Kepekaan Hati seorang Pelajar Arab

Kepekaan Hati seorang Pelajar Arab
Kepekaan Hati seorang Pelajar Arab

Dari halte yang tak jauh dari Masjid Omar, selesai shalat duhur tadi, kami naik bus ke pusat Kota Wollongong, New South Wales, Australia. Bus berhenti tepat di depan halte, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Bus pun berangkat, mesti sesuai dengan jadwal. Sangat jarang terjadi kedatangan atau keberangkatan bus diluar jadwal, kecuali ada masalah luar biasa, seperti kecelakaan, kerusuhan atau musibah lainnya.

Jika ada bus yang terlambat datang atau terlalu cepat berangkat, selain akan merepotkan penumpang, juga akan mengganggu jadwal bus lain, baik kedatangan dan keberangkatannya. Oleh karena itu, sistem transportasi di sini sudah cukup baik dan teratur. Hal ini, dalam pengamatan dan pengalaman saya, boleh menjadi pembeda antara negara maju dengan negara berkembang.

Seseorang yang akan berangkat ke suatu tempat, kantor atau kampus, sudah dapat memastikan kapan dia mesti berangkat dari rumah. Jangan terlalu cepat, sebab nanti bisa kelamaan di halte menunggu. Cek saja jadwal pada brosur atau pada laman situs departemen perhubungan setempat. Di situ sudah ada jadwalnya. Perkirakan saja berapa menit jalan kaki dari rumah. Pastikan tiba tepat waktu di halte, bila perlu sisakan waktu sekitar tiga menit lebih dulu.

Sopir bus akan menutup pintu jika waktu keberangkatan sudah tiba. Kadang sopir bus boleh memberi toleransi sedikit jika dia melihat ada seorang penumpang berlari mengejar bus, atau orang tua, anak-anak, dan ibu hamil. Itupun tergantung kepada kehendak sang sopir.

Naik ke dalam bus itu harus antri, lewat pintu depan. Sering terlihat calon penumpang berjejer di halte sebelum bus tiba. Memang demikian, harus antri, tidak boleh mendahului sesama penumpang. Begitu naik bus, ucapkan halo atau salam kepada sopir. Demikian juga pada saat turun, jika memungkinkan.

Beberapa rute di sini, busnya gratis, siapapun orangnya, tetapi khusus rute jalan dari dan ke kampus UoW. Sebab sudah ada kesepakatan antara pihak kampus dengan pemerintah setempat. Kesepakatan ini menjadi bentuk kemudahan kepada mahasiswa. Mungkin saja, ada kompensasi dalam bentuk tertentu antara pihak kampus dengan pemerintah kota.

Sedangkan bus untuk rute selain itu, harus membayar. Bayar pakai kartu atau uang tunai masih dibolehkan. Tapi jangan pakai uang pecahan besar, nanti tidak ada kembalian. Dalam hal ini sopir bisa saja jengkel. Jika anda suatu saat tidak punya uang kecil, maka sebaiknya melapor kepada sopir, maka dia akan mengizinkan naik bus. Itu dalam keadaan darurat saja misalnya. Jangan keseringan, karena sopir yang akan menanggulanginya.

Di dalam bus, ada aturan tertulis dan tak tertulis. Aturan tertulis antara lain larangan untuk makan minum, membawa minuman beralkohol, membuang sampah, menaikkan kaki ke kursi, dan seterusnya. Membawa binatang juga tidak boleh, kecuali untuk kasus tertentu. Misalnya, orang yang buta boleh membawa hewan peliharaannya sebagai penunjuk jalan.

Ada juga aturan khusus di kursi tertentu. Terdapat kursi prioritas kepada orang tua lanjut usia, anak-anak, dan wanita hamil. Khusus di kursi itu, seseorang yang duluan duduk di situ, harus rela pindah dan berdiri jika ada orang yang datang dengan prioritas tersebut.

Siang tadi, saya merasakan betapa warga negara di sini dan orang-orang yang datang ke sini memiliki tingkat kepekaan sosial yang tinggi. Ketika kami naik, bus sudah penuh. Kami berdiri sambil memegang tiang atau tali gantungan. Di bagian belakang sudah penuh, bahkan ada juga yang berdiri. Bus terus berjalan ke arah kota.

Pada satu halte, seorang wanita kira-kira seumuran dengan saya, naik dan berdiri di dekat pintu keluar. Bus berjalan lagi. Tiba-tiba seorang pemuda atau pelajar berperawakan Arab berdiri dan menyerahkan kursinya kepada wanita lokal tadi. Padahal si wanita bukanlah orang hamil atau lanjut usia. Lalu ia duduk dan mengucapkan terima kasih kepada si pemuda Arab tadi. Ini adalah satu contoh aturan yang umum berlaku dan tidak tertulis.

Saya lalu teringat dengan kejadian di Jakarta beberapa waktu lalu dan sempat menjadi viral dalam media sosial. Seorang wanita Muslimah berjilbab dengan perut besar pertanda sedang mengandung, berdiri dalam kereta api sambil memegang tiang besi. Sementara di sisinya terdapat beberapa pemuda tanggung duduk dengan santai, pura-pura tertidur dan ada pula yang sibuk dengan ponselnya.

Di sinilah letak perbedaan perasaan, hati nurani atau kepekaan sosial kita. Kisah seperti di atas sering kita temukan, dalam kehidupan keseharian. Objeknya bisa saja berbeda, demikian pula situasi dan kondisinya. Akan tetapi memang semua itu tergantung kepada kita, karena hidup ini adalah pilihan.

Foto di atas diambil saat pulang ke rumah ketika bus sudah sepi. Suasana tadi tak saya ambil gambar karena penuh sesak. Mengambil gambar di sini juga mesti memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Jangan asal main jepret objek. Harus mempertimbangkan hak pribadi orang lain.

Penulis: Haidir Fitra Siagian, Gwynneville, Senin (17/6/2019) jelang magrib