berbasis Keluarga di Era Disruptif 4.0 dihadiri oleh sekitar 400 peserta.

Diakui meski sudah berulangkali dilarang, masih banyak PAUD di Indonesia yang mengajarkan ketrampilan Calistung. Dengan alasan persiapan masuk SD mengingat ada sekolah-sekolah yang menerapkan seleksi Calistung pada seleksi penerimaan peserta didik baru di sekolah dasar.

mendikbud
Mendikbud Muhadjir Effendy menerima plakat dari Dekan FIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Praktik tersebut lanjut Mendikbud saat ini perlahan-lahan terus diminimalkan. Dengan system zonasi dimana syarat utama seleksi masuk SD adalah umur calon siswa, Mendikbud yakin persyaratan ketrampilan Calistung bisa dihilangkan.

“Kalau masih ada SD yang melakukan tes seleksi PPDB dengan ketrampilan Calistung saya tidak segan-segan mencabut dana bantuan operasional pendidikan dan dana bantuan operasional sekolah,” tukas Mendikbud.

Muhadjir menganalogikan PAUD sebagai kegiatan menata lahan sebelum proses mendirikan bangunan itu dimulai. Lalu masa pendidikan di SD dan SMP adalah ibarat membangun pondasi bangunan.

Karena itu penataan ‘lahan’ di PAUD harus dilakukan sebaik mungkin agar bangunan yang berdiri diatasnya kokoh dan kuat. Jika lahan sudah tertata, maka proses pendidikan bisa dilanjutkan ke pembangunan fondasi atau dasar dari bangunan itu sendiri yakni pendidikan tingkat dasar baik SD maupun SMP.

BACA JUGA:

Sayangnya, hingga saat ini PAUD di Indonesia ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan dasar. Akibatnya banyak PAUD yang memberikan materi-materi akademik layaknya SD.

Tetapi, lanjut Mendikbud, pemerintah perlahan akan mengembalikan posisi PAUD ini pada posisi yang tepat. Yakni posisi sebagai masa untuk mengembangkan jiwa anak, menanamkan karakter baik pada anak.

Selain mengembalikan PAUD pada fungsi yang sebenarnya, Mendikbud juga mendorong peran keluarga terutama ibu pada pendidikan pre natal atau masa kehamilan. Menurutnya kegiatan mendidik anak sejatinya sudah dimulai pada saat kehamilan berlangsung.

“1000 hari pertama kehidupan anak menjadi penentu masa depan anak, penentu kualitas anak. Karena itu saya berpesan ibu-ibu harus bernar-benar hati-hati menjaga kehamilan. Juga para bapak,” kata Mendikbud.

Saat ini diakui Mendikbud perhatian pemerintah terhadap PAUD meningkat tajam. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya anggaran PAUD menjadi Rp5 triliun pada 2019 dari Rp1 triliun di tahun sebelumnya. Jumlah PAUD di Indonesia tercatat 63.245 PAUD yang tersebar di 83.887 desa. Sebagian besar PAUD dikelola oleh masyarakat.

paud
Mendikbud Muhadjir Effendy saat memberikan sambutan pada seminar nasional PAUD di Universitas Muhammadiyah Jakarta

Sementara itu Ketua Panitia Seminar Nasional PAUD, Ir Adiyati Fathu Roshonah M. Pd dalam keterangan pers sebelumnya mengatakan tema Peluang dan Tantangan Mendidik Generasi PAUD Milenial Berbasis Keluarga di Era Disruptif 4.0 dinilai sangat tepat ditengah perkembangan teknologi dan informasi yang sedemikian pesat. Dimana kondisi tersebut tentu harus diadaptasi dan diantisipasi oleh lembaga PAUD dan guru-guru PAUD termasuk para orangtua.

“Orangtua adalah guru pertama dan rumah adalah sekolah pertama bagi anak usia dini.  Di era disruptif 4.0 mendidik generasi PAUD milenial memiliki peluang dan tantangan tersendiri. Dan penguatan fungsi keluarga merupakan salah satu jawaban,” jelas Adiyati.

Hadir sebagai pembicara antara lain Dr. M. Yani, Deputi KSPK BKKBN RI dengan materi Implementasi PAUD Holistik Integratif Pilar Layanan Pengasuhan Anak, Dr. Sukiman, M.Pd,  Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga dengan materi berjudul Implementasi Kebijakan Dirbindikkel. Lalu Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Sc, Pakar Pendidikan Keluarga dengan materi berjudul Penguatan Keluarga sebagai Basis Pengasuhan di Era 4.0.