Petugas Kesehatan Haji Tak Sekedar Mengenalkan Alat Pelindung Diri

petugas haji
Pemantapan tim petugas kesehatan haji. (ist)

JAKARTA, MENARA62.COM – Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa petugas kesehatan haji tidak sekedar mengenalkan alat pelindung diri atau APD. Mereka juga harus membina dan melayani jamaah haji terutama dalam memelihara kondisi kesehatan.

“Disinilah pentingnya tim promotif preventif petugas kesehatan haji,” kata Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, saat memberikan arahan dalam Workshop Konsolidasi Tim Promotif Preventif 2019 pada Jumat (12/4) di Sentul, Jawa Barat.

Eka Yusuf mengingatkan seluruh petugas kesehatan haji pergi ke Tanah Suci adalah untuk bekerja. Karenanya mereka diminta focus pada pekerjaannya.

Pada penyelenggaraan haji tahun 2019, TPP akan diperkuat oleh 22 orang tenaga kesehatan yang terdiri atas 6 dokter umum, 1 dokter spesialis, 3 orang perawat, dan kesehatan masyarakat sebanyak 12 orang. Tim ini akan menyasar 221.000 jemaah dari 13 embarkasi yang terbagi ke dalam 507 kloter.

Eka menekankan agar seluruh anggota TPP memahami benar petunjuk teknis (juknis) dan menguasai materi edukasi kesehatan yang akan disampaikan kepada jemaah. Petunjuk teknis tersebut telah disusun sejak 2016 bersama pakar kesehatan komunitas dan lintas program Kemenkes. Sampai saat ini juknis terus diperbarui sebagai hasil evaluasi dan penyesuaian terhadap situasi dan kondisi terkini di Arab Saudi.

Penyelenggaraan ibadah haji umumnya akan dibagi menjadi tiga fase yakni pra-Armina (Arafah-Mina), Armina dan pasca-Armina. Pola kerja TPP, selain mengikuti fase tersebut juga akan mengikuti pergerakan jemaah yang menyesuaikan daerah kerja masing-masing, baik di Mekah, Madinah maupun bandara.

“TPP mesti memahami situasi. Identifikasi lokus dan waktu kritis. TPP harus bisa memandirikan jemaah,” tegas Eka.

Pada workshop ini TPP juga akan mematangkan juknis promotif preventif dan menyusun rencana kegiatan operasional harian selama 72 hari bertugas di tanah suci. Dalam pelaksanaan tugasnya nanti, TPP akan dibagi ke setiap kloter, sektor, dan daker. Pada fase Armina, tim bahkan dibagi ke setiap pos jaga dan bertugas berdasarkan shift waktu kerja.

TPP ialah tim yang bertugas melakukan upaya promotif dan preventif kepada jemaah haji Indonesia. Lingkup kerja TPP akan berada pada tiga hal yaitu: promosi kesehatan, perlindungan khusus, dan diagnosis dini/temuan kasus. Upaya promotif dilakukan dengan memberikan penyuluhan kesehatan tentang pengenalan terhadap faktor risiko, gejala, dan pencegahan penyakit, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sampai dengan pencegahan terkena heat stroke (sengatan panas).

Selain itu, tim yang menjadi bagian dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan juga akan mendistribusikan media komunikasi, informasi dan edukasi kesehatan ke kloter-kloter dan sektor, membagikan APD seperti masker, payung, sandal kepada jemaah, memberikan oralit dan nutrisi cair khususnya saat puncak haji di Armina, dan menemukan kasus-kasus penyakit tertentu yang terjadi pada jemaah.