Bisnis Sarapan
Bisnis Sarapan

Hampir satu jam saya nongkrong di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, pagi ini. Gara-gara sepeda motor saya kegaruk petugas di Gelora Bung Karno dua hari lalu, saya numpang mobil istri yang kantornya di Passer Baroe. Bersebelahan dengan stasiun.

Saya ada agenda meeting pagi di kantor partner bisnis saya: ACiS, penyedia solusi digital. Di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Tapi jadwal meetingnya masih lama: pukul 09:00. Dua jam lagi. Maka saya nongkrong dulu di stasiun. Sambil lihat-lihat apakah ada yang bisa menjadi inspirasi.

Di ujung jalan Juanda, seorang Pedagang minuman cappuccino jelly sibuk melayani pembeli. Ada lima orang anter. Satu pembeli pergi, satu pembeli baru datang. Laris. Segelas dijual Rp 5.000. Mau yang hangat atau pakai Es sama saja.

Tak jauh dari situ ada beberapa wanita paruh baya buka dagangan. Ada jajan pasar. Ada nasi rames dan nasi uduk. Laris juga.

Pembelinya para penumpang commuterline yang baru keluar dari stasiun. Mereka bisa dipastikan orang-orang yang bekerja di Jakarta tetapi tinggal di luar kota: Bogor, Cikarang, Banten.

Saat menulis naskah ini Jam menunjukkan pukul 07:00. Berarti mereka berangkat dari stasiun awal sekitar pukul 06:00. Dari rumah masing-masing mungkin pukul 05:00 atau 05:30.

Pasti mereka belum sempat sarapan. Karena itu dagangan sarapan di luar stasiun itu sangat laris. Bahkan pedagang nasi uduk sudah mengemasi meja. Ludes. Katanya hari ini menjual 150 porsi.

Bisnis sarapan pagi sepertinya bisa menjadi peluang bisnis di sekitar stasiun. Pangsa pasarnya adalah para penumpang commuterline dari pinggiran Jakarta yang tak sempat sarapan.

Tiba-tiba saya ingat Coach Lambang Saribuana. Sohib saya yang tinggal di Manggarai. Tak jauh dari stasiun transit terbesar di Jakarta itu.

Beberapa bulan lalu, kami sempat mendiskusikan sebuah gagasan membuat bisnis sarapan sehat untuk penumpang commuterline. Tapi ide itu mandek. Belum menemukan konsep produk yang tepat: murah, sehat, bergizi dan siap saji.

Anda sudah menemukan idenya?