uhamka
Prof. Dr. Tono Saksono, Ketua, the Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA, Jakarta

JAKARTA, MENARA62.COM – Langkah untuk mengoreksi penetapan waktu shalat Subuh dan Isya di Indonesia terus dilakukan oleh Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Salah satunya adalah melengkapi data terkait tibanya saat fajar matahari dan tenggelamnya matahari di sejumlah wilayah di dunia.

“Untuk wilayah Indonesia, kami sudah melakukan perekaman mulai dari Medan, Depok, Yogyakarta, Labuhan Bajo, Manokwari dan lokasi-lokasi lain. Kini tim ISRN UHAMKA segera ke Washington Amerika Serikat untuk melakukan perekaman waktu fajar dan tenggelam matahari di wilayah AS bertepatan musim panas,” kata Ketua ISRN Prof. Dr Tono Laksono dalam siaran persnya, Senin (10/6/2019).

Tim ini akan berada di AS sejak tanggal 13 hingga 26 Juli 2019. Diharapkan tim bisa mengambil data terkait tingkat kegelapan malam atau kecerahan langit sehingga waktu fajar dan tenggelam matahari bisa disimpulkan.

Di AS, lanjut Prof Tono, pihak ISRN UHAMKA akan berkolaborasi dengan sejumlah komunitas Muslim internasioal. Mereka akan melakukan kerjasama riset dalam pengambilan data fajar dan tenggelamnya matahari.

Diakui saat ini ISRN UHAMKA telah menjalin kerjasama dengan Open Fajr Project, sebuah komunitas Muslim di Ingris. Bersama komunitas tersebut, ISRN UHAMKA terus melakukan diskusi-diskusi intensif.

“Kami bahkan telah mendiskusikan rencana pembangunan Algorithm dengan Direktur Open Fajr Project Dr Shahid Meralli dan kini hampir final,” jelas Prof Tono.

Kerjasama tersebut telah menghasilkan belasan ribu foto rekaman fajar dan tenggelam matahari selama 700 hari. Dimana per hari, telah direkam rata-rata 74 foto menggunakan berbagai peralatan dan kamera. Untuk wilayah Inggris, pengambilan foto telah dilakukan selama kurun tahun 2017-2018.

Bersama Universiti Teknologi Malaysia (UTM), ISRN UHAMKA juga telah berkomitmen mengambil footo pada 1-5 Juli 2019 di wilayah Johor, Malaysia. Pengambilan gambar dan proses pengambilan data waktu Subuh dan Isya di Johor dilakukan bekerjasama dengan sebuah organisasi profesi yang sangat terpandang, The Royal Institution of Surveyors Malaysia (RISM).

RISM adalah bagian dari Royal Institution lainnya di negara Commonwealth seperti Royal Institution of Surveyors UK, Australia, Canada dan lainnya.

“Tampaknya proyek ini akan dikembangkan untuk seluruh wilayah Malaysia,” tukas Prof Tono.

Seperti diketahui ISRN UHAMKA menemukan penetapan waktu shalat Isya dan Subuh di Indonesia terlalu cepat. Waktu salat Subuh saat ini ditetapkan 20 menit lebih cepat dari yang seharusnya. Demikian juga salat Isya yang ditetapkan pemerintah terlalu malam. ISRN UHAMKA berupaya melakukan koreksi terhadap penetapan waktu shalat Subuh dan Isya.

“Kehadiran sinar fajar untuk menentukan jadwal salat Subuh ternyata 80 menit sebelum matahari terbit (dip-20 derajat). Penetapan waktu ini, menurutnya harus segera dikoreksi. Karena sebenarnya sinar matahari pagi baru dideteksi 53 menit sebelum matahari terbit (dip-13,3 derajat),” jelasnya.

Demikian pula untuk waktu salat Isya. Ketetapan pemerintah untuk awal waktu salat Isya telah menghilangkan sinar syafaq, yang mana baru terjadi 72 menit setelah Magrib (dip-18 derajat). Penetapan ini harus juga dikoreksi, karena sinar syafaq telah habis sekitar 52 menit setelah Magrib (dip-13,2 derajat).

”Penetapan waktu salat Subuh saat ini sekitar 26 menit lebih awal. Dan awal waktu Isya kita sekitar 19 menit lebih lambat,” ungkapnya.

Prof. Tono mengungkapkan kekacauan penetapan waktu salat Isya dan salat Subuh tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa Negara seperti Malaysia juga mengalami kejadian serupa yang menggunakan standar dip minus 20 derajat,

”Hasil riset kami (ISRN) UHAMKA sudah diminta oleh negara Malaysia untuk menyampaikan pandangannya. Karena, bukan saja Indonesia, negara-negara Asia Tenggara selama ini menggunakan standar dip minus 20 derajat,” tutup Prof Tono.