Puasa di India dan Transplantasi Hati

tjandra yoga
Prof. Tjandra Yoga Aditama

Foto diatas adalah foto yang saya ambil pada Rabu pekan lalu saat jam di New Delhi menunjukkan jam 18.55, “senyum menjelang berbuka puasa” di depan Emergency Department. Ketika itu saya baru selesai menjenguk teman sejawat dari Indonesia yang menjalani transplantasi hati di The Institute of Liver and Biliary Sciences (ILBS), sebuah Rumah Sakit mono-superspeciality yang menangani liver and biliary diseases. RS yang mulai 2009 ini didirikan oleh Pemerintah Daerah Nation Capital Territory (NCT) of Delhi.

ILBS melakukan ratusan transplantasi hati dan juga ginjal setiap tahunnya. Dokter bedah yang mengoperasi teman sejawat kita ini sudah melakukan sekitar 500 transplantasi hati. Teman sejawat yang menjadi donor diambil 65% hatinya, pasca bedah di rawat 2 hari di ICU lalu pindah ruang rawat biasa untuk sekitar 10 hari, lalu bisa keluar RS.

Sementara resipiennya, seluruh hatinya diangkat dan “diganti” dengan “hati baru” dari donornya. Resipien akan dirawat di ICU transplant selama 2 minggu dulu sebelum pindah ke ruang rawat khusus pasca transplantasi selama 10 hari – 2 minggu, lalu baru pulang.

Karena ini “orang asing” yang dioperasi transplantasi di India maka urusan legalnya cukup ketat. Ada berbagai dokumen yang perlu pengesahan berbagai tingkatan, termasuk tentunya dari KBRI di New Delhi.

Tentang Ramadhan di Delhi, ada 3 kisah lainnya. Pertama, waktunya lumayan panjang, Subuh 04.05 dan berbuka 19.05, seperti foto ini. Ke dua, suhu lumayan panas, siang hari sampai 40 derajat celcius. Ke tiga, India mulai puasa pada hari Selasa (7 Mei 2019) karena Minggu malam mereka tidak bisa lihat bulan. Saya ragu juga mau ikut India atau Indonesia awal puasanya, akhirnya saya putuskan ikut Indonesia saja karena 2 alasan, pertama karena banyak negara dunia memang mulai puasa 6 Mei dan beberapa negara bagian India juga ternyata mulai puasa 6 Mei juga.

Untuk WNI di New Delhi maka biasanya ada buka bersama di KBRI, seperti Sabtu malam yang lalu yang digabungkan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Secara fisik dan ilmu kesehatan maka seseorang memang dapat untuk berpuasa (walaupun kelihatannya panjang dan panas). Setidaknya ada Lima resepnya,

1) Sahur yang cukup (makanan bergizi dan minum yg cukup),

2) Karena New Delhi 40 C maka sedapat mungkin hindari matahari langsung cukup lama,

3) Aktifitas fisik tetap dilakukan, setidaknya jalan di kantor dan jangan duduk saja,

4) Berbuka dengan makanan bergizi dan tentu jangan sekaligus “balas dendam” jam 19.05 waktu buka, dan yang paling penting tentu

5) Niat puasa Ramadhan karena Allah SWT.

tjandra yoga
Bekal makanan khas Indonesia saya taruh di freezer. (ist/dok.pribadi)

Foto yang satu lagi adalah “bekal” saya dari Jakarta untuk bulan puasa tahun ini, yang saya masukkan di freezer. Isinya antara lain 50 bungkus es buah (1 untuk berbuka dan 1 untuk sahur), rending, gulai ayam, opor dan juga gudeg kaleng.

Penulis

Prof. Tjandra Yoga Aditama (Direktur di WHO SEARO)