Rukyatul Hilal Era Milenial

Rukyatul Hilal Era Milenial
Rukyatul Hilal Era Milenial

Dari tahun ke tahun begitu terus. Setelah menyaksikan hilal, petugas kemudian membuat laporan di bawah sumpah. Di lokasi rukyat itu juga.

Laporan dari lapangan dikirimkan ke Jakarta. Di ruang sidang isbath. Di kantor Kementerian Agama. Sebagai dasar penetapan tanggal 1 Ramadan.

Saya pernah membuat terobosan. Tahun 2012. Memanfaatkan teknologi informasi dalam merukyat bulan tanggal 1 Ramadan.

Saya siapkan peralatan live streaming dari 10 lokasi: Cakung, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Makassar, Banjarmasin, Aceh, Padang, Medan dan Batam.

Live streaming digunakan agar petugas yang disumpah bisa melaporkan secara langsung dalam audio visual. Selama ini hanya pakai telepon. Tanpa visual.

Di kantor Kemenag, saya siapkan sebuah LED screen berukuran besar. Untuk memonitor siaran langsung dari daerah-daerah. Bergantian.

Live streaming dari 8 daerah berhasil. Dua lainnya gagal. Satu tidak ada sinyal. Satu lagi hujan lebat. Acara merukyat batal.

Saat itu saya belum menggunakan teknologi video conference. Ribetnya luar biasa. Sayangnya terobosan itu tidak dilanjutkan lagi. Tahun-tahun sesudahnya kembali ke cara tradisional lagi.

Padahal, kalau mau, dengan webinar, mengelola acara seperti itu tidak sulit lagi. Di setiap lokasi rukyat harus dipastikan ada sinyal selular. Bandwidthnya juga memadai. Kemudian petugas melaporkan langsung hasil rukyat menggunakan smartphone. Bergantian.

Di kantor Kemenag disiapkan master control. Untuk mengelola video conference. Dihubungkan dengan kamera, mikrofon, LED screen dan speaker. Peseta sidang isbath bisa berkomunikasi audio visual.

Platform webinar bisa mengelola banyak user. Bisa 10 ribu user. Tapi menurut hemat saya, 100 user saja sudah kebanyakan.

Tertarik?