Jatmiko at 10.51.27
Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Ketelan Jatmiko saat menjadi nara sumber di radio kesehatan Mentari

SOLO, MENARA62.COM – Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Ketelan merupakan salah satu hasil perjuangan para sesepuh persyarikatan Muhammadiyah. Pada usianya yang ke-84, sekolah tersebut berhasil menoreh banyak prestasi dan mendapatkan akreditasi A.

Demikian Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Jatmiko membuka kegiatan dialog interaktif di Radio Kesehatan Mentari FM sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan dialog interaktif yang bertajuk ‘Mendidik Generasi Unggul Berakhlak Mulia, Menguasai Teknologi dan Budaya”, selama satu jam, Jum’at, (19/7/2019).

Berdiri sejak tahun 1935, SD Muhammadiyah 1 Ketelan merupakan sekolah Muhammadiyah tertua di Solo. Memasuki usia yang ke- 84 tahun, sudah berkembang dan mengalami kemajuan menandai dengan berbagai torehan prestasi.

Di antaranya, menjadi Sekolah Dasar Swasta Rujukan (SDSR) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Sekolah Model Pembelajaran Inovatif Berbasis Teknologi Informasi, mengambil sumber dari rumah belajar Pustekkom, Sekolah Unggul Versi Pimpinan Wilayah Jawa Tengah, Sekolah Percontohan Pelaksanaan Program Simpanan Pelajar Kartu Identitas Anak berdasarkan Keputusan Walikota Surakarta Nomor : 421/28.6 Tahun 2018, Sekolah Adiwiyata, Sekolah Sehat, dan Sekolah Budaya.

“Kita tidak bisa menghindar dari perkembangan teknologi dan informasi. Siswa harus diperkenalkan teknologi yang berkembang. Anak-anak bisa memanfaatkan teknologi untuk sesuatu hal yang berguna, tanpa melupakan karakter mereka sebagai orang Islam dan nilai-nilai budaya bangsa,” jelas Jatmiko.

Menyadari betapa pentingnya pengenalan budaya kepada generasi anak bangsa, sekolah lanjutnya, sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan budaya bangsa.

Menurutnya generasi kekinian di era industri 4.0 harus dikenalkan budaya bangsa yang semakin hilang ditelan jaman. Budaya bangsa harus terus dilestarikan. Jangan sampai generasi penerus tidak tahu kebudayaan bangsanya sendiri.

“SD Muhammadiyah 1 harus menjadi sekolah rujukan budaya. Meskipun kami sekolah agama (Muhammadiyah) tapi tetap nguri-nguri budaya. Dari budaya kita bisa memberikan pembelajaran terutama pembelajaran budi pekerti. Banyak hal yang bisa kita lakukan dari kebudayaan,” paparnya.

Satu hal lagi yang menjadi ciri khas, ialah pembelajaran tentang kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa di dididik agar bisa menjaga lingkungan hidup yang bersih, lestari, dan sehat.

Untuk para siswa kami berharap agar mereka menjadi anak-anak yang sukses dengan berpondasikan pada akhlakul karimah. Tiga hal yang ditekankan sekolah kepada para siswa yaitu, sholat, mengaji, dan patuh serta hormat kepada guru dan orang tua. Tiga hal ini menjadi modal sukses siswa Muhammadiyah di manapun.

“Anak merupakan asset yang harus kita jaga. Di era teknologi industri yang semakin maju ini anak-anak harus mendapat Pendidikan yang bisa mengarahkan mereka. Jika tidak kita akan kehilangan asset, karena anak-anak kehilangan karakter dan tidak bisa memanfaatkan kemajuan teknologi yang dengan baik,” pungkasnya.