sinar matahari
Sinar matahari pagi lebih sehat setelah pukul 09:00 (ist/alosehat)

JAKARTA, MENARA62.COM – Berjemur sinar matahari pagi selama ini kita lakukan pada jam sebelum pukul 09:00. Sinar hangat matahari tersebut diyakini mengandung vitamin D yang cukup besar.

Tetapi anggapan tersebut dipatahkan oleh Prof Siti Setiati, SpPD-KGER, Ketua Perhimpunan Geriatri Medik Indonesia (Pergami). Dalam penelitian yang dilakukan Prof Siti, ternyata berjemur matahari pagi akan lebih sehat jika dilakukan setelah pukul 09:00.

“Sinar matahari sebelum jam 9 pagi belum mengandung untraviolet-B atau UVB. Padahal itu yang dibutuhkan kita,” kata Prof Siti di sela temu media Hari Lansia 2019, Kamis (4/7/2019).

Sinar matahari pagi sebelum jam 09:00 justeru banyak mengandung ultraviolet A dan ultraviolet C.Dua sinar ultraviolet ini tidak sehat. Sedang ultraviolet B memberikan vitamin D yang baik bagi pertumbuhan tulang dan gigi.

UVB ini lanjut Prof Siti justeru ditemukan pada sinar matahari diatas jam 09:00 hingga pukul 15:00. Pada masing-masing waktu, kebutuhannya UVB berbeda. Misal untuk jam 09:00 hingga pukul 11:00 maka berjemur bisa dilakukan selama 15 menit, pada pukul 11:00 ke atas cukup 5 menit.

“Dan kita tidak perlu berjemur setiap hari, cukup tiga kali dalam sepekan,” jelas Prof Siti.
Penelitian Prof Siti dilakukan pada 74 perempuan berusia 60-90 tahun yang tinggal di empat panti werda di Jakarta dan Bekasi. Responden tersebut selanjutnya dibagi dalam dua kelompok yakni kelompok control dan kelompok studi

Kelompok kontrol hanya mendapat kalsium 1000 mg/hari, sedang kelompok intervensi dipajankan dengan matahari selama 6 minggu. Hasil yang diukur sebelum dan sesudah 6 minggu paparan sinar matahari adalah konsentrasi 25(OH)D, PTH, dan ion kalsium. Ditemukan bahwa waktu paparan yang optimal adalah 1 jam sebelum dan sesudah tengah hari.

Prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita usia lanjut adalah 35,1 persen. Pada kelompok terpapar sinar, konsentrasi 25(OH)D meningkat lebih tinggi daripada yang tidak dipajan yakni 51,8 persen banding 12,5 persen.

Hasil tambahan adalah rerata asupan kalsium 248 mg/hari, dan rerata asupan vitamin D 28 IU/hari. Bagi perempuan lanjut usia, vitamin D berperan penting untuk mencegah osteoporosis, osteomalasia, kelemahan otot, jatuh dan fraktur osteoporotik.

Menurut Prof Siti, pajanan sinar matahari adalah cara paling mudah dan murah untuk mendapatkan asupan vitamin D bagi masyarakat Indonesia. Hanya saja tentu paparannya tidak boleh berlebihan, karena paparan sinar matahari berlebihan dapat menyebabkan kanker kulit.