Tanwir
Tanwir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan tentang kata tanwir. Penjelasan itu disampaikan pada peserta pengkajian Ramadhan di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan di JakartaAhad (12/5/2019).

Kata tanwir menurut Haedar, diambil dari kata nuur, yaitu cahaya, memantulkan cahaya. Makna Naaro mengeluarkan terang dan enerji. Makna arro’yu yaitu akal pikiran. Dimensi cahaya cahaya yang otentik dan menghidupi, juga akal yang membuat kehidupan yang remang-remang menjadi terang benderang.

“Inilah yang kita ambil menjadi kata pencerahan,” ujarnya.

Jadi tanwir setidaknya memiliki lima unsur pokok. Pertama, dimensi keyakinan yaitu tauhid yang mencerahkan. Dalam ber-Muhhammadiyah dan berislam, maka tauhid menjadi asas. Tauhid bukan hanya keilahiahan tetapi juga kemanusiaan. Bahkan tauhid juga berbicara tentang alam semesta.

“Orang yang bertauhid, maka tidak akan melakukan penindasan kepada sesamanya. Orang bertauhid tidak akan merasa paling hebat dari yang lain,” ujarnya.

Kedua, elemen keadaban (al akhlak kariim). Akhlak sebagai wilayah etik dalam kehidupan ini, dalam berbangsa dan negara. Bukan hanya akhlak individual tetapi juga kesalehan sosial.

“Orang Muhammadiyah melakukan sesuatu itu ikhlas, tidak pura-pura. Membangun keadaban itu denga etika. Termasuk dalam politik kebangsaan, maka harus jadi uswah hasanah. Dalam kondisi panas maka kita harus jadi pendingin,” ujarnya.

Ketiga, dimensi iqro. Iqro melahirkan gerakan pemikiran dan ilmu. Di Muhammadiyah, menurutnya, punya bayani, burhani dan irfani. Ini adalah konstruksi keilmuan yang harus dikembangkan Muhammadiyah.

“Orang Muhammadiyah harus pro terhadap pengembangan ilmu. Muhammadiyah harus mengembangkan budaya iqro sehingga selalu melakukan nalar kritis,” ujarnya.

Keempat, elemen kemajuan (alhadoroh). Islam pencerahan itu Islam berkemajuan. Muhammadiyah bukan hanya retorika dan diksi, tetapi juga dibuktikan dalam gerakan. Kehadiran Muhammadiyah telah menerobos banyak kemajuan di tanah air dalam berbagai hal, baik pendidikan, hizbul wathan, gerakan perempuan dan lain-lain.

“Karya-karya kemajuan Muhammadiyah bagian dari risalah kemajuan. Semua amal usaha Muhammadiyah harus berkemajuan,” ujarnya.

Kelima, dimensi kerahmatan. Islam itu rahmatan lil alamin, memberikan kemaslahan untuk siapa saja, dan itu sudah dipraktekkan. Gerakan itu dilakukan Muhammadiyah sampai ke pelosok-pelosok dan beragama yang berbeda. Muhammadiyah tidak mengedepankan slogan, tetapi langsung terjun. Inilah peran Muhammadiyah.

“Kalau hanya memberikan label-label itu sangat mudah sekali, tetapi yang begitu bisa jadi meretakkan ukhuwah. Maka mubaligh Muhammadiyah harus lebih dari mubaligh lain, baik dari ilmu dan akhlak,” ujarnya.

Dalam urusan politik, menurut Haedar, Muhammadiyah harus beyond, melampaui semua praktek-praktek praktis yang ada. Semua warga Muhammadiyah, menurut Haedar, harus menghadapi dinamika politik dengan cerdas.

“Saya berharap semua warga Muhammadiyah membaca 10 sifat Muhammadiyah. Agar kita paham garis Muhammadiyah secara benar. Muhammadiyah bukan individu tetapi jam’iyah yang didalamnya ada sistem,” ujanrya.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, menurut Haedar, dengan risalah tanwir, maka ada cara yaitu baik dalam dakwah atau perjuangan Muhammadiyah melakukan revitalisasi dari cara keras konfrontatif menjadi pendekatan moderat. Orientasi pada solusi dan mencerdaskan. Pendekatan yang moderat dan mencair, itu harus jadi alternatif dalam menyelesaikan masalah kebangsaan.

“Kalau teologi ini yang kita bangun, maka kita akan tu’maninah dan dalam kondisi tenang. Jadi kita terus berjuang di Muhammadiyah membawa risalah, tanpa pamrih, semuanya karena Allah,” ujarnya.