idi
Pengurus PB IDI berfoto bersama usai keterangan pers terkait berbagai kegiatan Hari Bakti Dokter Indonesia ke-111

JAKARTA, MENARA62.COM– Sejumlah persoalan serius masih menjadi tantangan dunia kedokteran dan kesehatan di Indonesia. Mulai dari stunting, gizi kurang, obesitas, meningkatnya penyakit tidak menular atau katastropik hingga perilaku kurang sehat masyarakat.

“Itu menjadi pekerjaan rumah kita bersama yang harus segera diatasi, tidak hanya oleh profesi kesehatan tetapi juga seluruh bangsa,” kata Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. Daeng M Faqih, SH.MH di sela keterangan pers terkait Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-111, Senin (20/5).

Diakui peran dokter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah dimulai sejak zaman penjajahan. Setidaknya ada tiga peranan penting para dokter dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

Peran pertama bahwa dokter telah menginspirasi perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Dalam konteks ini, dokter terjun secara fisik untuk ikut berjuang bahkan memimpin sendiri perjuangan merebut kemerdekaan.

Peran kedua bahwa dokter memiliki spirit, semangat perjuangan untuk menyamakan harkat dan martabat dengan dokter-dokter dari Belanda. Dimana zaman dahulu, dokter Indonesia ditempatkan pada posisi kelas dua.

“Di era disrupsi, semangat untuk meningkatkan derajat dan martabat juga harkat para dokter Indonesia terus bergaung,” tambah Daeng.

Peran ketiga, bahwa para dokter rela untuk memberikan pelayanan kesehatan dan siap untuk mengabdi kepada masyarakat dalam situasi dan kondisi seperti apapun. Dalam konteks kekinian, peran ketiga ini diantaranya mengambil peranan aktif untuk mengatasi berbagai persoalan kesehatan yang masih menjadi problem serius di Indonesia.

Menurut Daeng, pembangunan kesehatan tidak terlepas dari peran sentral dokter. Dokter adalah intelektual yang dalam menjalankan profesinya berhadapan langsung atau berada di tengah masyarakat dengan bekal nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala tindakannya. Nilai profesi tersebut antara lain kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi (competence).

“Dimanapun dokter berada, seyogyanya ia menjalankan peran intelektual professional. Itulah yang dilakukan oleh para sejawatnya lebih dari seabad yang lalu,” jelas Daeng.

Sementara itu Ketua Panitia Hari Bakti Dokter ke-111 Dr.  Henry Salim Siregar, SpOG mengungkapkan tahun ini, peringatan HBDI mengambil tema IDI menyehatkan bangsa. Tema ini ditetapkan dengan semangat untuk menggugah kembali keutuhan, kebersamaan, kesatuan dan keterpaduan antara satu anak bangsa dengan yang lainnya.

Sejumlah kegiatan akan digelar mulai 20 Mei hingga 28 Oktober 2019. Diantaranya pembagian suplemen MMN pada remaja wanita, calon ibu, ibu hamil dan ibu menyusui, pembagian susu bagi anak usia diatas 1 tahun dan ibu hamil, gerakan sumbangan kacang hijau dan telur ke Posyandu , talkshow dan dialog interaktif kesehatan reproduksi remaja serta menerbitkan buku IDI menyiapkan generasi emas.

Selain itu ada juga gerakan cuci tangan, gerakan minum air, dokter kecil, pemberdayaan makanan khas daerah sebagai sumber gizi seimbang dan kampanye sarapan sehat.

Berbagai kegiatan tersebut akan digelar di sejumlah lokasi seperti banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Palangkaraya, Makassar, Manado dan Ternate. Puncak acara akan digelar di DKI Jakarta berupa fun run dan panggung ceria IDI menghibur masyarakat.