Pilpres Berakhir, Ratusan Emak Dukung Rekonsiliasi untuk Persatuan Indonesia

aksi
Ratusan emak-emak deklarasikan rekonsiliasi demi persatuan Indonesia. (ist)

JAKARTA, MENARA62.COM – Muhammad Sofyan, pengurus Ma’arif Institute mengimbau umat Islam kembali bersatu setelah sempat terpecah pada gelaran Pilpres April lalu. Sebab Pilpres telah usai dan saatnya menghidupkan kembali ukhuwah Islamiyah diantara umat Islam.

“Mari kembali hidupkan ukhuwah-ukhuwah yang ada dalam Islam,” kata Muhammad Sofyan di sela Halal Bihalal dan Dirasat Wathaniyah  bertema “Memperteguh Ukhuwah Islamiyah & Ukhuwah Wataniyah Pasca Pilpres 2019” digedung Joeang 45, Menteng Jakarta Pusat. Kegiatan tersebut diikuti ratusan emak-emak se-Jabodetabek yang merupakan emak-emak yang sebelumnya mendukung Capres 01 maupun Capres 02.

Menurutnya hoax yang marak bertebaran di media social dan agama yang ditarik ke ranah politik telah berhasil memecah umat Islam di Indonesia. Kondisi tersebut harus segera diakhiri untuk kemudian bersama-sama membangun ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniah. Bersatu dan menerima keberagaman dengan azas tunggal kebangsaan yakni Pancasila.

“Ukhuwah basyariah atau persaudaraan sesama manusia, dimana manusia sebagai satu keturunan yang sama yakni Adam dan Hawa. Pasca pilpres kita harus kembali merekatkan ukhuwah Islamiah terlebih dengan datangnya idulfitri yang identik dengan ajang penyucian hati,” ungkap Muhammad Sofyan.

Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pasti berbeda. Dan perbedaan yang ada diciptakan oleh Allah (Al Qur’an surat al Hujurat ayat :13). Karena itu dalam menghadapi perbedaan umat Islam harus tenang.

Senada juga disampaikan Ustadz Asyiq Nur Muhammad. Dalam tausyiyahnya,ia menjelaskan bahwa tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan keburukan. Bahkan Nabi Muhammad pun pernah mengatakan dirinya ditugaskan untuk menebarkan kasih sayang.

“Di medan perangpun Nabi Muhammad tidak pernah mencaci maki musuh. Karena itu jika dalam pilpres kemarin sesama muslim justru saling bertikai,sekarang saatnya kita bersatu, karena kita semua dirindukan oleh Nabi Muhammad SAW,” ajak Ustad Asyiq Nur Muhammad.

Sementara itu Doddy Abdallah, Direktur Student Peace Institute mengatakan meski Pilpres telah usai, namun polarisasi antar pendukung capres hingga kini masih ditemukan ditengah masyarakat. Kondisi tersebut jika dibiarkan berlarut akan sangat berbahaya bagi persatuan bangsa Indonesia.

Karena itulah dalam momen halal bi halal tersebut pihaknya menyelipkan pesan kepada ratusan emak-emak untuk ikut perperan mengakhiri polarisasi antar pendukung.

“Kita undang emak-emak ke sini, ikut halal bi halal dan pengajian. Mereka dulu adalah emak-emak pendukung capres 01 dan capres 02. Kita satukan,” jelas Doddy.

Harapannya saat mereka pulang, kembali ke tengah keluarga, para emak bisa menyampaikan pesan persatuan baik kepada anaknya, suami, tetangga atau lingkungan sekitarya. Apa yang diperoleh pada kegiatan ini bahwa agama Islam mengajarkan kedamaian, bahwa Pilpres sudah berakhir harus disampaikan.

“Ke rumah, para emak bisa bicara kepada suami, kepada anak, tetangga, ayo bersatu lagi,” lanjutnya.

Ia mengingatkan bahwa ada Pilpres atau tidak ada Pilpres, mencaci maki sesama manusia, melakukan provokasi adalah perbuatan yang dilarang agama. Apalagi pada saat Pilpres ada istilah-istilah yang tidak elok yang banyak digunakan oleh para pendukung capres.

“Mengamalkan Pancasila sila ke 3 yakni Persatuan Indonesia jauh lebih penting daripada gelaran politik praktis lima tahunan sekali,” tutup Doddy.

Dalam kegiatan pengajian tersebut para emak-emak mendengarkan ceramah (tausiah) mengenai pentingnya persatuan dan juga pentingnya menghindari ujaran kebencian.

Saat menyampaikan deklarasi, para emak-emak tidak lagi bersikeras untuk kemenangan pasangan capres/wapres yang mereka dukung selama ini. Emak-emak nampak berbaur dengan suasana akrab. “Kami Emak-emak pendukung Jokowi-Amin & Prabowo-Sandi mendukung rekonsiliasi demi Persatuan Indonesia”, demikian kalimat yang tertera pada spanduk yang mereka bentangkan saat deklarasi.

“Saya kesini mau damai, saya berharap antara 01 dan 02, bisa bersama-sama lagi,”  ungkap Niar (59), warga Cikini, Jakarta Pusat yang merupakan pendukung pasangan capres 02 pada Pilpres lalu.

Diakui selama ini situasi politik dipenuhi permusuhan dan kerusuhan, meski dilingkungan tempat tinggalnya warga antar pendukung hidup dalam kerukunan. Puncaknya terjadi bentrokan di depan Bawaslu akhir Mei lalu.

Para emak-emak berharap ke depan Indonesia lebih makmur dan damai dibawah azas tunggal Pancasila.