tabrani
Kepala Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud Dadang Sunendar bersama Dr Amie Tabrani saat berziarah ke makan M Tabrani di TPU Tanah Kusir, Jaksel

JAKARTA, MENARA62.COM – Tak banyak yang mengenal sosok Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Kecuali orang-orang yang berkecimpung dalam bidang kebahasaan Indonesia dan sejarah perjuangan Indonesia. Padahal sosok yang pernah bekerja sebagai seorang jurnalis tersebut adalah sosok penting dibalik lahirnya Bahasa Indonesia. Bahasa yang kini menjadi bahasa pemersatu bangsa Indonesia.

Lahir di Pamekasan, Madura tanggal 10 Oktober 1904, Tabrani memulai kariernya sebagai jurnalis di Harian Hindia Baru. Dunia yang digeluti telah membuatnya memiliki ide-ide cemerlang dan pemikiran yang kritis. Salah satunya adalah terkait Bahasa Indonesia.

Gagasan Tabrani untuk menciptakan Bahasa Indonesia muncul pada Kongres Pemuda Pertama tahun 1926. Pada forum tersebut Tabrani mengemukakan idenya untuk pembentukan bahasa baru yakni Bahasa Indonesia yang akan menjadi pemersatu seluruh bangsa Indonesia.

Idenya tersebut dilatarbelakangi adanya fakta bahwa para pemuda Indonesia terpecah belah dalam banyak Jong. Ada Jong Java, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Sunda dan lainnya. Masing-masing Jong menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar.

Padahal dalam situasi dimana rakyat Indonesia membutuhkan persatuan guna memerdekakan diri dari penjajahan Belanda, penting untuk disatukan dalam satu bahasa. Kata sakti Bahasa Indonesia yang dilontarkan Tabrani pada forum pemuda tersebut tentu tidak semuanya seide sejalan. Masing-masing Jong memiliki bahasa kandidat yang akan dijadikan sebagai bahasa persatuan.

Salah satu tokoh yang menentang ide Tabrani adalah Mohammad Yamin. Dalam buku berjudul Sebuah Otobiografi M Tabrani: Anak Nakal Banyak Akal (halaman 42), Yamin disebutkan sempat ‘naik pitam’ gara-gara Tabrani menyetujui seluruh pidato Yamin, tetapi menolak konsep usul resolusinya pada Kongres Pemuda Pertama.

Pada kesempatan tersebut Tabrani jelas-jelas menolak ide Yamin untuk menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

tabrani
Kepala Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud Dadang Sunendar memberikan sambutan saat berziarah di makam M Tabrani

“Alasanmu, Yamin, betul dan kuat. Maklum lebih paham tentang bahasa dari pada saya. Namun saya tetap pada pendirian. Nama bahasa persatuan hendaknya bukan Bahasa Melayu, tetapi Bahasa Indonesia. Kalau belum ada, harus dilahirkan pada Kongres Pemuda Pertama ini,” kata Tabrani yang waktu itu bertindak sebagai Ketua Kongres.

Atas perbedaan pendapat antara Yamin dan Tabrani tersebut, kebijaksanaan yang diambil adalah menunda sampai dengan Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928. Pesan Kongres Pemuda Pertama dititipkan kepada M. Yamin dengan catatan penting bahwa nama bahasa Melayu diganti menjadi bahasa Indonesia. Terbukti bahwa Yamin selaku penulis dalam Kongres Pemuda Kedua menunaikan tugasnya dengan baik.

Lahirlah Bahasa Indonesia

Pada Kongres Pemuda Kedua dimana Sugondo Joyopuspito sebagai Ketua Kongres tidak lagi membicarakan usul Yamin tersebut dalam rapat panitia, tetapi langsung membawanya dalam sidang umum dan kongres menerima usulan Yamin dengan suara bulat. “Kebulatan Tekad Pemuda” (dalam istilah Sanusi Pane atau “Ikrar Pemuda” dalam konsep Yamin) dikenal hingga sekarang sebagai Sumpah Pemuda. Bertanah air satu Tanah Air Indonesia, Berbangsa satu Bangsa Indonesia dan Berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Gelora Tabrani untuk melahirkan Bahasa Indonesia juga tercermin pada tulisannya yang dimuat di Koran Hindia Baru edisi 11 Februari 1926. Pada kolom ‘Kepentingan’, Tabrani memberikan judul ‘Bahasa Indonesia’.

“Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!”

Penerbitan Bahasa Indonesia, seperti ditulis Tabrani, bertujuan agar pergerakan persatuan anak-Indonesia bertambah keras dan cepat.

“Jika kita membuatnya bahasa itu bahasa Melayu, salahlah kita. Karena sebutan semacam itu seolah-olah dan mesti mengandung sifat [pikiran dan tindakan] imperialisme dari bahasa Melayu terhadap (kepada) lain-lainnya atas bahasa pada bangsa kita di sini,” tegas Tabrani dalam kolom tersebut.

Pada bagian akhir kolom itu, Tabrani menutup tulisannya: karena menurut keyakinan kita, kemerdekaan bangsa dan tanah air-kita Indonesia ini terutama akan tercapai dengan jalan persatuan anak-Indonesia yang antara lain-lain terikat oleh bahasa Indonesia.

Dalam tulisan tersebut, Tabrani menggunakan nama panggung Tabrani D.I. Penggunaan DI bukanlah singkatan Darul Islam tetapi kependekan dari Dienaar Indie yang artinya Abdi Indonesia.

tabrani
Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Dadang Sunendar berfoto bersama generasi kedua dan ketiga M Tabrani usai ziarah

Sejatinya ada tiga atribut kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia yakni suku/ras, agama dan/atau bahasa. Dari tiga atribut kemanusiaan tersebut, Tabrani telah memilih bahasa sebagai cara berpikir sekaligus membentuk pikiran bersama untuk bekerja sama guna menjadi sesama Indonesia. Dengan bahasa Indonesia pula, Tabrani berhasil menyatukan pemuda Indonesia yang saat itu masih bertindak masing-masing sebagai anak Melayu, Jawa, Sunda, dan lainnya.

Pilihan berupa Bahasa Indonesia merupakan hasil gemilang yang tak-terbilang atas perjuangan seorang Tabrani. Tidak hanya dalam hal penamaannya, tetapi juga penggunaannya.

Perjuangan penggunaan bahasa Indonesia diketahui sangat gigih geliatnya bermula dari Volksraad: Dewan Rakyat, yang turut mendukung Kongres Bahasa Indonesia (KBI) Pertama di Solo pada tahun 1938. Pada saat KBI itu M. Tabrani pun membuat prasaran “Penyebaran Bahasa Indonesia”. Sementara itu, untuk melembagakan nama bahasa ini, prasaran “Institut Bahasa Indonesia” juga diusung oleh Sanusi Pane: orang yang menopang pendirian Tabrani dalam perdebatan dengan Yamin pada tanggal 2 Mei 1926 ketika gagasan bahasa (persatuan) Indonesia dibuat dalam Kongres Pemuda Pertama.

Gelar pahlawan nasional

Sang penggagas bahasa persatuan Indonesia yakni Bahasa Indonesia telah wafat pada tanggal 12 Januari 1984. Makam almarhum di TPU Tanah Kusir merupakan situs memori untuk mengenang jasa-jasa M. Tabrani. Tanda jasa Perintis Kemerdekaan telah dianugerahkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Dan tanda itu belumlah cukup, tak sebanding dengan jasanya yang amat besar.

Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, mengusulkan penghargaan negara berupa gelar pahlawan nasional kepada M. Tabrani. Langkah untuk mengusulkan Tabrani sebagai pahlawan nasional telah dimulai sejak beberapa waktu lalu.

“Kami sudah mencari jejak Tabrani melalui keturunan dan ahli warisnya, baik yang di Pamekasan maupun di Jakarta. Alhamdulillah kami bertemu dengan generasi kedua dan ketiga keluarga Tabrani,” kata Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Dadang Sunendar usai ziarah ke makan M Tabrani di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Kamis (18/7/2019).

Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia, lanjut Dadang telah melakukan kajian dengan melibatkan ahli dan masukan dari berbagai pihak. Rapat terakhir menyimpulkan bahwa Tabrani ditetapkan sebagai tokoh penggagas Bahasa Indonesia.

Diakui Dadang, usulan menjadi pahlawan nasional harus melalui beberapa tahapan dan prosesnya sudah diikuti dengan baik. Tanggal 6 Agustus 2019 mendatang rencananya Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan akan mengajukan Tabrani untuk mendapatkan penghargaan dari Kemendikbud.

“Selain itu kita gelar seminar, diskusi dan forum ilmiah lainnya yang melibatkan para ahli guna memperkuat ketokohan Tabrani. Ini adalah salah satu syarat sebagai pahlawan nasional,” tukasnya.

Dadang berharap seluruh proses pengkajian tokoh Tabrani dapat diselesaikan selambatnya April 2020. Dengan demikian, dokumen-dokumen tersebut bisa diserahkan ke Kementerian Sosial RI untuk diusulkan kepada Presiden. Sebagai langkah awal, nama Tabrani kini telah diabadikan sebagai nama salah satu gedung Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan.

Dadang menilai Tabrani pantas menyandang gelar pahlawan nasional. Keberaniannya merintis dan memelopori lahirnya Bahasa Indonesia terbukti mampu menyatukan bangsa Indonesia.

“Kalau menilik berbagai tulisan sejarah tentang siapa Tabrani, maka kita sepakat bahwa orang pertama yang mencetuskan agar Bahasa Indonesia menjadi bahasa Negara adalah Tabrani. Ide itu justeru muncul jauh sebelum NKRI lahir,” jelas Dadang.

Hebatnya lagi, waktu memunculkan ide lahirnya Bahasa Indonesia, Tabrani baru berusia 22 tahun. Satu angka usia yang terbilang masih sangat muda untuk sebuah ide yang brilian.

Menurut Dadang, Indonesia adalah Negara dengan jumlah 1.300 suku bangsa, dimana masing-masing memiliki bahasa daerah. Jika waktu itu masing-masing suku mengusulkan bahasanya sebagai bahasa nasional, pastilah NKRI tak kunjung lahir.

“Disinilah letak Tabrani dengan kehebatannya. Beliau usulkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kita. Padahal saat ini kita belum merdeka dan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang baru berkembang,” kata Dadang

Keluarga sangat mengapresiasi

Terkait usulan Kemendikbud untuk menetapkan Tabrani sebagai pahlawan nasional, keluarga Tabrani mengaku gembira.

“Saya sangat mengapresiasi usulan Kemendikbud untuk menjadikan Bapak sebagai pahlawan nasional. Dengan cara seperti ini setidaknya rekam jejak sejarah tidak hilang, rekam jejak sejarah menjadi clear. Kita kan memang butuh ikon pahlawan itelektual, karena selama ini pahlawan dikonotasikan orang yang berjuang di medan perang,” kata Dr Amie Tabrani, putri bungsu dari 5 bersaudara M. Tabrani.

Dr. Amie Tabrani, putri kelima M. Tabrani
Dr. Amie Tabrani, putri kelima M. Tabrani

Ia bercerita sempat bersama dengan Tabrani hingga usia 18 tahun. Karena itu Amie memiliki rekaman yang kuat terkait sosok ayahnya.

“Beliau adalah sosok yang semangat, menjunjung tinggi disiplin, kuat dalam prinsip dan siap membantu siapapun yang membutuhkan. Beliau tidak banyak bicara tetapi lebih memberikan contoh,” lanjut Amie.

Ayahnya, jelas Amie, bukanlah sosok yang bisa diam. Sebagian besar usia yang dimiliki, digunakan untuk perjuangan. Entah melalui organisasi kepemudaan maupun dunia wartawan. Di dunia tulis menulis, Tabrani berhasil menerbitkan Koran Pemandangan.

Kariernya pada dunia tulis menulis perlahan ditinggalkan pasca Indonesia merdeka. Tabrani yang konon sengaja dibuat cacat oleh pemerintah Jepang, akhirnya memulai karier baru sebagai seorang pebisnis dibidang minuman seperti kopi, susu dan minuman bersoda coca cola.

Mungkin karena ‘berhenti’ dari dunia politik, nama Tabrani tak banyak disebutkan dalam buku-buku sejarah. Bahkan pada buku sejarah di sekolah-sekolah, nama Tabrani hanya muncul pada pembahasan Kongres Pemuda Pertama di buku pelajaran sejarah kelas III SD. Sedang pada Kongres Pemuda Kedua dimana saat itu Tabrani sedang berada di Beijing tidak lagi dibahas, meski idenya kemudian menelurkan keputusan penting terkait Sumpah Pemuda.

Hingga usianya menjelang 70 tahun, Tabrani, lanjut Amie tetap segar bugar dan rajin berolahraga. Jalan santai dan tenis adalah olahraga yang paling disukai.

Tabrani wafat pada 12 Januari 1984 pada usia 80 tahun setelah sempat jatuh di kamar mandi 12 hari sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Tetapi meski diakhir hayatnya Tabrani tak lagi aktif di dunia politik, sosoknya sering diminta menjadi nara sumber baik pada sesi seminar, wawancara dengan media maupun penelitian mahasiswa.

Amie yang juga dosen Komunikasi di Universitas Pancasila, Jakarta berharap usulan Kemendikbud untuk menjadikan M. Tabrani sebagai pahlawan nasional, dapat menjadi ikon bagi pengembangan bahasa Indonesia ke depan. Dimana saat ini, ia merasa galau dengan perkembangan bahasa Indonesia di Tanah Air.

“Padahal di luar negeri, Bahasa Indonesia dipelajari sebagai ilmu. Ini tentu membanggakan. Tetapi di Indonesia, banyak generasi muda yang lebih bangga menggunakan bahasa asing dari pada Bahasa Indonesia,” tutup Amie.