JAKARTA, MENARA62.COM — Menulis masih menjadi persoalan yang rumit untuk dilakukan oleh banyak orang. Masyarakat lebih memilih berbicara saja tanpa menulis apa yang telah dibicarakan sehingga hasilnya hanya segelintir orang yang mengingatnya. Sedangkan menulis akan membawa keabadian dalam berbagai hal termasuk dalam sejarah.

Salah seorang writerpreneur, Zaenudin HM menulis sebuah buku berjudul “Jangan Cuma Ngomong, Menulis Dong!” diluncurkan dan dibahas hari ini di Jakarta, Ahad (30/6/2029).

Pada peluncuran dan pembahasan bukunya itu, ia menyampaikan bahwa, banyak orang yang hanya berbicara dan tidak menulis apa yang telah dibicarakan itu. Sementara jika ditulis akan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi banyak orang. “Contohnya seperti Bidan, Pengacara, Politisi jika yang mereka bicarakan atau alami ditulis, maka akan lebih bermanfaat bagi orang banyak,” ujarnya.

Seorang Bidan jika menulis pengalamannya, lanjut penulis yang juga wartawan senior pada salah satu media Nasional itu, maka tulisan tersebut dapat dijadikan pelajaran di sekolah atau di mana pun. “Jadi, bisa jadi seorang Bidan kalau menulis pengalamannya, misalnya pengalaman mistis kan bisa dijadikan materi di kampus-kampus,” lanjutnya.

Senada dengan Zaenudin, Syarifudin Yunus, yang jadi pembahas pada peluncuran buku itu mengatakan bahwa, buku tersebut sangat cocok bagi yang mau menulis tidak sekadar ngomong. Ia juga menilai buku tersebut memprovokasi orang agar menulis. “Penilaian saya terhadap buku ini adalah buku ini memprovokasi, menimbulkan reaksi kepada orang yang membaca agar menulis,” katanya.

Dosen Jurnalistik Universitas Indraprasta dan beberapa kampus itu juga mengatakan, perbuatan sempurna adalah mengubah orang yang membaca menjadi penulis. “Perbuatan sempurna adalah mengubah orang yang suka membaca untuk menjadi penulis,” tegasnya.

Syarif melanjutkan bahwa, membaca adalah modal untuk menjadi penulis. “Orang yang membaca itu adalah modal untuk menjadi penulis,” lanjut dosen yang sering dijuluki dosen ciamik oleh mahasiswanya itu.

Selain menjadi modal, menulis juga bisa dimulai dengan perasaan kemudian disunting dengan pikiran. Hal itu dikatakan Zhm (panggilan akrab penulis) di sela-sela diskusi siang ini. “Mulailah menulis dengan perasaan jangan dengan pikiran, tapi setelah itu tulisan tersebut diedit dengan pikiran,” pesan Zhm di sela-sela diskusi yang dimoderatori oleh Madin Tyasawan siang tadi.