Profesi Guru Kurang Diminati, Ini Kata Ketum PGRI

pgri
Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi bersama pengurus PB PGRI.

JAKARTA, MENARA62.COM – Meski penghasilan guru saat ini sudah meningkat setelah adanya sertifikasi, tetapi minat generasi muda untuk menjadi guru masih rendah. Data hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA/MA tahun 2019 menyebutkan bahwa mereka yang berminat menjadi guru rata-rata memiliki nilai yang sedang atau nilai rata-rata.

Terkait dengan itu, Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi menyebutkan bahwa rendahnya minat generasi muda menjadi guru karena guru dinilai sebagai pekerjaan yang tidak menarik baik dari segi insentif maupun proses.

“Orang kalau sudah masuk kuliah, yang dipikirkan tentu masa depannya. Jika tidak menjanjikan pasti tidak dipilih,” kata Unifah.

Risikonya, kini tenaga guru dan dosen banyak diisi oleh generasi muda dengan nilai dan kemampuan yang rata-rata. Sedang mereka yang memiliki kemampuan lebih, nilai diatas rata-rata cenderung memilih profesi atau pekerjaan lain.

Karena itu, Unifah menilai pentingnya kita kembali ke Undang_undang Guru dan Dosen. Dalam UU tersebut sudah diatur bagaimana membuat profesi guru menjadi lebih baik, tidak hanya dari segi kompetensi tetapi juga insentif yang diperoleh.

Unifah membandingkan dengan profesi lain dimana untuk mendapatkan tunjangan profesi, tidak serumit profesi guru atau dosen. “Ada yang cukup daftarnya dengan finger print. Sementara untuk guru, sangat sulit dan berbelit-belit,” lanjutnya.

Hal lain adalah bahwa guru harus didorong menjadi professional. Menurut Unifah profesionalisme adalah jawabannya sehingga guru akan jauh lebih bermutu.

PGRI lanjutnya saat ini terus berupaya melakukan berbagai perubahan yang signifikan diantaranya dengan learning center yang bisa diakses ke berbagai daerah. PGRI juga mendorong pelatihan-pelatihan bagi guru terutama pelatihan yang berhubungan dengan profesi dan perkembangan zaman.