KKN Merajut Nusantara II, Sebuah Upaya Membangun Daya Juang Generasi Muda

KKN II
Sebagian peserta KKN Merajut Nusantara II tiba di kantor Gubernur Kalbar. (ist)

AHMAD Risky Mudzakir harus menempuh perjalanan dua hari dua malam untuk menuju lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Kalimantan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Bersama 250 mahasiswa lain dari 35 perguruan tinggi  wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten, ia memulai pengabdiannya pada Maret 2019 lalu setelah namanya lolos dalam seleksi KKN Merajut Nusantara II yang diinisiasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Menyambangi desa Kalimantan yang jaraknya ratusan kilometer dari Pontianak, ibukota propinsi Kalimantan Barat tersebut, tentu tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) tersebut bahkan tidak tahu kalau Indonesia memiliki desa seperti Desa Kalimantan. Sebuah desa yang sangat jauh, dimana untuk menjangkaunya saja membutuhkan perjuangan yang tidak bisa dikatakan gampang.

Tidak hanya memakan waktu perjalanan yang cukup lama, tetapi akses jalan yang harus dilalui menuju Desa Kalimantan juga teramat sulit, harus melewati jalanan di tengah hutan belantara, kadang terhalang batu besar, tanah liat yang licin, jalanan yang rusak, menyeberangi sungai dan sekali dua kali terpaksa menyambung dengan berjalan kaki.

“Perjalanan melelahkan tetapi sekaligus membanggakan. Perjalanan yang menyadarkan saya betapa luas wilayah Indonesia. Tentu tidak mudah mengelola negeri yang luas dan beragam penduduknya seperti Indonesia,” kata Risky kepada Menara62.com akhir pekan lalu.

kkn II
Mengarungi sungai menggunakan kapal ferry sebelum akhirnya tiba di Desa Nibung dan Desa Kalimantan (ist)

Meski jauh dan melelahkan perjalanan yang ditempuh, Risky mengaku beruntung bisa menyambangi Desa Kalimantan. Desa yang namanya tidak terkenal di jagat raya, tetapi memiliki fungsi sangat strategis bagi Negara Indonesia. Desa Kalimantan, menjadi salah satu dari 8 desa di kecamatan Paloh yang memperkuat jati diri, menjaga martabat dan  identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah serbuan pengaruh Negara Malaysia yang hanya berjarak patok belaka.

Mengikuti KKN di Desa Kalimantan tidak hanya membuka wawasan tentang betapa luasnya wilayah Indonesia. Tetapi bagi Risky, KKN juga mengajarkan tentang bagaimana hidup bersosialisasi dengan masyarakat desa, bagaimana melatih kepedulian antar sesama, bagaimana belajar memanfaatkan potensi yang ada. KKN juga melatihnya untuk bisa hidup mandiri dan bekerjasama.

“Mengenal penduduk desa Kalimantan meyakinkan saya bahwa saya juga kawan-kawan mahasiswa lain memiliki tugas berat untuk membangun negeri ini lebih baik lagi,” sambungnya.

Risky tidak sendiri. Ada 9 mahasiswa lain juga dosen pembimbing yang bertugas di Desa Kalimantan. Mereka bahu membahu membantu penduduk setempat untuk mengejar ketertinggalan. Melalui program sekolah berbasis masyarakat, motivasi belajar dan ice breaking, tim KKN Merajut Nusantara II kelompok Desa Kalimantan mendapat tugas pengabdian pada masyarakat untuk bidang pendidikan.

“Di desa ini, hampir 90 persen warganya buta huruf. Ini pekerjaan yang tidak ringan yang harus kami selesaikan hanya dalam kurun 10 hari saja,” lanjutnya.

Barangkali mengajarkan menulis dan membaca dalam 10 hari tidak akan berhasil maksimal. Tetapi setidaknya kurun waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan motivasi bagi penduduk setempat agar terus belajar dan belajar, memotivasi penduduk untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Bagaimana tim KKN Merajut Nusantara II memotivasi penduduk Desa Kalimantan untuk terus belajar, tonton tautan video ini:

Marhaji, 40, warga Desa Kalimantan yang berprofesi sebagai buruh perkebunan nanas mengatakan kehadiran mahasiswa dan dosen KKN Merajut Nusantara II memang tidak berhasil membuatnya bisa membaca dan menulis. Tetapi kini ia bertekad untuk menyekolahkan anaknya hingga universitas.

“Jangan sampai nasibnya sama dengan bapaknya. Anak-anak harus sekolah tinggi, bisa sukses seperti yang ada di televisi. Atau seperti adik-adik mahasiswa yang pada datang ke desa kami. Senangnya,” kata Marhaji.

Perjalanan menegangkan

Menuju Desa Kalimantan menyisakan kisah perjuangan tersendiri bagi Risky juga mahasiswa lainnya. Mereka harus menempuh perjalanan yang jauh menggunakan pesawat Hercules, transportasi darat, hingga perahu.

KKN ii
Memulai perjalanan menggunakan pesawat Hercules di Halim Perdana Kusumah. (ist)

“Kami bergabung bersama 250 peserta KKN dari 35 perguruan tinggi wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Menuju Pontianak menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU pada 11 Maret 2019 dari Halim Perdana Kusuma Jakarta,” kata Risky.

Di perut pesawat Hercules yang membawa para mahasiswa, lanjut Risky tidak dijumpai kursi empuk, pramugari cantik atau berbagai layanan lainnya seperti pada pesawat komersiil. Para mahasiswa duduk berhadap-hadapan, dengan gunungan kardus logistik di tengah badan pesawat, tak ubahnya pesawat cargo.

“Takut? Pasti. Setidaknya rasa itu tergambar dari wajah-wajah kami yang tegang, cemas, galau dan bibir yang tak kunjung berhenti melantunkan doa,” kata Sodik, peserta KKN lainnya.

Sepanjang mengudara, lanjut Sodik, tak satupun mahasiswa bersuara, semua diam seribu bahasa. Terlebih saat beberapa kali pesawat menghantam gelombang udara. Hingga akhirnya 150 menit waktu tempuh yang menegangkan itu berakhir sudah.

“Kami mendarat dengan selamat di Pontianak untuk kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Sambas lalu ke kecamatan Paloh dan terakhir Desa Kalimantan. Total dua hari dua malam perjalanan kami tempuh untuk menjangkau Desa Kalimantan,” tambah Sodik.

Kecamatan Paloh lanjut Sodik meski lokasinya masih di wilayah Kabupaten Sambas, bukanlah wilayah yang mudah untuk disambangi. Membutuhkan nyali besar dan semangat membara untuk menempuh perjalanan yang cukup sulit dan berliku bagi mahasiswa yang terbiasa hidup di kota.

uhamka
Tim KKN Merajut Nusantara II berfoto bersama Camat Tebas dan Dandim (ist)

“Di tengah perjalanan rombongan kami sempat bermalam di SMK Negeri 1 Paloh beralaskan tikar, ketika persediaan BBM menipis sementara matahari sudah mulai tergelincir di kaki langit tanda malam segera tiba,” katanya.

Diminta mengabdikan diri

Kabupaten Sambas menjadi salah satu wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) di Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 6.395,70 kilometer atau 639.570 hektar dan terletak pada bagian pantai barat paling utara dari propinsi Kalbar. Kabupaten Sambas terbagi dalam 19 kecamatan dan 193 desa dimana sejumlah desa  berada di perbatasan Indonesia- Serawak, Malaysia.

Sejumlah persoalan masih dijumpai di kabupaten Sambas mulai dari masalah kesehatan seperti tingginya angka penyakit demam berdarah, penyakit menular dan sanitasi. Bidang pendidikan, kabupaten ini masih ditemukan penduduk buta aksara yang cukup banyak. Lalu dibidang pertanian ada sekitar 200 hektar kebun nanas yang belum dimaksimalkan potensinya.

Karena itu, Gubernur Kalbar Sutarmaji saat menerima peserta KKN Merajut Nusantara II berpesan agar para peserta KKN benar-benar mengabdikan diri sesuai disiplin ilmu. Masyarakat Kabupaten Sambas menunggu uluran kaum akademisi untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

“Masyarakat menunggu uluran tangan kalian. Bantu mereka menyelesaikan berbagai persoalan yang ada seperti problem tingginya prevalensi demam berdarah, tingginya angka buta huruf dan bantu juga memaksimalkan 200 hektar kebon nanas agar memberi nilai ekonomi lebih,” pinta GUbernur.

Selain itu, tim KKN juga diminta mengamati dan melaporkan apa saja yang menjadi aspirasi masyarakat. “Jangan lupa catat hal-hal baru yang ditemukan di lapangan untuk menjadi masukan bagi kami,” lanjut Gubernur.

kkn
Mahasiswa KKN menyambangi sekolah, mengajarkan banyak hal kepada siswa.

KKN Merajut Nusantara II melibatkan mahasiswa dari 4 disiplin ilmu yakni pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif dan kesehatan. Mereka disebar pada 4 kecamatan yang ada di Kabupaten Sambas yakni kecamatan Sambas, Kecamatan Tebas, kecamatan Sajingan Besar dan kecamatan Paloh. Para mahasiswa menjalani KKN sejak 11 Maret hingga 24 Maret 2019 dengan fokus kegiatan yang sudah ditentukan sesuai bidang atau kompetensi.

Tak kalah pentingnya, lanjut Gubernur, peserta KKN diminta menceritakan kisah orang-orang Kalbar yang sukses meski mereka berasal dari pelosok. Kisah-kisah inspiratif itu penting sebagai pemacu semangat masyarakat desa untuk maju.

Sementara itu Dede Hasanuddin, salah seorang dosen pembimbing program KKN Merajut Nusantara II mengatakan KKN tak sekedar menjadi wahana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

kkn
Di Desa Kalimantan ini, mahasiswa dan dosen bahu membahu mengajarkan tentang pentingnya sekolah. (ist)

“KKN juga mengajarkan kerjasama, kemandirian, kerja keras, tidak mudah menyerah, melatih mahasiswa berpikir kritis, menumbuhkan rasa kepedulian social,” katanya.

Wilayah KKN Merajut Nusantara II yang merupakan daerah 3T, diyakini dapat menjadi wahana menempa mahasiswa agar menjadi generasi yang kuat, mandiri, kompetitif dan tidak mudah menyerah. Medan yang sulit dengan keterbatasan sarana prasarana yang ada, meski hanya berlangsung beberapa hari, berkontribusi positif dalam pembentukan karakter mahasiswa, menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan memupuk rasa rasa nasionalisme mahasiswa.

Wahana pembelajaran efektif

KKN Merajut Nusantara II merupakan kelanjutan KKN Merajut Nusantara I yang dilaksanakan di Belitung. Tercatat ada 35 perguruan tinggi yang berada di bawah LLD DIKTI wilayah III, mengikutkan mahasiswa dan dosen dalam KKN tematik tersebut.

Adapun wilayah kerja KKN Merajut Nusantara II kali ini meliputi 4 kecamatan di Kabupaten Sambas, Kalbar yakni kecamatan Sambas, Kecamatan Tebas, kecamatan Sajingan Besar dan kecamatan Paloh. KKN Merajut Nusantara II berlangsung 11 hingga 24 Maret 2019.

KKN Merajut Nusantara II
Tim KKN Merajut Nusantara II Berfoto bersama Ketua LLDDIKTI wilayah III Illah Sailah. (ist)

Dr. Illah Sailah selaku Ketua LLD DIKTI wilayah III mengatakan KKN Merajut Nusantara merupakan upaya meningkatkan potensi mahasiswa dan dosen perguruan tinggi swasta dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Program KKN ini berbeda dengan KKN yang sudah ada sebelumnya. Karena KKN Merajut Nusantara mengambil lokasi yang masuk dalam wilayah 3T.

Menurutnya, program KKN Merajut Nusantara adalah wahana pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa untuk mengabdikan diri secara ikhlas sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasai.

“Saya selalu berpesan kepada mahasiswa, selama di lokasi KKN jangan cengeng dan jangan banyak mengeluh, karena masyarakat menunggu karya mahasiswa,” katanya.

Illah yakin program KKN Merajut Nusantara yang bernilai satu SKS ini dapat memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa. Selain itu juga dapat meningkatkan soft skill bidang kepemimpinan dan komunikasi sosial mahasiswa, serta mendorong mahasiswa agar mampu menjadi agen inovasi dan transformasi.

Menurut Illah, KKN merupakan salah satu wahana belajar mengabdi kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa secara interdisipliner, institusional, dan kemitraan sebagai salah satu wujud dari Tridharma perguruan tinggi. Sasarannya adalah untuk menanamkan persaudaraan antarsivitas akademika perguruan tinggi, cinta Nusantara, sadar kondisi bangsa, berpartisipasi membangun bangsa, menyiapkan diri membangun profesi agar bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Menristekdikti Mohammad Nasir. (ist)
Menristekdikti Mohammad Nasir. (ist)

Sementara itu Menristekdikti Mohammad Nasir mengingatkan bahwa KKN bukanlah sekedar program jalan-jalan mengenal wilayah Indonesia. Tetapi hendaknya mahasiswa mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat.

“Mahasiswa harus bisa mendampingi masyarakat untuk mengatasi persoalan yang dihadapi mereka sekaligus membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Nasir.

Menteri Nasir mengingatkan bahwa mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat. Karena itu alangkah baiknya mahasiswa berperan aktif pada kegiatan kemasyarakatan salah satunya melalui program KKN. Minimal dengan mengikuti KKN, mahasiswa menjadi tahu bagaimana sebenarnya kondisi masyarakat saat suatu daerah, persoalan apa yang dihadapi dan bagaimana membantu masyarakat menyelesaikan masalahnya.

“Itulah mengapa, dulu KKN menjadi program wajib yang harus diikuti mahasiswa,” tutup Menteri Nasir. (m.kurniawati)