Istilah Imunisasi Dasar Lengkap menjadi Imunisasi Rutin Lengkap Disempurnakan
Istilah Imunisasi Dasar Lengkap menjadi Imunisasi Rutin Lengkap Disempurnakan

JAKARTA, MENARA62.COM – Pada Pekan Imunisasi Dunia tahun 2019 ini, diperkenalkan istilah Imunisasi Rutin Lengkap. Istilah ini dimaksudkan untuk menyempurnakan istilah yang selama ini sudah dikenal yaitu Imunisasi Dasar Lengkap.

Penggunaan istilah ini untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat vaksin, dan pentingnya imunisasi rutin lengkap bagi kesehatan anak dan masyarakat, membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mewujudkan kesehatan derajat masyarakat setinggi-tingginya. Selain itu, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya program imunisasi sebagai investasi dalam mewujudkan bangsa yang sehat, bermutu, produktif dan berdaya saing.

Demikian pesan yang disampaikan Drg R Vensya Sihotang MEpid, Direktur Surveillance dan Karantina, Kementerian Kesehatan, pada acara Temu Ilmiah dalam rangka Pekan Imunisasi Lengkap, di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Menurut Vensya, Indonesia memperingati  Hari Pekan Imunisasi Dunia setiap tahunnya di minggu keempat bulan April. Peringatan ini menurutnya, untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya imunisasi. Tema di tahun ini yaitu, Imunisasi Lengkap, Indonesia Sehat.

“Imunisasi lengkap adalah keadaan jika seorang anak memperoleh imunisasi rutin secara lengkap, mulai dari  imunisasi dasar lengkap pada usia 0-11 bulan, imunisasi lanjutan berupa DPT,  HiB,  campak, Rubela pada usia 18 bulan,  imunisasi lanjutan campak, Rubela, dan TB pada kelas 1 sekolah dasar, madrasah dan ibtidayah, serta imunisasi lanjutan TB pada anak kelas 2 dan kelas 5 pada sekolah dasar madrasah dan ibtidayah,” ujarnya.

Vensya mengatakan, pilihan tema Pekan Imunisasi Dunia ini, karena kita masih harus melanjutkan upaya untuk mewujudkan pelayanan imunisasi yang bermutu dengan cakupan tinggi dan merata di seluruh tanah air.

“Selain itu, tema ini  memuat pesan bahwa imunisasi dasar lengkap saja hingga 11 bulan tidak cukup memberikan perlindungan yang optimal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” ujarnya.

Vensya mengatakan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dan disikapi. Dalam 4 dasawarsa Indonesia telah berhasil mencapai eradikasi cacar tahun 1974, eradikasi  polio tahun 2014 dan eliminasi tetanus pada bayi tahun 2016.

“Kita telah melengkapi imunisasi dengan antigen-antigen yang dapat mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Di samping keberhasilan itu masih harus  bekerja keras dan cerdas untuk meningkatkan cakupan, jangkauan dan kuantiatas pelayanan imunisasi agar tidak muncul kejadian luar biasa,” ujarnya.

Pada pelaksanaannya, menurut Vensya, masih ada tantangan. Diantaranya, tantangan mengenai pasokan vaksin, manejemen rantai vaksin, layanan kualitas pelayanan imunisasi, isu negatif vaksin, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat imunisasi. Tantangan ini mesti disikapi dan diatasi bersama-sama oleh pemerintah, organisasi profesi kesehatan, dunia usaha dan seluruh lapisan masyarakat, agar pelaksanaan imunisasi dapat berjalan sebaik-baiknya dan masyarakat terlindung dari penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi.