rs pon
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek memotong tumpeng pada puncak peringatan HUT ke-5 RS PON.
close

JAKARTA, MENARA62.COM – Sekitar 70 persen dari rata-rata 500 pasien yang ditangani Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) menderita stroke. Prosentase yang cukup tinggi tersebut kata Menkes Nila F Moeloek tidak terlepas dari gaya hidup masyarakat.

“Kasus-kasus penyakit jantung, hipertensi, stroke dan penyakit tidak menular lainnya terus meningkat. Ini antara lain terlihat dari besarnya biaya yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan yang mencapai Rp10,8 triliun,” kata Menkes di sela ulang tahun ke-5 RS PON, Senin (15/7/2019).

Menurutnya peningkatan kasus penyakit tidak menular ini banyak dikarenakan perilaku berisiko. Pola hidup yang tidak sehat menyebabkan kasus kasus diabetes dan hipertensi meningkat, dan ujung ujungnya stroke atau jantung juga ikut meningkat.

“Merokok adalah salah satu perilaku yang harus dihentikan. Sebab merokok turut berkontribusi memicu penyakit tidak menular seperti stroke,” lanjut Menkes.

Kebiasaan lainnya yang juga berisiko terhadap peningkatan kasus PTM adalah konsumsi garam dan gula berlebih. Mengonsumsi garam dan gula seharusnya seimbang, namun untuk menjadikannya jadi sebuah kebiasaan di masyarakat masih sulit.

Sementara Direktur Utama RS PON, dr Mursyid Bustami, mengatakan, selama lima tahun ini kunjungan pasien dengan masalah otak dan sistem persarafan terus meningkat, dan lebih dari 80 persen pasien adalah peserta JKN-KIS, sisanya pasien umum dan asuransi swasta.

Mursyid menyebutkan, saat pertama kali beroperasi di tahun 2014, kunjungan gawat darurat di RS PON hanya 874 pasien. Jumlah ini meningkat di tahun 2018 mencapai 6.320 pasien, dan di semester pertama tahun 2019 ini sudah capai 4.000 lebih pasien. Demikian pula untuk kunjungan rawat jalan, di mana tahun 2018 sebanyak 69.000 dan semester pertama tahun 2019 sudah 41.000 lebih pasien.

Untuk tindakan cathlab, yaitu prosedur diagnostik untuk mendeteksi penyempitan atau sumber pembuluh darah jantung, diakui dr Mursyid juga cukup tinggi. Di tahun lalu pasien yang dilakukan cathlab sebanyak 4000 orang, dan tahun ini tidak jauh berbeda.

“Dan untuk tindakan operasi tahun lalu mencapai1.238, Artinya tiap tahun RS PON operasi ribuan pasien dengan masalah otak dan saraf. Di tahun ini sampai bulan Juni sudah adai 756 pasien dilakukan operasi,” kata Mursyid.

Untuk memberikan pelayanan kepada pasien, RS PON memiliki tenaga kesehatan dan non kesehatan sebanyak 873 orang, di mana 61 di antaranya adalah doktér spesialis, 29 dokter spesialis saraf dan 6 spesialis bedah saraf serta dokter spesialis lain sebagai penunjang layanan urologi. RS PON juga dilengkapi sarana prasaran yang memadai. Mulai dari CT Scan, MRI, dan urologi diagnostik tercanggih saat ini dan ruang perawatan yang sangat layak.