UAD Latih Mahasiswa Jadi Start Up Bisnis

Danang Sukantar (kiri) saat membuka pelatihan kewirausahaan kepada mahasiswa di Kampus I UAD Yogyakarta, Selasa (21/5/2019). (foto : istimewa)

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan bagi mahasiswa UAD, Selasa (21/5/2019). Pelatihan yang dilaksanakan di Kampus I UAD Jalan Kapas 9 Yogyakarta ini diharapkan mahasiswa UAD bisa menjadi Start Up bisnis.

Demikian diungkapkan Danang Sukantar MPd, Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Kemahasiswaan Bimawa UAD kepada wartawan di Yogyakarta, Kamis (23/5/2019). Pelatihan kewirausahaan ini diikuti mahasiswa penerima beasiswa Baznas dan beasiswa unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

“Pelatihan ini diharapkan agar mahasiswa penerima beasiswa itu memiliki wawasan yang cukup dan kemampuan serta kemauan untuk berwirausaha saat masih aktif sebagai mahasiswa,” kata Danang Sukantar.

Menurut Danang, meningkatkan jumlah start up bisnis dari mahasiswa sangat penting. Sebab di era industri 4.0, generasi milenial dituntut kemandiriannya. Karena itu, Bimawa berupaya untuk meningkatkan jumlah start up melalui pelatihan, pendampingan dan permodalan. “Generasi milenial itu kreatif dan inovatif, mereka menguasai sistem informasi. Itu modal penting,” kata Danang.

Pelatihan ini menghadirkan nara sumber Vernandi Yusuf Muhammad, mahasiswa semester 6 Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri (FTI UAD). Vernandi adalah Founder Bluetooth untuk Pemantauan dan Pengendalian Hidroponik (BPONIK) yang pernah menjadi juara 1 stan kewirausahaan pendamping pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 31 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), September 2018 lalu.

Vernandi yang memiliki panggilan akrab ‘Coach Vernand’ ini merupakan salah satu dari dua pendamping Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) Wilayah DIY dan Surakarta. Ia ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Dalam pelatihan tersebut, Vernandi mengungkapkan pengalamannya meraih dana bisnis dari berbagai kompetisi bisnis yang diselenggarakan Kemristekdikti. Di antaranya, Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) dengan dana maksimal Rp 12 juta, Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) dengan dana maksimal Rp 40 juta, CPPBT, TBIC Puspitek Dikti, dan lain-lain.

“Modal utama adalah harus memiliki keinginan yang kuat dari diri sendiri. Kemudian mencari teman yang memiliki komitmen sama. Kemudian bisnis dilaksanakan secara bersamaan dengan teman,” katanya.

Agar tidak terjadi perselisiha, ujar Vernandi, bisnis harus dilakukan secara transparan dengan anggota yang lain. “Buat aturannya terlebih dahulu, bagi tugas dengan baik, lakukan sharing ketika ada masalah. Ini untuk menjaga kesolidan tim,” jelasnya.