mendikbud
Mendikbud Muhadjir Effendy usai memberikan pengarahan pada kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional 2019

JAKARTA, MENARA62.COM – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengingatkan sebagai bangsa yang besar Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad 21.  Budaya literasi tersebut dibangun secara terintegrasi antara keluarga, sekolah dan masyarakat.

“Setidaknya ada 6 jenis literasi dasar yang harus dikuasai seseorang yakni literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finasial serta budaya dan kewarganegaraan,” tutur Mendikbud saat memberikan pengarahan pada kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional 2019, Sabtu (13/4/2019).

Dari 6 jenis literasi tersebut, menurut Mendikbud membaca dan menulis merupakan jenis literasi yang dikenal paling awal oleh manusia. Ini karena membaca dan menulis termasuk literasi fungsional yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan menguasai literasi baca dan tulis, seseorang dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik,” lanjut Mendikbud.

Sayangnya, berdasarkan survey yang dilakukan Organization for Economic Corporation and Development (OECD) tahun 2015 menunjukkan minat baca anak Indonesia tergolong rendah yakni berada pada peringkat 69 dari 76 negara dengan skor rata-rata 397 dari skor rata-rata internasional 500.

Teks foto:

Selain itu berdasarkan kajian literasi yang dilakukan Pusat Pengembangan dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) Badan Bahasa tahun 2018 menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam mengolah informasi dan menjawab pertanyaan analisis, sintesis, refleksi serta interpretasi dari berbagai macam jenis teks masih kurang.

Kemendikbud lanjut Muhadjir terus berupaya menggalakkan budaya literasi untuk meningkatkan minat baca siswa. Gerakan Literasi Nasional yang telah dicanangkan sejak dua tahun lalu bahkan terus diperluas, tidak sekedar membaca dan menulis untuk memahami teks. Tetapi juga berupaya meningkatkan kemampuan siswa untuk mengikuti perkembangan zaman sekaligus menjawab tantangan yang ada.

Sementara itu, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Dr. Hurip Danu Ismadi, M.Pd mengatakan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan menulis siswa, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari gerakan donasi buku bacaan yang dikirim setiap tanggal 17, gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai dan lainnya.

Kemendikbud juga terus meningkatkan kemampuan para pegiat literasi dan guru. Salah satunya dengan bimbingan tehnis yang digelar selama 7 hari bagi 120 guru dan pegiat literasi dari seluruh Indonesia.

“Pelatihan ini memberikan kemampuan tambahan bagi para pegiat literasi sehingga mereka akan lebih baik lagi dalam melakukan tugas-tugasnya meningkatkan budaya literasi masyarakat,” kata Hurip.

Kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional tersebut melibatkan beberapa praktisi, akademisi, dan tokoh literasi, seperti Marsudi Wahyu Kisworo, Emi Emilia, Krisanjaya, Bambang Trimansyah, Habiburrahman El Shirazy, Firman Venayaksa, Gol A Gong, Wien Muldian, dan Billy Antoro.

Dari 120 orang peserta Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional tersebut akan dipilih 30 peserta terbaik untuk melatih para fasilitator literasi baca-tulis di enam regional, yaitu regional Sumatra, regional Kalimantan, regional Jawa, regional Bali-NTT-NTB, regional Sulawesi-Maluku, dan regional Papua.

Selanjutnya, baik instruktur maupun fasilitator literasi baca-tulis tersebut melakukan praktik baik berliterasi baca-tulis secara masif di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat di daerahnya masing-masing dengan bekerja sama dengan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra serta 30 Balai/Kantor Bahasa di daerah.

BACA JUGA: