Kisah Cinta Kakek-Nenek di Pantai Wollongong

Kisah Cinta Kakek-Nenek di Pantai Wollongong
Kisah Cinta Kakek-Nenek di Pantai Wollongong

Setelah shalat duhur di prayer place University of Wollogong, New South Wales, Australia, saya memanfaatkan waktu jalan-jalan ke pantai dengan naik bus. Jarak dari kampus ke pantai sekitar 4 km. Namanya pantai Brighton, terletak di sepanjang jalan Cliff, Wollongong.

Untuk menuju pantai ini, bisa menggunakan bus dari kampus UoW. Saya memilih menggunakan bus kode 55C. Dengan menggunakan bus ini, maka lebih dulu sampai di pantai sebelum ke kota. Kita dapat menikmati keindahan pantai sebelum turun dari bus pada halte di jalan Harbour, tak jauh dari bibir pantai. Jarak ke pusat kota pun tidak jauh. Bisa jalan kaki sekitar 15 menit.

Di sepanjang pantai, terdapat banyak tempat duduk, baik yang tradisional maupun yang modern. Dari kayu gelondongan yang ditata apik sampai kursi yang terbuat dari besi baja. Beberapa diantaranya ditempatkan di bawah pepohonan yang beberapa tumbuhan dibiarkan tak terawat agar terasa seperti di tengah hutan betulan.

Terdapat juga beberapa gazebo di bawah pepohonan yang rindang. Hampir setiap gazebo terdapat kran air minum, bersih dan gratis. Ada juga tempat pembakaran untuk yang mau rekreasi bersama keluarga sambil bakar-bakar daging atau ikan.

Sepanjang pantai ini, setidaknya terdapat tiga warung atau restoran. Pengunjug bisa pesan makanan, minuman dalam restoran tersebut. Tidak terlihat ada penjual kaki lima. Kecuali penjual lukisan di bawah pohon, itupun hanya pada hari-hari tertentu saja.

Bersih

Kebersihan sepanjang pantai, membuat suasana rekreasi semakin menyenangkan. Hampir tidak ada terlihat tumpukan sampah atau benda-benda kotor lainnya. Tersedia tempat merokok di beberapa lokasi yang memang dikhususkan untuk merokok. Tidak boleh sembarangan merokok. Bisa kena denda jika melanggar.

Memandang ke ujung Timur, terlihat dua bangunan mercusuar dengan jarak yang berjauhan. Burung-burung camar laut putih berombongan terbang di sekitar pantai. Beberapa anak kecil mandi dalam pengawasan orang tuanya. Pasir yang kekuning-kuningan indah terlihat sepanjang pantai dipermainkan ombak.

Ini memang pantai dengan gemuruh ombak yang cukup deras, dari aliran angin yang bertiup dari Samudra Pasifik atau bahkan dari perairan Amerika Selatan nun jauh di sana. Di tempat ini, bisa mandi-mandi di tempat khusus, yakni di kolam renang permanen. Kolam renang buatan yang berbatasan langsung dengan laut, dan pinggiran pantai yang dilindungi tanggul besar.

Meski hari ini merupaka hari kerja, namun cukup banyak pengunjung yang datang di pantai ini. Selain turis dari luar Australia, juga warga lokal sendiri. Diantaranya terlihat beberapa pasangan kakek-nenek. Saya coba hitung secara acak, terdapat 10 – 15 pasang orang tua lanjut usia ini datang ke pantai ini.

Ada yang sedang jalan santai berdua dengan menggunakan tongkat. Ada yang jalan bersama dengan cucunya. Ada yang datang seorang diri dengan memakai topi dan memegang tongkat. Adapula yang jalan sambil memegang tali hewan peliharaannya.

Sepasang kakek-nenek, terlihat duduk santai di kursi panjang menghadap ke laut. Keduanya berbincang santai sambil makan pisang dan jeruk. Mirip pasangan muda yang sedang berusaha menatap masa depan. Sesekali mereka tersenyum dengan tetap memandang ke laut. Usia mereka, dalam perkiraan saya sudah mencapai 85-90 tahun. Ukuran usia yang sudah cukup senja.

Demikianlah kehidupan orang tua lanjut usia di sini. Mereka memiliki usia harapan hidup yang tinggi. Mereka sudah pensiun dari pekerjaan. Mereka tinggal menikmati hidup saja. Tak ada beban lagi. Anak-anaknya mungkin sudah bekerja di tempat lain. Tidak ada lagi yang tinggal hidup dengan mereka.

Untuk orang tua seusai mereka, tidak boleh lagi bekerja. Sebagian hidupnya hanyalah rekreasi, baik berdua maupun secara berkelompok sesama orang tua lanjut usia.

Umumnya kehidupan mereka sudah terjamin, melalui dana pensiun dari pekerjaan sebelumnya atau dana yang disiapkan oleh negara untuk para orang tua lanjut usia. Jika dia tidak punya uang, maka negara yang menyiapkan segala fasilitas hidupnya, tanpa kecuali.

Khusus bagi orang tua yang tinggal sendiri, bisa meminta masuk dalam panti jompo yang disiapkan oleh pemerintah. Semua fasilitasnya ditanggung oleh negara, termasuk akomodasi, konsumsi dan perawatan.

Jadi, tidak ada istilah orang tua lanjut usia yang hidup sebatang kara. Tak ada yang hidup sendirian di rumah yang tak layak. Semuanya difasilitasi oleh negara. Inilah salah satu ciri negara maju di seluruh belahan bumi ini.

Penulis: Haidir Fitra Siagian, Gwynneville, Selasa (18/6/2019) jelang magrib.