buya hamka
Prof. Dr. Jimly Asshiddique, SH, Ketua Badan Pembina YPI Al Azhar, Rektor UHAMKA Gunawan Suryoputro dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir pada peluncuran buku Ensiklopedia Buya Hamka

JAKARTA, MENARA62.COM – Setelah empat tahun berproses, akhirnya penyusunan Ensiklopedia Buya Hamka berhasil dituntaskan. Buku Ensiklopedia Buya Hamka yang disusun oleh tim dibawah komando  Prof. Dr. Yunan Yusuf tersebut diluncurkan dikampus Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (27/3/2019).

“Awalnya buku ini akan diluncurkan di Malaysia dengan pertimbangan orang Malaysia sangat mengagumi tokoh Buya Hamka. Tetapi sebelum di Malaysia, kita minta di kampus sini dulu,” kata Rektor UHAMKA Prof. Gunawan Suryoputro pada seminar dan launching Ensiklopedia Buya Hamka bertema Hamka Worldview: Vision on Islam, Minangkabau and Indonesia.

Menurut Rektor, Buya Hamka adalah seorang pembelajar sejati yang mandiri. Ilmu dan bahasannya melalui khutbah yang selalu disampaikan, merupakan usaha yang dilakukan secara mandiri, dimana pada saat itu mencari referensi tidaklah semudah sekarang.

Meski mencari referensi tidak mudah, tetapi buah pikiran dan karya Buya Hamka memiliki pengaruh yang luar biasa. Bahkan hingga saat ini banyak ilmuwan, sastrawan dan tokoh budaya yang mengutip karya-karya Buya Hamka.

BACA JUGA:

“Kita tahu bahwa novel Buya Hamka sampai saat ini masih terus direproduksi dan dikagumi. Ini membuktikan bahwa kekuatan karya Buya Hamka sangat mendalam,” lanjut Rektor.

Diakui Rektor salah satu ciri dari karya Buya Hamka adalah bersifat spirit. Baik otodidak maupun kepribdiannya, patut menjadi contoh bagi kalangan generasi sekarang.

Rektor berharap karya yang terpotret dalam ensiklopedia tersebut bisa terpatri di UHAMKA. “Oleh karena itu kami mengapresiasi kerja keras tim penyusun Ensiklopedia Hamka. Karya ini tentu akan menjadi referensi bagi UHAMKA untuk terus membangun pendidikan ke depan,” jelas Rektor.

Sementara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir M.Si mengucapkan selamat atas terbitnya buku Ensiklopedia Buya Hamka. Ini adalah karya yang sangat bagus dan lengkap tentang profil seorang tokoh yang banyak dikagumi masyarakat.

“Dari sosok Buya Hamka, kita tidak hanya belajar tentang ilmu. Tetapi juga sifat, sikap dan falsafah hidup beliau,” kata Haedar.

Menurutnya, sosok Buya Hamka ibarat sumur yang tak berujung, dan samudera yang sangat luas. Lebih dari 120 karya Buya Hamka yang terus direproduksi bahkan disebarkan melalui media social kini memudahkan generasi sekarang untuk mengenal Buya Hamka.

Di mata Haedar, Buya Hamka adalah sosok pembelajar, sosok pencari ilmu yang luar biasa. Ia sekaligus politisi bukan dalam makna meraih kekuasaan tetapi menegakkan falsafah dan nilai kehidupan. Buya mengajarkan tradisi iqra, berilmu yang luar biasa. Dan generasi muda perlu mengambil energy dan juga belajar banyak dari sosok Buya Hamka.

Buku-buku Buya Hamka, lanjut Haedar, sebagian besar berbicara tentang filsafat akal, pikiran dan keadilan yang mungkin pada era sekarang masyarakat dan juga Muhammadiyah agak merasa asing dengan filsafat.

Prof. Dr. Jimly Asshiddique, SH, Ketua Badan Pembina YPI Al Azhar sekaligus Ketua Umum ICMI mengatakan Buya Hamka adalah tokoh besar yang pernah dimiliki oleh republik ini. Buah pikirannya baik sebagai seorang sastrawan, politikus juga ulama besar tidak boleh kita lupakan.

“Bersyukur pada 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar pahlawan kepada Buya Hamka,” katanya.

Ia menyambut baik terbitnya buku Ensiklopedia Hamka mengingat bangsa kita tidak boleh kehilangan momentum untuk menghubungkan buah pikiran Buya sebagai cermin peradaban ummat.

Hadir sebagai narasumber dalam seminar tersebut adalah Prof. Yunahar Ilyas, LC.M.Ag (Guru Besar UMY), Prof. Anhar Gonggong (sejarawan), taufiq Ismail (sejarawan dan sastrawan) dan Drs. Afif Hamka (Ketua PSBH/putra ke-9 Buya Hamka).