Surat Cinta Ibu Guru

Surat Cinta Ibu Guru
Surat Cinta Ibu Guru

Surat cinta adalah catatan hati yang ditulis pada secarik kertas kemudian dikirim kepada seseorang yang dicintai. Dicintai karena ingin memiliki, dicintai karena begitu menyenangkan, atau dicintai karena mengharapkan sesuatu yang lebih baik di masa depan. Seseorang itu bisa jadi adalah teman, sejawat, anak keturunan, anak didik, ataupun orang lain yang menarik perhatian.

Isi surat cinta adalah pernyataan hati. Tentu hati yang senang, bahagia, dan berbunga-bunga. Boleh jadi juga, surat itu sebagai ungkapan perasaan yang tidak sempat disampaikan secara langsung atau karena ingin menunjukkan bukti kecintaan itu sendiri.

Kapan terakhir kali anda menulis atau menerima surat cinta dari seseorang? Tentu saat itu hati kita senantiasa berdebar-debar. Ingin sekali tahu apa yang dikemukakan dalam surat tersebut.

Kemarin sore, sepulang sekolah, putriku memperlihatkan sepucuk surat kepasa saya. Surat cinta yang ditulis tangan oleh seseorang, yakni seorang guru kelas di sekolahnya, Gwynneville Public School, New South Wales, Australia. Isi surat itu sangat singkat dan sederhana. Hanya mengungkapkan rasa senang karena telah berkenalan. Itu saja.

Mengapa gurunya itu menulis surat cinta kepada muridnya? Karena sang guru akan segera cuti melahirkan. Setelah itu akan merawat bayinya. Dan tidak ada jaminan akan kembali ke sekolah ini mengajar murid-muridnya. Kemungkinan dia adalah guru honor atau guru kontrak yang masa kerjanya akan segera berakhir.

Demikianlah cara seorang guru menyatakan cintanya kepada murid-muridnya. Surat ini, memperlihatkan betapa sang guru ingin tetap bersama dengan muridnya. Ia berusaha untuk senantiasa berbagi dan saling mengisi. Sesuatu yang sifatnya sederhana, tetapi mempunyai makna yang sangat monumental :

Dear Mara
I have enjoyed
getting to knouw
you.

Miss Hu***
——————

Pada minggu sebelumnya, tepatnya hari raya Idul Fitri lalu, putriku tersebut juga menerima sepucuk surat cinta. Juga ditulis tangan oleh sang guru. Dimasukkan dalam sepucuk amplop putih. Juga disertai dengan satu bungkus kue coklat.

Surat itu ditulis oleh guru mengajinya di Graduate House Wollongong. Sebelum Ramadan lalu, putriku selalu mengaji di rumahnya, di bagian bawah dari rumah kami. Kami tinggal di lantai III, mereka di lantai I. Sang guru mengaji tersebut adalah seorang ibu, istri dari seorang dosen yang sedang belajar di University of Wollongong asal Pakistan.

Isi surat itu juga adalah ungkapan perasaannya atas prestasi yang diraih putriku yang juga santrinya tersebut, dalam Quran Competition di Masjid As Salaam Berkeley beberapa hari sebelumnya. Sebagai seorang guru, tentu kita sangat gembira atas pencapaian yang diperoleh oleh seorang murid. Rasa gembira itu ditulis dalam secarik kertas :

Dear
Mara Athirah

Congratulations on your hardwork & victory in the competition.

May Allah (S.W.T) reward you and make your work and you Sadiqa-e-Jariya for us. – – – Ameen.

You make me Proud.

From
Your Teacher
SHAH** AK**

Demikianlah bentuk perhatian dan rasa cinta seorang guru kepada muridnya. Ini adalah bentuk apresiasi dan penghargaan. Seorang guru berusaha untuk memperlihatkan rasa sayangnya kepada murid. Di sini ada ikatan batin yang kuat. Persaudaraan, kebersamaan juga kesetaraan dalam konteks kemanusiaan.

Harapan

Tentu tidak hanya berhenti sampai di situ. Justru dia mengharapkan agar surat cinta tersebut dapat memberikan motivasi kepada sang murid, agar lebih giat belajar dan terus berprestasi. Ini juga dapat dimaknai sebagai bagian dari pola komunikasi antara guru dengan orang tua murid. Sebabnya, orang tua juga akan membaca surat tersebut dan merasakan adanya hubungan yang erat.

Sebagai orang tua, pun dapat menilai sejauh mana nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme seorang guru. Bahwa seorang guru tidak hanya sekedar mengajar atau mendidik murid. Dia juga mengajak orang tua untuk saling memerhatikan. Oleh karena itu, surat cinta seperti ini adalah upaya yang dilakukan oleh seorang guru agar dapat menjadi sahabat yang baik bagi orang tua.

Surat ini memang sederhana. Bahkan boleh jadi, surat ini sesuatu yang langka kita temukan dalam lingkungan kehidupan kita sehari-hari. Jarang kita melakukan hal seperti ini. Saya saja sebagai dosen, belum pernah mengirim surat cinta kepada mahasiswaku.

Justru yang pernah kita kirim adalah surat teguran atau sejenisnya. Betapa sedihnya orang tua jika sempat membaca surat teguran dari sekolah atau kampus kepada anaknya. Apalagi surat skorsing atau DO, drop out.

Penulis: Haidir Fitra Siagian, Masjid Omar Gwynneville, Kamis (13/6/19) ba’da duhur