banjar
Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan didampingi Wamenlu Mohammad Fachir dan Ketua Panitia Festival Banjar 2019 Dr Rosiyati Thamrin saat membuka resmi Festival Banjar 2019

JAKARTA, MENARA62.COM – Kalimantan Selatan memiliki tradisi Pasar Terapung Banjarmasin. Tetapi gaungnya masih kalah dengan Pasar Terapung Thailand. Padahal Pasar Terapung Kalsel justeru lebih indah, lebih unik dan eksotik. Tak hanya makanan tradisional yang menjadi ciri khas 13 Kabupaten/kota yang ada di wilayah Kalsel, Pasar Terapung di Kalsel juga menyuguhkan aneka kerajinan penduduk setempat.

Karena itu, Pemprov Kalimantan Selatan terus berupaya mempromosikan wisata Pasar Terapung tersebut. Banyak cara dilakukan, salah satunya melalui Festival Banjar. Even yang digelar untuk kedua kalinya tersebut melibatkan Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Dinas Perdagangandan Pemerintah Daerah dari 13  Kabupaten/Kota.

“Kami membawa Pasar Terapung ke Kota Jakarta, supaya masyarakat dari manapun bisa melihat dan mendapat gambaran seperti apa Pasar Terapung yang kami punya. Yang pasti jauh lebih bagus dari pada Pasar Terapung Thailand,” kata Ketua Panitia Festival Banjar 2019, Dr Rosiyati Thamrin, Jumat (19/7/2019).

Pasar Terapung lanjut Rosiyati, merupakan sebuah pasar tradisional yang letaknya di atas sungai Barito dan buka antara pukul 06.30 sampai pukul 08.00 WIT. Para pedagang dan pembeli yang ada disini kesemuanya menggunakan sarana transportasi jukung (perahu) untuk menjajakan dan mencari barang dagangannya.

“Biasanya para wisatawan yang datang ke Kota Banjarmasin pasti menyempatkan diri untuk mengunjungi pasar terapung ini karena pasar ini merupakan pasar unik yang hanya ada satu di Indonesia yaitu di Kota Banjarmasin,” tukas Rosiyati.

Menurutnya benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Maka untuk lebih mengenalkan tradisi Pasar Terapung khas Banjarmasin ke masyarakat Indonesia dan manca Negara, festival Banjar perlu dijadikan program rutin tahunan Pemprov Kalsel.

banjar
Ketua Panitia Festival Banjar 2019, Dr Rosiyati Thamrin saat mencicipi kue tradisional khas Kalsel.

Even Festival Banjar 2019 yang mengambil lokasi di Museum Nasional Jakarta Pusat tersebut akan berlangsung 19-21 Juli . Setidaknya ada 41 jukung (perahu kecil) Pasar Terapung yang diikutkan dalam festival tersebut. Masing-masing jukung membawa makanan tradisional dan kerajinan ciri khas kabupaten/kota yang ada di Kalsel.

Tak hanya mengundang masyarakat umum, dalam gelaran yang dibuka resmi Wakil Gubernur Kalimantan Selatan tersebut juga dihadiri dubes dan tamu dari Negara asing. Tujuannya, agar promosi wisata Kalimantan Selatan tidak sebatas lingkup nasional tetapi juga manca Negara.

Rosiyati berharap setelah dilakukan berbagai promosi, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kalsel akan mengalami kenaikan secara signifikan. Tentunya ini harus dibarengi dengan kesiapan masing-masing kabupaten/kota baik secara infrastruktur, SDM maupun paket-paket wisata yang akan dijual.

“Benar yang dikatakan Pak Wagub, bahwa setelah promosi seperti ini, Kalimantan Selatan harus segera bebenah. Pariwisata akan maju jika didukung infrastruktur yang memadai serta destinasi wisata yang bagus. Destinasi wisata bisa dari alam, budaya maupun kulinernya,” tambahnya.

Festival Banjar 2019 berlangsung 19-21 Juli 2019 dengan agenda kegiatan mulai dari atraksi replica Pasar Terapung, karya seni rupa instalasi pertunjukan Doa bagi Bumi, penampilan seni, silaturahim Bubuhan Banjar Sedunia, bazzar dan expo, bandandaman kuliner Banjar, pentas seni budaya Banjar dan Dayak Meratus, karnaval budaya Banjar dan Dayak Meratus, serta atraksi pembangunan mahligai tuntung sehari.

Berikan multi efek

Sementara itu Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan saat membuka resmi Fastival Banjar 2019 berharap even ini dapat memberikan multi efek bagi pengembangan pariwisata di Kalsel termasuk tumbuhnya iklim investasi dan tumbuhnya ekonomi kreatif.

“Kalimantan Selatan memiliki berbagai suku salah satunya Dayak Meratus. Semua memiliki budaya dan seni yang berbeda. Ini adalah potensi wisata yang bisa dijual,” kata Rudy.

Karena itu, pihaknya akan terus memfasilitasi upaya-upaya promosi untuk mengenalkan pariwisata, budaya dan seni yang ada di Kalsel. Baik melalui kegiatan nasional maupun yang bersifat internasional.

“Tentu kami berharap para bupati dan walikota menyiapkan diri. Sebab promosi biasanya akan mendatangkan hasil berupa kenaikan angka kunjungan wisatawan,” jelasnya.

banjar
Tamu dari perwakilan negara sahabat tengah mencicipi kue khas Kalsel ditengah arena Festival Banjar 2019.

Hal yang perlu dipersiapkan para Bupati dan Walikota antara lain infrastruktur, paket wisata, SDM dan sarana pendukung lainnya. Menjual paket wisata lengkap dengan transportasi, hotel dan kulinernya tentu akan jauh lebih menarik bagi wisatawan terutama wisatawan mancanegara.

“Silakan disiapkan semua. Bikin paket wisata, kita akan dukung penuh,” tambahnya.

Senada juga dikemukakan Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mochamad Fachir. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa menjual paket wisata memberikan nilai tambah yang lebih jelas bagi warga.

“Kalau perlu siapkan paket tour diplomatic untuk para dubes Negara sahabat. Ini penting sebagai bagian dari promosi wisata Kalsel,” jelasnya.

Dalam even tersebut Fachir mengaku sengaja mengundang perwakilan Negara sahabat. Tujuannya agar promosi wisata Banjar tidak sekedar bergaung di tingkat nasional tetapi juga merambah ke mancanegara.

Melibatkan 13 Kabupaten/kota.

Festival Banjar 2019 boleh dikata lebih meriah dibanding Festival Banjar 2018. Sebab tahun ini semua kabupaten/kota membuka stand dan masing-masing kabupaten/kota membawa dua jukung. Adapun 13 kabupaten/kota yang ada di Kalsel adalah Kabupaten Balangan, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Kotabaru, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut,Tapin, Banjarbaru dan Banjarmasin.

Masing-masing kabupaten/kota membawa kuliner, budaya dan kerajinan khasnya. Seperti Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang menampilkan belasan jenis kuliner dan kerajinan tangan.

banjar
Jukung Kabupaten Hulu Sungai Tengah menampilkan aneka makanan khas dan kerajinan tangan

“Kami bawa 15 jenis makanan khas Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), mulai dari apam, kue wadailam, wadai spikuk, kacang jeruk, pakasam dan lainnya,” kata Helda Apidini, dari Dinas Perdagangan Kabupaten Hulu Sungai Tengah dijumpai di lokasi.

Selain itu juga membawa tas dan topi anyaman khas Kabupaten HST. Kerajinan anyaman tersebut terbuat dari tanaman purung yang langsung dihasilkan dari tangan pengrajin setempat.

Ia berharap munculnya makakan-makanan khas Kabupaten HST bisa menjadi pengobat rindu bagi warga masyarakat Kalsel yang tengah merantau di Jakarta.

“Disamping itu kami ingin masyarakat kenal dengan kekayaan budaya, seni dan kuliner kami sehingga memiliki keinginan berkunjung ke Kabupaten HST,” tukas Helda.

Adapun destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Kabupaten HST antara lain Masjid Keramat, Masjid Al ‘Ala, Makam Wali Katum, wisata alam Batu Benawa, wisata alam Riam Bajandik, air terjun Tumaung, gua Kudohaya dan lainnya. Sedang bentuk-bentuk seni dan budaya yang bisa dinikmati wisatawan antara lain wayang kulit, teater Mamanda, wayang Gong, seni sastra, Baarak Naga, seni ukir, Bahadrah, Japin Caita dan lainnya.

Kabupaten HST lanjut Helda telah dilengkapi dengan sarana prasarana wisata yang memadai seperti restoran dan hotel. Ada puluhan restoran dan hotel yang bisa dimanfaatkan wisatawan dengan harga yang relative terjangkau dan pelayanan terbaik.

Hal yang sama juga dilakukan Kabupaten Tanah Bumbu. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Bumbu, H Deni Ariyanto dijumpai di lokasi Festival Banjar 2019 mengatakan Kabupaten Tanah Bumbu memiliki aneka jenis kuliner tradisional yang tidak ditemukan di daerah lain. Diantaranya souk tumbu, kerri otti, kanrejawa pute (kue putih), aloe agara, puteri saei (puteri daun), satu kacang, sanggara wae, putu la’bu, didoro, pulo butung dan lainnya.

banjar
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Bumbu, H Deni Ariyanto memamerkan jukung dari Kabupaten Tanah Bumbu

“Sebagian jenis kuliner tersebut kami bawa ke sini agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas,” kata Deni.

Ia mengaku sudah dua kali ikut festival Banjar yang digelar di Jakarta. Even seperti ini sangat efektif untuk mengenalkan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu baik alamnya, seni dan budayanya hingga kulinernya.

Beberapa jenis kerajinan khas Kabupaten Tanah Bumbu antara lain kain tenun Pagatan. Ini adalah kain tenun yang dibuat dengan benang khusus dan dikenal sejak abad 16 dari suku Bugis. Tenun Pagatan ini berkembang hingga sekarang dengan berbagai corak dan keperluan.

“Kerajinan tenun yang sudah dikenal adalah tenun ikat lungsi, ikat pakan, ikat ganda dan songket,” tambahnya.

Sebagai wilayah yang terletak dipinggir pantai, Kabupaten Tanah Bumbu jelas Deni, memiliki sejumlah pantai yang bisa dijadikan tempat wisata, diantaranya Pantai Cemara Indah, Pantai Sungai Cuka, Pantai Angsana, pantai Sungai Lembu, Pantai Pagatan, Pantai Madani dan Pantai Rindu Alam yang terkenal keelokannya. Diluar pantai, ada Goa Liang Bangkai, Education Park, Pulau Sewangi, wisata air terjun Mandin Damar Desa Gunung Raya, air terjun Selilau 1 dan 2 Desa Emil Baru, air terjun Batis Langupan, dan air terjun Jombang.

“Untuk seni budaya, kami sangat kaya. Ada seni yang sangat terkenal yakni Budaya Melasti. Selain itu kami punya tari Mappakaraja, tari Sinoman Hadrah, Japin Cerita , Japin Anak Delapan, Manada, tari Radap Rahayu, Masukkiri, Makkacapi, Kuda Lumping, Habsyi dan hadrah,” jelasnya.

Di Kabupaten Tanah Bumbu juga memiliki wisata religius seperti Makam Pangeran Syarif Ahmad Al Idrus, Makam Mufti H.M Arsyad Al Banjari “Kubah”, makam HM Saleh, makam Pangeran Muhammad Nafis dan makam Raja-Raja Pagatan serta Monumen Nasional.