Prof Dr Husnan Bey Fananie saat menyampaikan kuliah umum di Kampus Utama UAD Yogyakarta, Rabu (17/7/2019). (foto : heri purwata)

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta akan memberi 10 beasiswa bagi mahasiswa asal Azerbaijan. Beasiswa yang dimulai tahun ajaran baru 2019/2020 ini diberikan untuk pendidikan bahasa dan agama.

Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum mengemukakan hal tersebut saat memberikan sambutan pada Kuliah Umum Hubungan Indonesia dan Azerbaijan: Hubungan Peradaban dan Budaya di Kampus Utama Yogyakarta, Rabu (17/7/2019). Kuliah umum diisi Prof Dr Husnan Bey Fananie, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Azerbaijan.

Dijelaskan Kasiyarno, dalam kunjungan ke Azerbaijan, UAD sudah melakukan penandatanganan kerjasama dengan empat perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut adalah bahasa, teknologi, pendidikan, dan universitas Ilahiyah atau teologi.

“Kita akan realisasikan, terutama kalau ada mahasiswa dari Azerbaijan yang datang ke UAD. Terbuka untuk tahun ajaran baru ini,” kata Kasiyarno kepada wartawan seusai kuliah umum.

Sedang Prof Husnan Bey Fananie mengungkapkan pemilihan bidang kerjasama ini sangat tepat. UAD telah menjalin kerjasama dengan beberapa universitas, terutama pendidikan pedagogik. Juga perguruan tinggi yang mengkaji tentang Islam dan perbandingan agama.

“Untuk pemuda Azerbaijan sudah diberikan 10 beasiswa oleh pak Rektor UAD. Bagi anak-anak Azerbaijan yang akan belajar di sini yang akan ditempatkan di pesantren mahasiswa. Ini luar biasa, kami akan mencarikan anak-anak yang mau belajar di UAD,” kata Husnan.

Dijelaskan Husnan, Negara Azerbaijan lahir pada tanggal 28 Mei 1918. Namun, dua tahun kemudian negara ini jatuh ke tangan Uni Sovyet. Selama 70 tahun Azerbaijan di bawah kekuasaan Sovyet. Ketika Uni Sovyet bubar, Azerbaijan memproklamirkan diri menjadi negara berdaulat pada tahun 1991.

Negara yang terletak di kawasan Eurasia (Eropa Asia) itu mayoritas penduduknya beragama Islam. Sebanyak 85 persen Muslim Syiah dan sisanya adalah Muslim Sunni. Persentase Syiah yang besar itu menjadikan Republik Azerbaijan negara dengan populasi Muslim Syiah terbesar kedua setelah Iran.

Namun selama dalam kekuasaan Uni Soviet, agama tidak boleh berkembang. Sehingga banyak warga Azerbaijan tidak melaksanakan agama yang mereka anut. “Di jalan ada polisi jilbab. Jika ada orang yang mengenakan jilbab, polisi akan membukanya,” kata Husnan.

Karena itu, kata Husnan, adanya kerjasama dengan UAD diharapkan dapat menegakkan kembali agama Islam. Jika ada mahasiswa Azerbaijan yang belajar di UAD, tentu akan dapat mewarnai Islam di sana.