BALI, MENARA62.COM — Kerja sama Indonesia – Australia dalam sektor transportasi diharapkan dapat lebih berkembang pada sektor pendukung lainnya. Hal tersebut menyusul telah ditandatanganinya Ship Safety Inspection & Solid Bulk dan Indonesia- Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) pada awal Maret 2019 tentang angkutan barang dan jasa antar kedua negara di era perdagangan bebas.
 
“Indonesia telah banyak menerima masukan terkait sektor transportasi laut dan udara dari pemerintah Austalia. Dengan MoU baru tersebut diharapkan kerjasama lebih berkembang di sektor pendukung lainnya sesuai perjanjian kerjasama yang baru,” demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Djoko Sasono saat membuka Indonesia-Australia Transport Sector Forum (TSF) di Bali, Kamis (28/3/2019).
 
Kerja sama bidang transportasi antara Indonesia dan Australia telah berlangsung sejak tahun 2004 melalui perjanjian “The Indonesia Transport Safety Assistance Package (ITSAP)”.
 
Untuk tahun 2019, kerjasama kedua negara tersebut berkembang membahas isu baru yaitu  meliputi sektor perhubungan darat, pengembangan Sumber Daya Manusia bidang transportasi, dan penelitian pengembangan bidang transportasi. 
 
Salah satu topik pembahasan pada Executive Meeting TSF yaitu kerjasama program terkait inspeksi keselamatan kapal dan angkutan barang “The Ship Safety Inspection and Solid Bulk Cargo” antara kedua negara sesuai dengan kesepakatan yang tertera pada International Maritime Organization/ IMO di pelabuhan internasional Indonesia. “Kami juga meminta dukungan dari Australia untuk dukungan pada pemilihan dewan IMO periode mendatang” tambah Djoko.
 
Lebih lanjut, Sesjen Djoko mengatakan ingin menghidupkan kembali pertukaran pejabat Indonesia ke Australia yang pernah dilakukan pada tahun 90-an untuk capacity building. 
 
“Peningkatan kapasitas terkait SAR and rescue diharapkan berdaya guna mengingat karakteristik daerah di Indonesia (rawan bencana), sehingga kita ingin semua lebih cepat,” lanjut Djoko. 
 
Pada forum tersebut juga disampaikan  tindak lanjut dari hasil pembahasan TSF tahun 2018 yaitu telah dilaksanakan MoU antara Menteri Perhubungan Indonesia dan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia pada 31 Agustus 2018. “Dengan MoU tersebut kerjasama tidak hanya terbatas pada safety/keselamatan tetapi sektor lainnya,” tambah Djoko.
 
Salah satu peningkatan area kerjasama pada bidang transportasi antara lain keselamatan transportasi darat. 
 
“Ditjen Perhubungan Darat menyadari keselamatan berkendara di jalan merupakan aspek penting. Saya harap dalam diskusi ini kita semua dapat mencari cara bersama untuk meningkatkan keselamatan transportasi berbasis jalan,” lanjut Djoko.
 
Pembahasan selanjutnya  yaitu terkait tantangan dan peluang yang akan muncul di sektor transportasi karena perkembangan teknologi. ”  Pada sektor tranportasi khususnya penerbangan, teknologi mengubah cara berinteraksi satu negara dengan negara lain di iklim global. Sebagai regulator kita wajib mengadopsi perkembangan teknologi yang semakin maju, ” lanjut Djoko. Selain itu, forum juga membahas tentang perkembangan teknologi drone.
 
Indonesia Australia Transport Sector Forum tahun ini masih menggunakan format  yang sama seperti sebelumnya yang diselenggarakan di Melbourne, Australia pada tahun lalu. Setiap sektor mendiskusikan detail kerjasama terkait kebijakan dan isu strategis transportasi kedua negara. 
 
“Saya berharap delegasi Indonesia dapat menunjukkan komitmen sehingga dapat memperkuat kerjasama transportasi kedua belah pihak, ” kata Djoko.
 
Sebagai informasi, Indonesia – Australia Transportation Sector Forum merupakan forum bilateral tahunan yang membahas kerjasama transportasi kedua negara tersebut. Pada pertemuan tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono  menjadi Ketua Delegasi Indonesia dan Co-Chair persidangan. Sementara itu, Delegasi Australia dipimpin oleh Deputy Secretary of The Departement of Infrastructure and Regional Development Australia, Ms. Pip Spence.
 
Pertemuan  tersebut dimulai dengan  Executive Meeting dan dilanjutkan dengan Working Group sektoral yaitu perhubungan darat, laut, dan udara kemudian dilanjutkan dengan Sidang Plenary TSF. Selain itu, Ditjen Perhubungan Laut telah melakukan penandatanganan Maritime Pollution Committee dengan pihak Australia pada Rabu (27/3)
 
Isu penting yang dibahas pada Executive Meeting forum tersebut meliputi peningkatan hubungan kerja sama antara Indonesia dengan Australia, review pencapaian kerja sama antara Indonesia-Australia termasuk penandatanganan MoU Transport Sector pada bulan Agustus 2018, Ship Safety Inspection & Solid Bulk Cargo dan Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) pada awal Maret 2019, penambahan capacity building di bidang transportasi, peningkatkan kerjasama research and development transportasi, dan pengembangan Sea Aircraft (pesawat amphibi), peningkatan kerjasama transportasi darat khususnya penurunan tingkat kecelakaan sepeda motor.
 
Topik pembahasan lainnya pada forum tersebut meliputi  Sektor perhubungan laut (Core Priorities in the International Maritime Organization: Indonesia and Australia exchange views on priorites in the IMO; Search and Rescue; Maritime Safety; Marine Environment Protection; Port State Control; Solid Bulk Cargoes dan sektor perhubungan udara (Remotely Piloted Aircraft Systems: discussion on opportunities for governments and safety regulation; Discussion on Jakarta ATM Modernisation Word and status of the new platform; Discussion on Foreign Air Carrier Oversight ; Discussion on Aviation Medical Study Visit ; Possibility of Workshop Evaluation on Specific Operator Risk Assessment; Discussion on Strategic Management Training; Possibility of Surveillance Writing Report Training; Possibility of Aviation Communication Training for aviation personnel and Basarnas). (AH)