unkris
Rektor Unkris Dr. H Abdul Rivai, SE, Msi berfoto bersama nara sumber seminar (ist)

BEKASI, MENARA62.COM – Fakultas Tehnik Universitas Krisnadwipayana gelar Seminar Nasional Teknologi 2019, Rabu (17/7/2019). Seminar dengan tema Teknologi untuk Keadilan dan Kedaulatan tersebut menampilkan sekitar 100 makalah dari 40 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Seminar yang dibuka resmi Rektor Unkris Dr. H Abdul Rivai, SE, Msi tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting seperti Ketua MPR Dr. Zulkifli Hasan, Ketua Pembina Yayasan Unkris Prof. Dr. T Gayus Lumbuun SH, Perwakilan Gubernur Jabar, Walikota Bekasi dan pejabat lainnya.

Dalam keterangan persnya, Dekan Fakultas Teknik Unkris Dr. Ir. Ayub Muktiono MSIP mengatakan seminar nasional teknologi ini merupakan kali kedua yang digelar Unkris.

“Sambutan kalangan akademisi dan peneliti sangat bagus, terbukti dengan banyaknya jumlah artikel ilmiah yang akan dibahas,” kata Ayub.

Tahun ini, pembahasan materi tidak hanya focus pada teknologinya saja. Tetapi juga mencoba melihat dari sisi humaniora dan sosialnya. Itu sebabnya seminar mengambil tema teknologi untuk keadilan dan kedaulatan.

Dekan Fakultas Teknik Unkris Dr. Ir. Ayub Muktiono MSIP
Dekan Fakultas Teknik Unkris Dr. Ir. Ayub Muktiono MSIP

Tema tersebut dinilai penting karena secanggih apapun inovasi teknologi, jika tidak bermanfaat bagi manusia maka inovasi teknologi tersebut akan sia-sia. Karenanya ia mendorong setiap penemuan teknologi harus selalu memperhatikan sisi humaniora sebagai pemanfaat dari teknologi itu sendiri.

“Intinya masyarakat harus bisa mendapatkan manfaat dari setiap teknologi yang kita hasilnya,” tambah Ayub.

Rektor Unkris Dr H Abdul Rivai, SE, MSi mengingatkan bahwa sekarang teknologi sudah berkembang sangat maju dan pesat, sehingga mampu mempengaruhi kehidupan manusia. Kondisi tersebut menuntut kalangan kampus untuk mengambil peran guna mengantisipasi perkembangan teknologi agar tidak merugikan masyarakat.

“Fakultas teknik saya tantang berbuat sesuatu untuk kemaslahatan masyarakat ke depan,” katanya.

Rektor mengatakan peran Unkris untuk memajukan teknologi selama ini telah banyak dilakukan. Tidak hanya sekedar seminar, diskusi atau kegiatan ilmiah lainnya tetapi sudah masuk ke tahapan implementasi hasil-hasil teknologi bagi masyarakat melalui kegiatan pengabdian pada masyarakat.

“Kita sudah join dengan IPB untuk membuat semacam irigasi yang melibatkan teknologi modern. Kerjasama dengan IPB karena kita memang tidak memiliki fakultas pertanian,” katanya.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi atau instansi lain tersebut salah satunya adalah proyek pertanian ubi Jepang di desa binaan Sukajadi, kecamatan Cariu, Sukabumi, Jawa Barat. Melalui kolaborasi yang baik tersebut, kini para petani di desa Sukajadi dapat meningkat kesejahteraannya setelah panen ubi Jepangnya melimpah.

Selain itu, Fakultas Teknik Unkris juga telah menemukan teknologi pengusir burung. Teknologi tersebut tepat diterapkan untuk gedung-gedung tinggi sehingga pengelola gedung tidak perlu direpotkan dengan kegiatan membersihkan gedung dari kotoran burung.

Sementara itu Ketua MPR Zulkifli Hasan meminta agar mahasiswa Unkris selalu meng-up grade perkuliahan baik materi maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Sebab jika tidak meng-up grade diri maka lulusan Unkris hanya akan menjadi lulusan yang biasa-biasa saja.

“Jadilah lulusan yang luar biasa, seperti sudah dicontohkan oleh alumni yang kini berkiprah di berbagai instansi dan lembaga,” papar Zulkifli.

Ketua Pembina Yayasan Unkris Prof. Dr. T Gayus Lumbuun SH mengatakan awalnya Unkris dikenal sebagai universitas dengan kelebihan di bidang hukum dan ekonomi. Tetapi saat ini, faklutas teknik sudah mulai sejajar dengan fakultas lainnya, bahkan paling menonjol terkait jumlah mahasiswanya.

“Fakultas tehnik tepat kelahirannya. Sehingga dalam waktu yang singkat akreditasi dari BAN PT terus meningkat dan kini sudah mengantongi akreditasi B. Sebuah perjuangan yang patut diapresiasi,” kata Gayus.

unkris
Seminar nasional teknologi di Unkris diikuti rarusan peserta

Baginya, seminar nasional yang menghadirkan pemakalah dari berbagai perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya Unkris untuk selalu meng-up grade perkembangan jaman.

Seminar nasional teknologi itu sendiri diikuti sekitar 600 peserta, dimana 200 peserta diantaranya adalah para peneliti dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta.