JAKARTA, MENARA62.COM — Senin, (15/07/2019) – Pengamat Politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Andriadi Achmad menilai bahwa, pertemuan antara Jokowi dan Prabowo merupakan sinyal rekonsiliasi antara kedua kubu (BPN dan TKN) Pasca keputusan MK yang menetapkan Jokowi – Maruf sebagai pemenang Pilpres 2019.
 
“Saya melihat pertemuan antara Jokowi dan Prabowo merupakan langkah awal untuk rekosiliasi. Walaupun sebetulnya langkah berat bagi kubu BPN untuk rekonsiliasi dengan kubu TKN,” tegas Pengamat Politik muda ini.
 
Menurut Direktur Eksekutif Nusantara Institute for Political Communication Studies, Research, and Consulting ini, banyak pihak sejujurnya merasa kecewa denhan pertemuan antara Jokowi dan Prabowo. Terlebih para pendukung Prabowo-Sandi yang berlatar belakang alumni PA 212 dan para ulama yang mengeluarkan fatwa mendukung Prabowo-Sandi pada ijtima’ Ulama 1 dan 2, dan ditambah kalangan emak-emak pendukung fanatis Prabowo – Sandi.
 
“Saya yakin banyak pendukung Prabowo – Sandi yang kecewa atas pertemuan antara Jokowi – Prabowo. Seperti Alumni PA 212 yang telah mendukung penuh Prabowo – Sandi melalui fatwa Ijtim’ Ulama 1 dan 2. Tak kalah penting juga emak-emak pendukung Prabowo – Sandi sangat kecewa,” tegas Andriadi Achmad disela-sela wawancara.
 
Menurut aktivis Gerakan Mahasiswa Era 2000-an ini, bahwa saat ini perlu di pertahankan kubu Prabowo – Sandi adalah tetap sebagai oposisi, jangan tergoda masuk ke koalisi. Karena sebetulnya peran oposisi juga cukup membantu dalam rangka mengawasi dan mengkritisi kinerja pemerintah. Sehingga adanya check and balances. 
 
“Saya berharap kubu Prabowo – Sandi lebih terhormat sebagai Oposisi. Oposisi sangat penting sebagai penyeimbang yang senantiasa mengkritik, dan mengawasi kinerja pemerintah. Apa jadinya suatu pemerintah berkuasa bila tidak ada yang mengkritis dan mengawasi. Walaupun sebenarnya kehadiran oposisi dalam sistem demokrasi presidensial tidak terlalu kuat, apalagi bisa menjatuhkan pemerintah berkuasa, berbeda dengan negara yang menganut sistem demokrasi parlementer, oposisi bisa kuat dan bisa juga menumbangkan pemerintah yang sedang berkuasa. Minimal untuk negara kita Kehadiran oposisi juga dalam rangka merawat demokrasi kita,” tutup Andriadi Achmad mengakhiri wawancara.