Sekolah Favorit Bukan Faktor Penentu
Sekolah Favorit Bukan Faktor Penentu

Tak lama lagi akan datang tahun ajaran baru. Para orang tua akan berusaha memasukkan anaknya masuk sekolah yang dipandang baik. Umumnya, orang tua akan mencoba mencari sekolah untuk anak-anaknya dengan kategori tinggi. Meski dengan bayaran yang cukup mahal. Sebab, bagi sebagian orang tua yang mampu, biaya masuk sekolah yang mahal bukanlah halangan.

Namun tang terpenting bagi mereka, bisa memasukkan anaknya ke sekolah favorit atau unggulan. Namun, tidak jelas sebenarnya apa kategori sekolah favorit tersebut. Apakah dari aspek fasilitas, sumber daya manusia dan seterusnya. Ada dalam papan nama atau brosurnya, disebut sekolah unggulan. Sekolah ini, dalam penerapannya ternyata tidak unggul.

Biasanya, sekolah favorit diukur dengan biaya masuk yang tinggi, fasilitas yang tersedia, dan bangunannya yang cukup besar. Satu lagi ukurannya, adalah tingkat penerimaan alumninya masuk sekolah favorit berikutnya atau masuk perguruan tinggi terkemuka.

Dari awal saya dengan nyonya tidak pernah berusaha mencari sekolah favorit untuk anak kami. Ketiga anak kami, ketika sekolah dasar cukup di sekolah yang dekat dari rumah, hanya 100 meter, jalan kaki bisa sampai. Tak perlu diantar. Mereka jalan kaki ke sekolah pergi-pulang dengan teman-temannya. Di situ ada kebersamaan dan persahabatan yang lebih akrab.

Di sekolah dasar yang sedikit terpencil ini, sama sekali tidak ada kelebihan yang mencolok dari sekolah lainnya. Walaupun untuk ukuran tertentu, masuk dalam kategori sekolah yang kurang diperhitungkan. Anak kami belajar bersama dengan anak-anak kampung dari berbagai latar belakang sosial ekonomi.

Ketika dua orang tiba saatnya masuk SMP, mereka diarahkan masuk ke pesantren dengan suka hati tanpa paksaan. Masuk pesantren yang tidak populer, bahkan amat sangat sederhana, dari aspek penerapan kurikulum, SDM, dan fasilitas lainnya. Mereka menginap di sana dengan fasilitas sederhana. Selain menimba ilmu, di sana mereka belajar kebersamaan, kejujuran, keadilan juga penderitaan.

Penderitaan jasmani dan rohani. Makanan sederhana dan terbatas. Mandi sederhana, kadang di sumur milik warga. Fasilitas asrama yang sederhana pula. Pernah teman menegur saya. Kenapa tega “membuang” anakmu ke sini? Tidak dibuang, mereka itu perlu pendidikan dalam arti yang sesungguhnya. Dan itu hanya dapat ditempat yang seperti ini. Kenapa? Karena mereka dibina dan dibimbing oleh guru-guru yang baik hati, sederhana, dan ikhlas.

Sekarang, kami boleh dikatakan telah dapat menikmati hasil pendidikan mereka selama di sekolah yang tidak favorit itu. Mungkin saja tidak pintar dan cerdas jika diukur dengan nilai mata pelajaran. Tapi dari aspek lain, tentu menggembirakan.

Sekarang ketiga anak kami sudah pindah sekolah ke Wollongong, Australia. Mengikuti ibunya yang sedang mengambil program doktoral. Sekolah di sini cukup menyenangkan bagi anak-anak. Guru yang ramah dan suasana yang menggembirakan. Tidak dikenal istilah favorit dan yang tidak favorit. Semua sekolah sama saja. Sama-sama menyenangkan dan nyaman bagi anak didiknya.

Bulan lalu, seorang putri saya juara satu ujian matematika dalam kelasnya. Seorang lagi juara dalam kompetisi Quran. Ketika di Indonesia, mereka bersekolah di sekolah yang tidak favorit. Sesampai di sini, mereka masih dapat menyesuaikan diri dengan siswa lokal, bahkan dari berbagai negara lain. Alhamdulillah.

Foto di atas adalah saat menemani putriku beli kebutuhan sekolahnya. Apa yang dia beli itu, sebenarnya tak terlalu penting menurut saya. Tapi bagi dia penting. Namanya juga anak-anak.

Tapi harus tetap dibeli, di tengah keterbatasan-keterbatasan yang ada dengan harga yang cukup mahal. Mengapa? Supaya dia senang. Karena membuat anak-anak senang dalam belajar adalah perkara terpenting dalam proses pendidikan. Jauh lebih penting dari sekedar mencari sekolah favorit , dan lain-lain.

Benar kata teman saya, mantan Ketua Umum PP Ikatan Remaja Muhammadiyah dalam satu kesempatan. Ukuran kualitas sekolah itu sederhana. Jika ada anak didik yang tidak ingin menambah hari libur, dan ketika anak yang sakit masih memaksakan diri untuk tetap pergi ke sekolah, itu artinya sekolahnya menyenangkan dan nyaman bagi dia.

Penulis: Haidir Fitra Siagian, Gwynneville, Ahad (16/6/2019).